Bukan hanya terampil berenang, tetapi bahkan mampu mencari makan sambil menyelam. Jenis hewan ternak ini telah beradaptasi dengan bentang alam (lansekap) alami di ekosistem rawa lebak yang nyaris selalu tergenang sepanjang tahun.
Nama resminya, Kerbau Pampangan. Satu dari tujuh kerbau asli Indonesia. Nama Pampangan berasal dari nama kecamatan dimana kerbau ini banyak dibudidayakan. Di antaranya di desa Kuro, Bangsal, Pulau Layang, dan desa Pampangan sendiri.
Sebagaimana pola peternakan tradisional di banyak wilayah Nusantara, hewan ternak ini lebih banyak dipiara sebagai “tabungan”. Bukan seperti pada peternakan modern yang dikhususkan untuk hewan potong rutin atau usaha perah susu.
Rata-rata, para peternak kerbau rawa Pampangan hanya menjual kerbau setahun sekali. Biasanya bertepatan dengan kebutuhan Idul Fitri atau untuk kurban di Idul Adha. Kerbau rawa juga diperah susunya, tetapi tak banyak, supaya tak mengganggu kebutuhan yang lebih berhak; anak kerbau.
Di wilayah Pampangan, susu kerbau diolah menjadi aneka produk turunan. Ada gulo puan (semacam karamel susu), sagon puan (karamel dengan tambahan telur), penjeum (semacam yoghurt), dadih (semacam mentega), dan minyak sapi (minyak goreng). Produk yang disebut terakhir, meminjam nama sapi, tapi murni hasil olahan susu kerbau. Kerbau punya susu, sapi punya nama. Minyak sapi ini paling enak untuk digunakan dalam membuat nasi minyak atau nasi samin khas Palembang.
Hal terpenting dalam budaya beternak kerbau rawa adalah fungsi sang kerbau dalam daur agroekologi lokal. Hewan ternak bernama latin Bubalus bubalis carabanesis berperan sebagai penjaga kesuburan alami. Contohnya, di desa Kuro dan Bangsal. Desa kerbau rawa yang paling kerap saya kunjungi.
Kerbau memiliki kebiasaan unik. Mereka tak mau kembali masuk ke kandang yang kotor. Hanya mau kembali ke kandang yang bersih. Karena itu para pemiara ternak atau disebut anak kandang rajin menjaga kebersihan kandang.
Selepas subu, mereka akan bekerja membersihkan kandang dari kotoran kerbau. Dengan sekop kotoran yang tersebar di lantai kandang diangkat dan ditumpukkan ke punggung kerbau. Barulah pintu kandang dibuka dan kerbau digiring ke wilayah penggembalaan.
Sepanjang perjalanan dari kandang ke wilayah penggembalaan, iring-iringan kerbau rawa akan melintasi rawa. Berenang, kadang menyelam. Perlahan, kotoran ternak di punggungnya akan tercuci. Larut, dan menyebar. Memperkaya kandungan hara di wilayah perairan. Menyuburkan bentos. Menghidupkan ikan-kan. Kelak ketika rawa mengering, terciptalah lahan subur yang siap ditanami. Yang memungkinkan para petani di desa ini menanam padi tanpa pupuk sama sekali.
Daur hara yang dibantu oleh hewan ternak ini menjaga kesuburan alami di desa Kuro dan Bangsal.