Selamat malam sahabat stemit semua!, semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat, dan senantiasa dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Aamiiin..
Pada kesempatan ini saya ingin melanjutkan cerita perjalanan saya ke Pulau Langkawi beberapa waktu lalu, yang merupakan hari terakhir saya berada di Pulau Langkawi yang penuh dengan bebagai keindahan panorama alam, gugusan pulau-pulau yang penuh dengan sejarah dan mitos. Nah, diantara sekian gugusan pulau dilangkawi, kami memilih untuk mengunjungi Pulau Dayang Bunting atau Tasik Dayang Bunting. Karena pulau ini merupakan pulau kedua terbesar setelah pulau langkawi. Alasan lain kami memilih pergi ketempat ini adalah pertama faktor penasaran mengapa pulau memiliki nama yang begitu eksotis di indera dengar kami, yang kedua adalah karena biaya paling murah diantara lainnya, dan yang ketiga menurut penduduk disini pulau ini memiliki sejarah sehingga pulau ini menjadi salah satu objek wisata pilihan di Pulau Langkawi.
Cara mudah untuk bisa mengunjungi tempat ini kita bisa menggunakan jasa Tourist Traveling dengan cara mendaftarkan diri kita ke post-post atau jasa touris traveling yang berjejeran di sepanjang jalan pantai cenang ini. Tak perlu banyak memilih karena harga perpaketnya semua sama, karena saya sudah menanyakannya kebebrapa jasa traveling disana, maklum hari terakhir uang tinggal sedikit jadi harus survey harga dulu; hehehe.
Perjalanan dari penginapan ke dermaga speed boat akan diantar oleh pihak pemilik jasa dengan menggunakan minibus pada waktu yang telah ditentukan. Sesampai di dermaga pastikan stiker kita masih menempel erat di baju/kaos kita, karena disini akan diambil alih oleh pekerja lain yang masih satu toke, dia akan mengecak kembali peserta yang akan dipandunya hingga ke pulau dayang bunting, feeding eagle dan pulau beras basah, ketiga pulau ini lah yang akan kami kunjungi, karena ketiga pulau ini termasuk dalam ISLAND HOPING PACKET yang kami daftar kemarin sore. saat melintasi jembatan menuju dermaga speed boat disini ada seorang pekerja yang akan mengambil gambar kita yang kami fikir hanya untuk dokumentasi mereka saja, saya pun tak tanggung tanggung langsung beraction karena saya termasuk kategori PAGITO (pemuda gila foto) hehehe. Rupanya foto kami ini dijadikan sebuah cinderamata yang boleh kita bawa pulang nanti tapi tetap harus bayar RM 10.00 (sepuluh ringgit), namanya juga orang mencari rezeki dan menurut kami ini tidak mahal.
Sekarang kita orang dah boleh Nampak pulau dayang bunting, tengok baek-baek, tengok daripada ujung kanan kite rang tu, kepale, pastu dada pempuan, pastu perut yang nampak cam bunting tu, aaa kakinya pulak taklah nampak sangat, aaa cem mana korang dah nampak?nampak? Tanya pemandu boat kami. Ok kang kita teruskan pi pulau tu, ok? Ok jawab kami
(bahasa Melayu)
Sekarang kita sudah bisa melihat dengan jelas bentuk dari Pulau Dayang Bunting. Perhatikan baik-baik, lihat dari ujung kanan kita, Nampak seperti kepala, kemudian ada bentuk dada dan perut wanita yang sedang mengandung. Sedangkan kaki tidak terlihat begitu jelas, nah bagaimana kalian sudah bisa melihatnya? Sudah? Baik, kita lanjutkan perjalan sampai ke Pulau itu, Ok? Ok jawab kami. (bahasa Indonesia)
Yang kami ragukan sedikit si orang Pakistan yang duduk dibagian depan apakah mereka mengerti apa yang dijelaskan oleh pamndu boat tadi? Sebab pemandu kami tidak menjelaskan dalam bahsa urdu atau bahasa inggri, entahlah… Kemudian perjalanan kembali diteruskan menuju Pulau Dayang Bunting.
Menurut cerita salah satu pengunjung yang satu rombongan dengan kami
Dulunnya disini pernah hidup sekelompok manusia dibawah perintah seorang raja, dan raja tersebut memiliki seorang anak laki-laki bernama Mat Teja yang jatuh cinta pada seorang perempuan yang bernama Mambang Sari, lalu menikah Mambang Sari hamil dan melahirkan seorang anak yang kemudian meninggal pada usia tujuh hari, lalu Mambang Sari menguburnya didalam danau air tawar yang berada ditengah-tengah pulau dayang bunting ini.
Sementara menurut rumor yang beredar di internet ceritanya berfariasi, salah satunya
Dikisahkan seorang putri kayangan bernama Mambang Sari memiliki paras yang cantik jelita. Sang putri sangat suka dan gemar sekali bermain dan mandi di danau ini. Hingga suatu waktu seorang raja bernama Mat Teja lewat di sekitar danau dan melihat sang putri. Melihat kecantikan sang putri, Mat Teja langsung jatuh hati kepadanya. Segala upaya dilakukan sang raja untuk menaklukkan hati sang putri, namun upaya itu tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang guru sakti, yang menyarankannya agar membasuh wajahnya dengan air mata putri duyung. Singkat cerita, berkat saran guru sakti tersebut putri Mambang Sari pun takluk kepada Mat Teja, dan mereka pun menikah. Dari pernikahan tersebut, putri Mambang Sari melahirkan seorang anak, sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Buah hati mereka meninggal dunia di hari ketujuh setelah kelahirannya, disebabkan penyakit misterius yang diderita sang anak. Dengan kesedihan yang mendalam, sang putri meletakkan jenazah anaknya di dalam danau ini, lalu ia kembali ke kayangan. Menurut masyarakat setempat, sebelum sekembalinya sang putri ke kayangan, ia membacakan mantera pada danau ini sebagai penawar bagi pasangan yang belum memperoleh keturunan/anak. Sumber dari internet
Nah, begitulah sejarah dan sepintas mitos tentang keberadaan Pulau Dayang Bunting ini, namun terlepas dari itu semua, jika dilihat dari kejauhan atau sebelum memasuki ke dalam pulau ini maka tampaklah sebuah bukit yang melintang persis seorang wanita hamil yang sedang berbaring, ada kepala, dada dan perut, Persis seperti yang diceritakan oleh pemandu boat kami tadi dalam logat melayunya.
Terlepas dari sejarah dan mitos-mitos tersebut pulau ini memiliki panorama alam yang indah, udaranya yang sejuk dan air danaunya yang bersih, dingin dan juga segar, didalam danau ini juga hidup beberapa jenis ikan air tawar seperti lele mujair dan beberapa jenis ikan air tawar lainnya, namun yang sering muncul kepermukaan hanya jenis ikan lele dan mujair, ikan ini terlihat kepermukaan saat ada orang yang melempar makanan seperti roti kedalam danau.
Demaga kecil Dayang Bunting Marble
Setelah menempuh perjalanan jauh ini akhirnya kami pun sampailah di Danau Air Tawar / Tasik Air Tawar Dayang Bunting itu, danau ini dikelilingi oleh bebukitan yang rimbun dengan pepohonannya, sehingga menyejukkan pandangan, dan memberi rasa kenyamanan selama berada disini, disini juga ada jasa yang menyewakan jaket pelampung untuk berenang jika sekiranya diperlukan oleh pengunjung yang kurang mahir dibidang renang, jaket keselamatan sebutan orang disini, jaket ini disewakan seharga RM 5.00 (lima ringgit) per jaketnya, dan bisa dipakai sepuasnya sampai. Bagi yang tidak suka berenang ada juga disediakn boat dayung, tapi harganya sedkit lebih mahal yaitu RM 30.00 (puluh ringgit) per boat dan bisa pakai sepuasnya untuk mengelilingi danau ini.
Kami menghabiskan waktu selama satu jam di danau ini, kemudian kami kembali kedermaga untuk mengunjungi pulau lain, dalam perjalanan pulang saya tidak ingin membuat monyet-monyet itu kembali putus asa seperti waktu kami pergi tadi, saya pun membeli beberapa makanan ringan (potato) untuk kami berikan untuk monyet monyet sepanjang jalan pulang.
Island Feeding Eagles/Pulau Memberi Makan Elang
Pulau Beras Basah/Wet Rice Island
Setelah puas berenang lalu kami beristirahat sejenak sambil menunggu jemputan sang pemandu speed boat, dalam perjalanan pulang dari pulau pantai beras basah ini boat melaju kencang, karena robongan lainnya sudah menunggu giliran didermaga sana. Dan sekarang kami sudah sampai di dermaga, disinilah kami tahu bahwa foto yang diambil sewaktu pergi tadi dijadikan sebuah kenang-kenangan berupa sebuah piring hiasan kecil yang bisa kita beli dengan harga RM 10.00 saja.
Itulah cerita hari terakhir perjalanan kami ke Pulau Langkawi selama dua hari, semoga menjadi referensi bagi sahabat yang ingin berkunjung ke Pulau Langkawi-Malaysia.
Tepat azan dhuhur berkumandang kami pun sampai di penginapan, kami langsung mandi, sholat dan makan siang, lalu kami bergegas check out dan pulang ke Kuala Lumpur.