Pada dasarnya kita adalah makhluk yang sama, sama sama manusia yang terbuat dari tanah yand di ciptakan Tuhan, sama sama terjadi dari yang paling hina (mani) dan mulai terbentuk dari bulan ke bulan hingga menyerupai manusia dan lahirlah kita dari alam Ruh, alam Rahim dan alam dunia. Inilah kita yang semakin tumbuh dewasa dan terus menukik tua hingga menunggu masa kita akan kembali pada-Nya, bahkan kembali terlalu cepat tanpa ada satupun manusia yang mengetahuinya rahasia kematian.
Kehadiran kita dimuka bumi beragam, ada hitam dan putih, ada yang baik dan jahat, inilah keseimbangan dan apabila manusia diciptakan dengan wajah yang serupa adakah keindahan? Tidak, justru perbedaan adalah sebuah rahmat dan keindahan, kita hanya perlu mengimbangi atas segala Qudrah Iradah-Nya. Mengimbangi ekosistem segala sesuatu pola pikir pada manusia memang tak mudah, dalam hal ini sangatlah sulit dalam mengambil keseimbangan yang beragam cara pikir manusia. Oek Saban Hitam Pikiran Beda Beda.
Sang guru menjabarkan terlalu banyak, sehingga pola pikirnya pun tak sanggup di imbangi oleh muridnya, kendati demikian guru adalah pengalaman yang paling baik, yang mengajarkan apa yang telah dia ketahui kepada muridnya, sungguh guru yang bermurah hati, tak pernah menyimpan apa yang diketahui ketika murid bertanya dan selalu dijawab dengan penuh keikhlasan. Dia adalah murid yang baik, seperti kisah fiksi didalam film layar lebar yang akhirnya menjadi lawan.
Masa terus berlalu dari waktu ke waktu hingga murid sudah siap mandiri dan sudah banyak mengetahui akan ilmu yang dia pelajari, akhirnya pergilah dia mencari jati diri, sebulan dua bulan dia masih menghubungi guru jika ada sesuatu yang mengganjal akan masalah, dan guru mulai memberi arahan padanya, tiga empat bulan dia berubah tak perlu lagi menghubungi guru, karena semua sudah bisa dia atasi.
Memasuki lima enam bulan dalam mencari jati diri akhirnya terperangkap dalam idealis yang tak pernah diduga oleh sang guru , dia mendapatkan sesuatu doktrin yang luar biasa, jika ajaran gurunya adalah sesat, dan tak menguntungkan apa yang telah kau dapatkan darinya, jika ingin sukses ikutlah denganku cetus orang yang telah mencuci pola pikirnya.
Ini terus berlalu, tak pernah lagi dia menghubungi sang guru untuk mengatakan keberadaan atau kabarnya, hingga suatu hari Tiba masanya perseteruan pun terjadi, perseteruan antara orang orang yang bersebelahan pendapat, dan sang murid yang dulunya diberi ilmu mulai menantang gurunya dengan rasa tak hormat.
Sang guru tetap mengangapnya sebagai murid, dan tak mau melawannya, hanya waktu yang akan menjawab semuanya gumam dalam hati sang guru, bahwa dia telah berada pada posisi yang semestinya tak perlu melibatkan diri.
Inilah problematika hidup yang terkadang telah di bantu dan diajarkan yang kemudian menantang, realita kenyataan cerita diatas sering kita alami, kisah di atas hanyalah sebuah cerita ,dan saya bukanlah seorang guru dalam cerita tersebut, Dalam dunia Bisnis saya melihat dari beberapa pengalaman, ada beberapa orang yang saya ajarkan dan masih takzim atas apa yang telah dia dapatkan hingga dia meraih kesuskesan dengan jalannya sendiri, tetapi rasa ta'zim mengisi yang ruang hatinya akan mendatangkan keberkahan dari gurunya. Namun ada juga yang membangkang, dan ini lumrah bahwa keseimbangan terjadi antara baik dan buruk.
Hanya saja antara orang yang ta'zim dan membangkang adalah orang orang yang ada disekitar kita bahkan mereka yang lebih sukses daripada gurunya. Walau terkadang roda perputaran menunjukkan bahwa seorang guru mengajarkan anda ABCD, kelak anda menjadi seorang tokoh yang hebat, tetapi jangan pernah melawannya ketika ilmu anda lebih tinggi darinya, tapi ingatlah, siapa yang membuka jalan untuk anda sebelum anda menjadi sukses?
Seorang perenang adalah guru, tetapi Jangan menenggelamkan orang yang mengajar anda berenang. Jika anda mempelajari usaha atau cara dari seseorang, janglah bangkit menjadi lawannya, tapi jadikan perbedaan sebagai usaha untuk membenah diri.
All Image pixabay