Foto: FAMe Bireuen
Bersama usai pertemuan ke-2 FAMe Chapter Bireuen, di Ruang Sidang AAC Ampon Chiek Peusangan
Sahabat steemian..
Siang ini saya akan berbagi informasi tentang pelatihan menulis yang saya ikuti Sabtu sore (21/4/2018) yang diselenggarakan Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen (pertemuan ke-2) dengan pemateri Bang , redaktur pelaksana Harian Serambi Indonesia. Pada pertemuan kedua ini, Yarmen menyuguhkan materi “Menghindari Salah Diksi dan Salah Nalar dalam Berbahasa Indonesia.”
Mengawali materi, Yarmen mengulang sedikit tentang kualitas suatu tulisan. Katanya, tulisan yang berkualitas paling tidak memiliki empat unsur utama. Di antaranya ide, bahan, teknik penyajian, dan bahasa yang digunakan. Ide yang baik harus didukung oleh bahan yang cukup, teknik penyajian yang bagus, dan menggunakan bahasa yang tepat, baik, dan benar.
Steemian yang berbahagia..
Terkait dengan materi pertemuan tadi, ada dua frasa yang menjadi fokus bahasan yaitu “salah diksi” dan “salah nalar” dalam berbahasa.
Selama ini banyak sekali kita jumpai kalimat yang salah diksi dan salah nalar, baik dalam buku, media cetak, media elektronik, dan sebagainya.
Lalu tahukan sahabat apa makna dari kedua frasa tersebut?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi V mengatakan bahwa diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).
Jangan sampai setiap kata yang kita pilih dalam merangkai kalimat asal saja sehingga efek yang diharapkan tidak terjadi, malah bisa membingungkan pembaca. Dan kondisi ini disebut dengan salah diksi.
Beberapa contoh kata yang paling sering digunakan, mulai dari pejabat negara, pejabat desa, hingga rakyat jelata, di antara nya kata geming, daripada, nuansa, pukul, jam, dini hari, dan lain sebagainya, penembah/ petembak, dan sebagainya.
Sementara nalar, masih menurut KKBI adalah pertimbangan tentang baik buruk dan sebagainya. Nalar bisa juga diartikan sebagai aktivitas yang memungkinkan seseorang untuk berpikir logis, jangkauan pikir dan kekuatan pikir.
Jadi salah nalar merupakan suatu kondisi di mana dalam berbahasa kita kurang bahkan tidak mempetimbangkan baik buruknya sesuatu keadaan yang akan terjadi sebagai akibat dari kesalahan kita dalam bernalar.
Contoh kata-kata yang paling sering digunakan tetapi salah nalar di antaranya kata-kata sarana dan prasarana, mengejar ketertingalan, membabi buta, dan lainnya.
Karena itu, seorang penulis (baca: wartawan, guru, dosen, atau siapa saja) harus memperhatikan penulisan yang baik dan benar dengan merujuk KBBI dan mengikuti Pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Bahasa yang sering digunakan dalam dunia jurnalistik yang mempunyai ciri tertentu, antara lain bahasanya singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, dan jelas serta sesuai dengan PUEBI tentunya.
dan bang
Demikain sahabat steemian, terima kasih FAMe Chapter Bireuen dan bang yang telah berbagi banyak ilmu tentang tulis-menulis. Semoga bermanfaat.