Pada tanggal 26 November 2016 yang lalu sejumlah sastrawan dari berbagai daerah mengadakan suatu acara di kota Takengon Aceh. Acara tersebut merupakan rentetan acara yang diawali dengan pembuatan buku antalogi bersama yang diberi judul Puisi Kopi 1550 mdpl.Kenapa mengambil tema tersebut?
Karena daerah Takengon yaitu tepatnya Gayo merupakan daerah penghasil kopi terbanyak di daerah Aceh. Dan hasil produksinya diolah menjadi bubuk kopi yang bercita rasa luar biasa enak dan legendaris. Dan didistribusikan sampai ke luar negeri. Bahkan di kota-kota besar Indonesia tersebar beberapa kedai atau kafe yang berlogo Kopi Aceh.
foto koleksi pribadi
Acara peluncuran buku Puisi Kopi 1550 mdpl itu diluncurkan di sebuah hotel di Kota Takengon Aceh Tengah,Provinsi Aceh yang bernama Hotel Renggali. Hotel itu dibangun sekitar tahun 1980 an. Tapi ketika konflik tahun 1990-2000 an hotel itu sepi. Kemudian hotel itu dijual kepada pengusaha lain lalu dioperasikan kembali hingga sekarang.
Yang menarik dari hotel Renggali ini adalah di belakangnya terdapat suatu pemandangan alam yang luar biasa indah. Yang membuat semua mata takjub memandang hingga tidak berkedip. Dan merasa nyaman serta sangat tenang ketika kita berada di lokasi itu. Pemandangan alam itu disebut Danau Lut Tawar itu bahasa Gayonya. Dan Danau Laut Tawar bahasa Indonesianya.
Danau Laut Tawar adalah nama yang diberikan oleh suku asli Gayo. Dengan luasnya 5742 hektar. Kalau kita lewat dengan menggunakan Heli Danau Laut Tawar terlihat seperti hamparan permadani berwarna biru. Mirip seperti sisa-sisah air laut yang terjebak di daratan saat terjadi badai besar ribuan tahun yang silam. Sampai saat ini belum ada kejelasan kenapa Danau ini dinamakan Danau Laut Tawar. Mungkin karena begitu luasnya seperti laut tapi airnya tidak asin alias tawar.
Saat cuaca lagi bagus dan kabut menyelimuti Danau Laut Tawar ini kita bisa melihat pesonanya sambil menikmati gemercik suara air yang mendamaikan. Serta memandang pemanandangan pegunungan yang bediri kokoh dan ditumbuhi hutan yang cukup terpelihara dan belum pernah terjamah. Konon sejumlah satwa langka seperti Trenggiling, Landak, Siamang, Kijang, Kicing Hutan dan Harimau masih tinggal di sana. Selain duduk-duduk santai di tepian Danau sambil menikmati Kopi Gayo yang legendaris itu kita bisa mengelilingi Danau Laut Tawar itu dengan menggunakan perahu motor. Bersepeda atau memancing. Dan kita bisa memanjakan mata kita dengan melihat ikan Depik yaitu satwa air endemik yang menghuni Danau Laut Tawar. Ikan depik ini mirip ikan Teri. Tubuhnya mungil dan berwarna warni. Kalau digoreng kering terasa gurih dan renyah. Pasti membuat kita ketagihan untuk mencicipinya. Dan ini juga merupakan salah satu oleh-oleh khas Gayo. Biasanya ikan Depik ini akan muncul dari persembunyiannya pada bulan Agustus di perairan Danau Laut Tawar yang menjorok ke Gunung Kelieten. Kalau kita ingin berwisata ke Danau ini pastikan kita bisa dimanjakan dengan pemandangan ikan-ikan Depik itu yaitu pada bulan Agustus.
Danau Laut Tawar juga menyimpan berbagai misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini. Salah satunya adalah Legenda Putri Ijo. Yaitu makhluk halus penunggu Danau tersebut. Konon katanya berwujud seperti Putri Duyung. Dan Legenda yang tidak kala bikin merindingnya adalah Lembide. Yaitu penunggu Danau Laut Tawar konon doyan penghisap darah manusia. Warga sekitar percaya kalau Lembide menghisap orang sedang berenang. Hampir setiap tahun selalu ada korbannya. Dan ditemukan dalam kondisi kehabisan darah seperti digigit. Satu lagi yang gak kalah heboh yaitu penemuan bom aktif di kedalaman 18 km di Danau Laut Tawar. Dan diduga peninggalan penjajah Belanda pada masa itu. Pengangkatan bom tersebut hingga kini belum berhasil. Konon katanya penunggu Danau tersebut menginginkan kalau bom itu tetap berada di dalam Danau tersebut.
Hikmah dibalik ke tiga kisah mistis tersebut adalah jangan coba-coba berenang terlalu jauh dari tepi Danau Laut Tawar kalau kita tidak bisa berenang. Karena kedalaman Danau Laut Tawar memiliki kedalaman yang berbeda-beda dan suhu yang berbeda-beda pula.
Makhluk halus haus darah penghuni Danau Laut Tawar bisa jadi karangan orang jaman dulu agar anak-anak kita tidak terlalu jauh bermain di tepian danau. Dan yang tenggelam juga kemungkinan wisatawan yang datang dari luar Takengon hingga tidak mengetahui karakter danau. Lalu bekas gigitan hewan bertaring mungkin aja gigitan nyamuk.
So, tidak usah takut untuk berkunjung ke sini. Karena kalian akan merasa damai setelah sampai di sini dan tidak akan rugi serta akan menyesal. Bahkan kalian akan ketagihan ingin terus mendatanginya.
Cara untuk bisa sampai ke lokasi yaitu kalau berasal dari luar Aceh kita bisa naik pesawat dari kota asal kita. Kemudian mendarat di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh. Terus dari Bandara kita bisa naik angkutan umum atau Bus. Atau bisa juga naik travel atau taxi online menuju Takengon dengan jarak tempuh sekitar 8 - 9 jam. Atau bisa juga lewat Kota Medan dengan jarak tempuh sekitar 3 - 4 jam saja.
Yuk teman-teman segera booking pesawat dan nikmati wisata Danau Lut Tawar pada akhir pekan anda. Atau pada saat liburan keluarga.