STEEMIT IndonesiaChallenge kembali digelar dengan tema yang sangat akrab dengan kita, yakni tentang fasilitas umum (publik). Dekat karena semua manusia menggunakan fasilitas umum, bahkan Tarzan yang hidup di rimba juga menggunakan fasilitas publik sebab hutan juga untuk kepentingan bersama.
Postingan sahabat Steemians selama ini saya lihat juga banyak mengenai fasiitas umum. Jadi, ini bukan tema yang susah bagi semua Komunitas Steemit Indonesia (KSI). Sangat mudah menemukan fasilitas publik di sekitar kita seperti yang disampaikan panitia.
Namun, karena banyak fasilitas publik, bukan berarti sahabat Steemians bisa mengangkat semuanya untuk dijadikan materi lomba. Harus selektif memilih fasilitas publik, dan harus menuliskannya dengan cara berbeda. Steemit IndonesiaChallenge sudah digelar tujuh kali, sudah selayaknya postingan sahabat Steemians kian berkembang, kian berkilau, dan kian bergizi bagi pembaca, syukur-syukur bisa menjadi referensi dan mampu mengubah kebijakan pemangku kepentingan yang membantu rakyat banyak.
Revolusi Toilet
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 10 Mei 2017, saya membaca sebuah opini berjudul “Revolusi Toilet” di harian Kompas. Tulisan itu membahas tentang kebijakan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven OE Kandaow yang mencanangkan program “revolusi toilet” di daerahnya. Intinya, bagaimana seluruh toilet di Sulut di berbagai tempat, bersih dan harum seperti di mal. Kelihatannya sederhana, tetapi tentu saja sulit dan sesungguhnya revolusioner.
Beberapa tahun lalu—saya tak ingat persisnya—saya menulis status di dinding Facebook. Singkat saja statusnya; “Bangsa apa ini, menyiram toilet saja harus diingatkan”. Status itu saya posting karena selalu menemukan peringatan serupa itu di dalam toilet, di mana saja. Pikir saya, menyiram toilet ‘kok harus diingatkan. Setelah dipakai, ya harus dibersihkan sendiri meski toilet itu bukan di rumah sendiri.
Seorang kawan penulis di Jakarta, mengomentari status tersebut: “Dan lelakinya tidak mengangkat dudukan toilet saat pipis.” Mudah ditebak, penulis itu memang perempuan. Bukan dia anti-lelaki. Tapi kaum lelaki yang paling sering tidak mengangkat dudukan toilet sehingga ketika pipis sambil berdiri, ceceran urin mengotorinya. Sementara, perempuan menggunakan toilet dengan duduk di atasnya.
Jauh ke belakang, atau tepatnya pada November 2012, dalam perjalanan dari Tokyo ke New Jersey, di sebelah saya duduk seorang warga Jepang. Perjalanan selama 12 jam tentu sangat melelahkan. Saya hanya tidur, makan, menonton, membaca, ke toilet, kemudian tidur lagi, makan lagi, menonton lagi, membaca lagi, dan ke toilet lagi. Setiap orang Jepang menggunakan toilet, toiletnya bersih dan seperti belum pernah digunakan. Setitik air di wastafel pun tidak ada. Saya tidak heran karena ketika bekerja sebagai stringer Asahi Shimbun (salah satu media besar di Jepang) untuk Aceh, sudah mendengar budaya orang Jepang yang malu meninggalkan jejak setelah menggunakan toilet. Sejak mendengar itu, sampai sekarang saya selalu meniru kebiasaan terpuji tersebut.
Jauh lagi ke belakang, ketika masih kuliah di Poteknik Negeri Lhokseumawe (dulu Politeknik Negeri Unsyiah) pada 1993 – 1996, saya mendengar seorang pejabat PT Arun yang tatkala itu sedang jaya-jayanya, bahwa toilet di masjid di seluruh Aceh, sebagian besar jorok dan bau. Kalau di meunasah (surau), kondisinya lebih parah lagi. Air tidak ada, kotoran yang belum disiram kadang menyumpal toilet dan kita seolah bisa melihat aromanya dari jauh. Dia berani mengatakan itu karena sudah keliling Aceh. Kita meyakini kebersihan itu setengah dari iman, tapi kondisi toiletnya demikian busuk.
Ketika di tahun 1980-an pernah muncul gagasan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, musisi Harry Roesly mengomentari; “bagaimana mau membangun nuklir kalau mengurus WC umum saja kita belum beres.”
Dalam pelantikan bupati dan wakil bupati Aceh Besar, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengingatkan bahwa jembatan Pango sudah lama tidak selesai dibangun sehingga ada yang menyebutnya jembatan pungo. Irwandi mengharapkan kali ini jembatan tersebut selesai dan bisa dimanfaatkan.
Fasilitas tak Terlihat
Beberapa ilustrasi di atas sengaja saya angkat dengan mengandalkan daya ingat untuk menggarisbawahi betapa pentingnya fasilitas umum, meski itu hanya ruangan toilet. Peradaban sebuah bangsa bisa dilihat dari bagaimana mereka mengelola fasilitas publik. Wajar saja bila wakil gubernur Sulut memulainya dari toilet karena sifatnya sangat persoalan dan semua orang menggunakannya dan memilikinya. Orang bisa menganggap, bila toilet sudah bersih maka yang lain juga akan bersih dan sehat.
Panitia sudah menyebutkan secara detail objek apa saja yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Namun, menurut saya, yang tidak disebutkan juga masih banyak. Sahabat Steemians jangan terpaku pada fasilitas umum yang sudah dibangun sehingga bisa memotretnya. Fasilitas umum yang belum dibangun di tempat yang seharusnya ada pun, bisa menjadi objek tulisan. Misalnya, di sebuah tikungan tajam yang sering terjadi kecelakaan yang seharusnya ada rambu-rambu lalu lintas tetapi belum ada, sahabat Steemians bisa memotretnya untuk sebuah tulisan yang mendorong pemerintah untuk membangun rambu lalu lintas sehingga angka kecelakaan bisa diminilisir atau bahkan nol persen.
Jadi, gunakan pikiran dan imajinasi untuk merekam fasilitas publik yang tidak terlihat karena belum dibangun padahal masyarakat sangat membutuhkannya. Sebelumnya saya pernah memposting foto lama anak-anak sekolah melintasi jembatan gantung di Aceh Utara yang tanpa lantai sehingga sangat membahayakan. Saya tanya kawan yang ada di lokasi, katanya jembatan itu kini sudah tidak dipakai lagi karena sudah ada jembatan lain yang lebih bagus.
Lihat Dampak
Kekuranglengkapan atau kondisi yang tidak ramah bencana, baik bencana alam maupun bencana kebakaran, juga bisa menjadi ide dalam mengikuti lomba kali ini. Misalnya saja, fasiltas untuk mengatasi bahaya kebakaran tidak cukup memadai di sebuah perkantoran. Paparkan risiko yang bisa terjadi dan berikan beberapa contoh kasus serupa yang pernah terjadi, baik di daerah lain maupun di negara lain yang bisa kita jadikan iktibar.
Belakangan ini, di lampu persimpangan di beberapa ruas jalan di Lhokseumawe, Aceh, padam. Kalau ingin menulis tentang ini, misalnya, jangan hanya memotret lampu jalan dari berbagai tulisan dengan seidkit tulisan yang menjelaskan lampu padam, plus keterangan pihak berwenang bahwa kondisi itu akan diperbaiki.
Butuh pendalaman yang menggambarkan dampak dari padamnya traffic lights. Padam satu jam saja sudah menimbulkan bahaya bagi umat manusia, apalagi sampai berbulan-bulan. Kalau hanya menulis sekilas saja, serupa teks foto yang memuat informasi 5 W + 1 H, maka tulisan kita hanya sekadar meramaikan lomba saja. Apalagi, juri kali ini yang sangat teliti dalam melihat detail sebuah kasus.
Demikian juga dengan fasilitas lain seperti listrik yang sering padam. Sampaikan secara proporsional denga informasi lengkap dari berbagai narasumber. Apa dampak bagi masyarakat, kerugian apa saja yang dialami, sebutkan dengan rinci disertai fakta dan data yang akurat. Bukan sekadar menyebutkan warga rugi selama listrik padam. Semakin besar sebuah dampak bagi masyarakat luas, semakin besar magnitudo tulisan kita. Makanya, isu-isu pendidikan, makanan, air bersih, infrastuktur pertanian, dan sejenisnya, selalu menjadi topik hangat untuk dibicarakan.
Foto yang Berbicara
Untuk mengikuti lomba, satu lembar foto tidaklah cukup. Sahabat Steemians harus mau bekerja keras untuk mendapatkan foto yang lengkap, bagus, dan berbicara. Dengan foto seperti itu, pesan akan sampai kepada para pemangku kepentingan. Jadi kita bukan hanya menyajikan opini saja.
Kalau ingin menyorot jembatan Krueng Tingkeum Kabupaten Bireuen, yang belum diperbaiki, jangan memotret antrean mobil dari kaca jendela mobil karena kebetulan sahabat Steemians sedang melintas. Harus turun dan mengambil foto dari berbagai sudut. Pembaca juga harus diberi foto jembatan yang rusak sehingga urutan-urutan foto yang kita sampaikan juga menjadi sebuah informasi yang tersusun secara sistematis dalam sebuah fakta yang tak terbantahkan.
Kalau sudah seperti itu tulisan dan foto-foto sahabat Steemians sekalian, tidak menang lomba pun tetap mendapat pahala karena sudah mengingatkan orang pada kebaikan. Sesungguhnya, esensi dari sebuah tulisan memang seperti itu; membangun kesadaran untuk perbaikan hidup dan penguatan peradaban yang lebih baik. Kalau sudah mampu mengubah kebijakan pemangku kepentingan untuk lebih memerhatikan fasilitas publik, sesungguhnya sahabat Steemians sudah mendapatkan kemenangan yang hakiki.
Terima kasih untuk Indonesia yang sudah mendukung Steemit IndonesiaChallenge7, dan
. Terima kasih bagi donator
,
, dan
yang kebaikan mereka membangun iklim menulis dan membangun daya kritis kita terhadap kondisi lingkungan. Terima kasih juga juri kali
yang mau mendedikasikan diri membaca postingan yang bisa jadi jumlahnya terus bertambah dan itu membutuhkan kerja keras.
Terima kasih bagi sahabat Steemians sekalian. Tajamkan mata dan telinga, perluas wawasan tentang fasilitas umum, dan selamat mengikuti lomba. Jayalah terus Komunitas Steemit Indonesia…!