Seminggu berlalu begitu saja, tidak ada yang istimewa tetapi masih berjalan wajar meski tidak bisa di sebut biasa-biasa saja.
Keadaan demikian disebabkan oleh PKA ( Pekan Kesenian Aceh) yang ke-7 kembali digelar. Handai taulan, sahabat, saudara baik yang jauh dan dekat menghubungi ku terlebih dahulu sebelum mereka bertolak kebanda Aceh.
Mereka singgah untuk sekedar mandi dan berganti pakaian, ada pula beberapa sahabat yang menginap. Saat malam tiba, kami memilih tidak tidur hanya untuk berbagi cerita, mengenang masa lalu, berandai-andai lalu tertawa cekikikan. Berbagai pengalaman kami ulas kembali dengan dalih menghibur diri serta menghabiskan waktu hingga pagi.
Saat mereka pergi ke TKP yang di helat di tiga titik tersebut, aku bertindak sebagai koki, menyiapkan makanan secara suka rela, tanpa di minta. Aku tau, keadaan disana padat merayap, sulit benar mencari makanan yang sesuai selera.
Tempat dimana PKA digelar tentu sangat meriah, tetapi penduduk asli Banda Aceh kurang tertarik untuk datang, mereka memilih tinggal dirumah dan malas ikut ambil bagian bermacet-macetan di jalan. Aku bukan penduduk asli, memiliki sedikit rasa penasaran. Sebabnya malam ke-3 PKA digelar aku tertarik untuk berkunjung, namun apa daya,macetnya luar biasa. Parkir roda dua dan roda empat memenuhi bahu jalan hingga kedepan kantor gubernur.
Akhirnya aku meneruskan perjalanan ke Blang Padang dimana pengunjungnya agak sedikit berkurang dibandingkan PKA pusat yang bertempat di Taman Safiatuddin. Benar saja, tidak begitu ramai, karena disana hanya ada stand biasa. Ya sudahlah, yang penting judulnya tetap PKA.