Hai Steemians....
Bagi steemian yang sering atau pernah melewati atau singgah di Saree tentu tidak asing dengan oleh-oleh khas kota Saree, sebuah kota kecil yang sejuk. Berbagai olahan ubi dan ketela atau ubi jalar bisa ditemui di sini. Ubi kayu atau singkong biasa diolah menjadi tape dan kripik, sedangkan ketela atau ubi jalar diolah menjadi kripik dan cakar ayam. Ketela ini pun ada beberapa jenis, ada yang kuning, ungu dan ungu kehitaman. Jika sahabat steemian menuju Banda Aceh dari arah Medan, setelah mendaki Seulawah dan memasuki kota Saree tampak berjejer pondok-pondok di sebelah kanan yang menjual kripik, tape dan berbagai kue khas Aceh. Sampai di Kota Saree, pondok-pondok dan toko semakin banyak dan ramai, beberapa ibu menjunjung baskom berisi dagangan berupa jagung dan kacang rebus. Di sini juga terdapat beberapa warung makan yang menjadi tempat persinggahan minibus penumpang untuk makan siang. Melewati kota Saree jalan mulai menurun dan memasuki hutan pinus yang rapi menjulang. Sebelumnya, pondok-pondok penjual kripik masih berderet di kanan dan kiri jalan. Namun ada yang berbeda, sebagian besar pondok di sini dilengkapi dengan tungku dan wajan besar, pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan karena kripik digoreng di tempat.
Salah satu pondok yang ramai disinggahi adalah pondok kripik Cek Sam. Setahu saya, Cek Sam ini termasuk yang pertama berjualan di sini dengan sistem goreng di tempat, pembeli dapat mencicipi langsung kripik yang masih hangat. Dulu pondok Cek Sam sama dengan pondok-pondok lainnya, kecil dan dibangun dari kayu, di sampingnya ada tungku dan wajan besar untuk menggoreng kripik. Pengemudi minibus umum sering singgah di sini jika ada permintaan dari penumpangnya. Cek Sam sangat ramah melayani pembeli dan selalu memberi bonus untuk supir dan pembeli.
Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman pulang dari Banda Aceh dan tiba di Saree kami singgah di sini, sudah lama saya tidak mampir karena selama ini lebih sering menempuh perjalanan di malam hari. Saya kaget melihat perubahan Cek Sam, kiosnya sudah luas dan permanen, di bagian belakang sudah ada warung makan dan mini market. Halamannya luas, cukup untuk parkir beberapa mobil. Plastik-plastik besar berisi berbagai macam jenis kripik berjejer rapi.
Pengunjung ramai malam itu, rata-rata mereka membeli sekilo hingga dua kilo kripik yang dibagi dalam beberapa wadah plastik. Pembeli bebas mencicipi kripik yang masih hangat dan renyah. Di sampingnya beberapa orang pekerja sibuk menggoreng kripik dalam wajan besar.
Saya membeli sekilo kripik ubi jalar kuning dengan harga 50 ribuan, rasanya gurih, manis dan renyah, lebih enak dibandingkan ubi jalar ungu. Cek Sam memberi bonus kripik dalam wadah plastik untuk semua pembeli, katanya untuk dimakan dalam perjalanan.[]
Lhoksukon, 7 Januari 2019
Tekan di sini untuk bergabung dengan server arTeem di Discord.