Tsunami yang terjadi di Aceh pada hari minggu 26 Desember 2004 adalah bencana alam terbesar yang pernah menimpa Aceh, Indonesia dan bahkan dunia. Lebih dari 280 juta penduduk dinyatakan meninggal dan hilang serta kehilangan tempat tinggal. Mereka yang meninggal ada yang karena tertimpa gedung runtuh gempa dan ada yang karena gelombang tsunami yang diperkirankan tingginya mencapai 10 m. Kejadian ini menimbulkan korban jiwa di 14 negara Sri Lanka, India, Thailand, Malaysia, sampai ke Kenya di Afrika. Tsunami ini diawali oleh gempa tetonik yang berkekuatan 9,0 skala Richter pada pukul 07.58 WIB dan tsunami terjadi 30 menit kemudian yaitu sekitar pukul 08. 20 WIB. Para ahli memperkirakan bahwa gempa besar seperti ini akan terjadi 100 tahun lagi.
Masjid Baiturrahim Ulee Lheue Kokoh Berdiri
Saya dan istri pulang ke Aceh dari Bogor pada bulan Juli 2004, sebelumnya tinggal di sana karena melanjutkan pendidikan magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya tinggal di Tumpok Teungoh, Lhokseumawe karena lebih dekat dengan tempat mengajar, Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh (Unimal). Pada saat itu Unimal masih menerima mahasiswa yang sudah bekerja dan mereka kuliah pada hari tidak masuk kantor yaitu hari sabtu dan minggu.
Manyat ada dimana-mana pasca-Tsunami
Dua minggu sebelum tsunami terjadi, saya dan keluarga besar sudah membuat rencana untuk mengantar Bibi ke Bandara Sultas Iskandar Muda, Banda Aceh untuk naik. Berangkat dari Bungkaih Aceh Utara di rencanakan pada hari sabtu 25 Desember 2014 dengan menggunakan bus berpenumpang 30 orang. Tiga hari sebelum keberangkatakan, koordinator rombongan meminta konfirmasi apakah saya jadi berangkat atau tidak. Sebelum memastikan ikut atau tidak saya harus menghubungi teman, untuk menggantikan saya mengajar pada hari minggu. Namun apa dikata, ternyata teman tidak dapat dihubungi, telp tidak masuk dan sms tidak dibalas. Sehingga saya dan istri tidak jadi berangkat.
Hari minggu 26 Desember saya dan istri masih di rumah, belum ke kampus karena belum waktunya mengajar. Tiba-tiba terjadi gempa yang sangat dahsyat. Besar dan sangat mengerikan. Kami dan tetangga semua berhamburan keluar rumah dan berkumpul di tanah lapang yang jauh dari bangunan, tiang listrik dan pohon tinggi.
Gempa menimbulkan goncangan mahadahsyat. Tanah berbergerak dan menimbulkan bunyi sangat keras. Mengerikan sekali. Air kolam tumpah ruah, rumah begoyang hebat, tiang listrik dan pohon-pohon tinggi hampir-hampir tumbang. Kami semua harus duduk di tanah, tidak dapat berdiri. Semua orang panik, takut, dan anak-anak kecil banyak yang menangis. Orang dewasa mulutnya komat kamit, berdoa dan membaca ayat-ayat Al Quran.
Kapal Apung PLTD yang Terbawa Sampai ke Darat
Pascagempa terjadi, listrik padam dan komunikasi terputus. Kami tidak tahu apa yang terjadi di daerah lain. Apakah gempa ini hanya terjadi di Lhokseumawe? Kira-kira satu jam kemudian, listrik baru menyala kembali dan kami mulai mencari-cari informasi. Informasi pertama kami dapatkan dari MetroTV, satu-satunya stasiun tv berita di Indonesia saat itu berupa adanya lima orang yg meninggal di Banda Aceh. Kami terus mengikuti perkembangan dari detik ke detik apa yang terjadi. Pada saat itu kami belum mengetahui adanya tsunami karena Lhokseumawe aman-aman saja, hanya terjadi air pasang. Informasi berikutnya baru kami tahu bahwa telah terjadi tsunami yang mahadahsyat di Barat Daya Aceh, dekat Pulau Simeulue.
Masjid Baiturrahman Banda Aceh Sesaat Setelah Tsunami Terjadi
Ternyata keluarga besar yang mengantar Bibi saya naik haji juga mengalami musibah yang sama. 11 orang dari rombongan dinyatakan meninggal dan hilang, jasadnya tidak pernah ditemukan. Satu orang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun berhasil ditemukan dan dibawa pulang, namun satu bulan kemudian meninggal dunia karena terlalu banyak terminum air tsunami yang hitam dan penuh lumpur. Satu lagi korban adalah bayi yang berumur dua tahun yang terjadi di Muara Batu Aceh Utara.
Martunis, Salah Seorang Yang Selamat dari Bencana Tsunami Aceh
Kehilangan 13 anggota keluarga pada saat yang bersamaan tentu menimbulkan duka yang sangat mendalam dalam pada keluarga kami. Namun jika dibanding dengan musibah yg menimpa keluarga lain di Aceh maka apa yang kami alami masih tergolong kecil. Orang lain ada yang tinggal sebatang kara karena orang tua, sanak keluarga, handai taulan dan teman-teman semua hilang. Belum lagi harta benda juga ikut hilang dalam waktu sekejab.
Ini adalah musibah terbesar yang pernah terjadi di alami Aceh, Indonesia dan termasuk juga dunia. Aceh dan Indonesia dapat segera bangkit karena ada bantuan yang sangat besar dari seluruh dunia dan juga masyarakat luar Aceh serta LSM yang bergerak dengan ikhlas. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan pemeritah punya sudah menyiapkan solusi terbaik agar korban jiwa dapat diminimalisir.
Terimakasih Aceh untuk Dunia.
Terimakasih Dunia, Plakat 53 Bendera Negara yang Membantu Aceh