AIR TERJUN 7 BIDADARI
Semenjak kehilangan satu kaki di tahun 2009, banyak hal yang berbeda sudah mulai saya rasakan. Seperti hobi dimasa masih sempurna kini sudah tidak bisa lagi merasakannya, berpetualang, main bola, lari di pagi hari dan masih banyak hal lain yang sudah berubah. Apa lagi di awal-awal semua ini terjadi, segala hal yang saya lakukan harus banyak bantuan dari orang sekitar, mandi, makan, dan bahkan ketika mau buang air besar pun harus di bantu oleh orang rumah karena tidak mampu mengangkat air dari sumur ke wc.
Tapi lama-kelamaan pun kini semua sudah terbiasa dengan fisik yang saya miliki sudah tidak mengharap kan lagi pertolongan dari mereka karena memang saya merasa sudah bisa lakukan sendiri, bukan berarti tidak butuh mereka namun ada saatnya saya harus mandiri karena tidak selamanya mereka bisa membantu saya dalam segala urusan.
Saya tidak mau ada orang luar yang berbicara tentang saya yang memang di bilangnya anak manja karena segala semua nya harus di bantu. Tapi sekarang saya sudah bisa membuktikan itu kepada mereka semua kalau memang saya bukan seperti itu, saya bisa melakukan semua nya disaat mereka bilang aku tidak bisa.
Tahun 2016 saya melakukan pertulangan setelah kehilangan kaki ini, bersama kawan-kawan kampus berpetualangan ke Air Terjun 7 Bidadari, Aceh utara. Butuh waktu 3 jam dari kota Lhokseumawe meneju Geuredong Pasee yang memang air tersebut terletak di perdalam Geuredogn pasee, tapi ketika sampai disana kami bukan berarti langsung bergerak menuju air terjun namun kami butuh waktu istirahat sebentar dan makan agar kami kuat dalam melangkah karena memang dari lokasi tempat kami parkir menuju air terjun harus berjalan kaki selama 6 jam baru sampai disana.
Kala itu saya tidak percaya bahwa melakukan itu semua dengan naik turun bukit, sunggai yang memang deras untuk orang seperti saya sehingga setiap saya melewati sunggai selalu ada kawan yang jaga agar tongkat saya tidak masuk ke lobang-lobang di dalam air sunggai. Mulai dari pertama berangkat kami menjemput nya dan sampai kami bergerak dia seolah-olah menjadi pengawal pribadi saya, yaitu salah seorang yang kini sudah sukses dengan Dsound nya sebuah aprisiasi besar dari saya untuk dia karena sudah pernah menjadi salah orang yang mengsukses kan aku dalam berpetualangan ke air terjun ini.
anak perantuan dari padang juga ikut merasakan kesejukan dan keindahan salah satu pesona alam dari Aceh utara, kawan satu di semester satu dan juga kawan sekamar kos dari dulu sampai sekarang sudah menjadi mahasiswa kadaluarsa. Salah satu perjuangan besar juga di lakukan oleh
karena yang menjadi ingatan saya sampai sekarang yaitu ketika dia tertinggal jauh waktu kami berngkat pulang, semua anggota mulai panik karena cuaca sudah mulai hujan. Setiap orang yang lewat kami tanyakan pada mereka apa ada melihat kawan kami dan ternyata dari jawaban dari mereka kalau si
turun bukit COT BUI GRAH (bukit babi lelah) dengan cara melesot sehingga celana terkotori oleh tanah merah yang sudah di basahi hujan.
yang punya banyak cerita untuk memecah kan suana, mungkin bisa saya katakan dia bisa diam pada saat sedang lapar atau pun ketika sudah tidur, tapi setelah itu kembali lagi dia bercerita tentang hal yang membuat kami tertawa. Kelelahan sangat terlihat dengan jelas di wajah kawan saya yang bernama
seorang photographer yang jarang ada foto, dan dia menjadi pahlawan bagi saya karena dengan ada dia setiap momen penting ketika melakukan pertualangan ini selalu berhasil di abadikan dengan kelihayan cara dia mengambil foto.
GUNUNG BURNI TELONG
Jangan mengeluh ketika mendaki karena di puncak tidak menyimpan cerita sedih, itu kata-kata motivasi dari salah satu senior saya ketika mendaki salah satu gunung tertinggi di Aceh, dengan ketiggian 2670 MDPL menjadi salah satu momen terpenting dalam hidup ini, capek,lelah dan bahkan sampai mau menangis tapi semua itu terbayar ketika saya merasaka kesejukan samudera di atas awan.
Aceh utara tanah kelahiran, tapi Tanah Gayo memberi saya kesadaran kalau kehidupan ini memang harus tetap berjuang tak perlu mengeluh dengan keadaan karena masih banyak diluar sana yang memiliki kekurangan jauh dari mu.
Tiba di tempat pendaftaran sempat dilarang karena memang sudah pernah difabel lain yang sudah pernah mencoba tapi dia gagal, namun dengan rayu merayu para penjaga dan buat mereka yakin dengan menampaki beberapa foto saya berpetualang di daerah lain. Setelah di beri izin kami semua baca doa dan di kasih arahan oleh para senior kalau ketika melakukan pendakian jangan di paksa, jika memang sudah capek maka istirahat dan jangan sampai ada yang tertinggal di dalam hutan.
Puncak gunung Gayo kau menjadi sejarah terpenting dalam hidup ini, kau mengajari saya yang namanya perjuangan dan bahkan perjuangan itu bukan pada saat mendaki saja. Tapi juga perjuangan ini lebih ketika turun, cuaca yang sangat dingin, gerimis mulai pun mulai ikut bersama kami turun sehingga suhu kedinginan sangat terasa. Apa lagi saya yang memang waktu turun tidak bisa menggunakan tongkat, melain kan dengan cara merangkat perlahan demi perlahan sampai sekitar 5 KM, dan itu sangat melelah kan.
Hal yang luarbiasa saya rasakan ketika turun dari gunung pada saat sampai pos Rangger, mereka sudah menanti saya turun dan satu persatu dari mereka menyalami tangan ini dengan mengatakan selamat. Karena memang saya orang pertama dengan satu kaki dari Aceh yang telah berhasil buat rekor di Gunung Burni telong, karena memang gunung ini menyimpan banyak kisah dan sejara bagi mereka.
Susah-susah gampang bagi saya untuk bisa ke puncak, karena ada beberapa pendakian harus naik pakai tali, apa lagi di tali terakhir yang dekat goa. Karena selain menggunakan tali, tebing itu kalau seandainya saya jatuh bisa saja sekarang ini cerita nya berbeda, bisa saja cerita atau berita yang beredar di sosial media lain yaitu tentang kematian bukan tentang kesuksesan pertualangan saya.
Setelah melakukan dua pertualangan itu sudah banyak pertualangan lain saya lakukan, mengekpos tempat-tempat yang memang menurut saya itu indah. Mulai dari Krueng Pasee Aceh utara, Waduk Keuruto, Waduk Buloh, Lembah Perawan dan masih banyak lain yang ingin saya lakukan.
Yang menjadi lebih semangat bagi saya yaitu tentang bagaimana kita berkawan dengan alam dan bagaimana kita menjaga alam. Bukan bagaimana kita menikmati hasil alam.
Tapi ada beberapa keinginan yang belum terpenuhi di dunia adventure saya ini, yaitu memanjat tebing yang memang hal ini sudah sangat saya ingin kan. Dan bahkan pernah menawari saya untuk ikut nya pada hal yang akan dia lakukan kedepan yaitu arung jeram, bukan saya menolak hal itu. Namun saya ingi mewujudkan cita-cita saya terlebih dahulu yaitu manjat tebing.