Dipenghujung tahun 2017 ini, akhirnya saya kembali "menulis". Mengingat banyak sekali hal yang sudah kita lewati. Dan saya rasa sangat merugikan jika tidak ditulis untuk bisa diingat kembali suatu saat nanti. Beberapa kali sahabat bahkan mentor saya mendorong untuk menulis. Hingga akhirnya saya mantap untuk kembali hidup dalam cerita. Dan kali ini, kita akan kembali mengupas apa saja yang sudah kita alami untuk diintrospeksi yang pada keseluruhannya bertujuan untuk hidup yang lebih baik.
Kali ini, pembahasannya adalah tentang menjadi kaum berfikir. Bukan hanya sekedar berfikir seperti mamalia lainnya. Melainkan juga berakal sehat. Mengapa ini penting? Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membuat segalanya sangat berubah. Sehingga tanpa kita sadari sebagian manusia kehilangan akal sehatnya, kehilangan makna berfikir yang benar hanya karena eksistensi tidak jelas di dunia maya. Dan apakah ini genting? Maka disini akan saya ceritakan sesuai dengan perspektif saya, teman-tema bisa ikut berkomentar dan saya sangat terbuka untuk itu.
Dalam skala 2 tahun belakangan ini, banyak hal baru yang kita temukan. Yang paling terlihat adalah pergeseran budaya yang sangat jelas. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, akibat perkembangan teknologi membuat sebagian orang gelap mata. Kehausan eksistensi di dunia maya hingga mencari berbagai cara untuk terkenal. Sekonyol apapun, tidakkah itu sebenarnya hanya mengurangi nilai terhadap dirinya sendiri? Kemudian ada juga para remaja dengan sebutan "Kids Jaman Now" yang bertingkah ala mama papa seolah sangat menghayati peran dewasa pada masa yang bukan seharusnya. Tidakkah itu menggelikan? Selain itu, sikap gengsi pada budaya adat tradisional yang mulai terkikis dan bangga pada budaya luar (misalkan, di sosial media malu mengatakan adat pesijuek tujuh buleun pruet dan lebih bangga mengatakan baby shower party). Apakah kita mau untuk terus-terusan kurang bersyukur atas kekayaan budaya yang kita punya? Dan yang lebih menyedihkan, kecanduan eksistensi membuat kita krisis kepekaan. MIsalkan, salah satu tantangan di media sosial (ice bucket challenge) membuat kita berlomba-lomba membuang air dingin dengan menyiram keseluruh tubuh untuk sekedar menjawab tantangan. Di negara Palestina, para remaja yang ingin mengikuti tantangan tersebut juga ikut berpartisipasi dengan menyiram tanah, pasir, bekas bangunan yang hancur akibat peperangan. Seakan sindiran halus, tidakkah kita merasa malu hati?
Menjadi kaum berfikir memang ekslusif, namun berkelas. Saya percaya dengan perkataan Buya Hamka, kalau hidup sekedar hidup, maka kera juga hidup. Begitupun kita, jangan cepat terpana dengan apapun sehingga membuat kita hilang kendali, hanya berenang seperti gerombolan ikan teri. Padahal yang harus kita catat bahwa hidup juga sebagai investasi. Jadi, sekarang saya simpulkan. Menjadi kaum berfikir apakah penting? Jawabannya adalah YA. Dan di zaman sekarang apakah itu genting? Jawabannya juga YA, karena saat ini sudah terlalu banyak manusia yang menjelma bagaikan teri.