DISKUSI kecil dengan memberikan inspirasi bagi saya untuk menekankan sebuah pembahasan khusus tulisan. Salah satu keluhan yang disampaikan
adalah judul terkadang terlalu bombastis untuk mendorong Steemians meng-klik tulisan. Namun, ketika di-klik yang ditemukan adalah kekecewaan.
“Terkadang, fokus ketika memberi judul yang heboh, tapi isi sudah berbeda,” ungkap dalam diskusi kami tentang Komunitas Steemit Indonesia di sebuah warung kopi.
Ketika membaca sejumlah postingan, fakta itu banyak saya temukan. Banyak judul yang terlalu panjang. Judul lainnya, seperti disampaikan oleh , tidak ada kuat kaitannya dengan isi. Jangan sampai judulnya semangka, tapi isinya melon. Atau judulnya mangga, tapi isinya kuini. Keduanya memang mirip, tapi berbeda rasa.
Berangkat dari kenyataan tersebut, izinkan saya mengajak Steemians semua untuk berdiskusi tentang judul pada sebuah postingan, apakah itu foto atau tulisan yang panjang.
Biar lebih komunikatif, jangan dianggap terlalu rumit, izinkan saya menulisnya dalam bentuk wawancara. Tulisan ini saya siapkan di sela-sela mengikuti Meet Up Komunitas Steemit Indonesia di Lhokseumawe (Aceh) pada Minggu 9 Juli 2017, dan saya selesaikan kemudian dalam kondisi kurang sehat karena demam. Pertemuan dengan Komunitas Steemit Indonesia menjadi pertamax bagi saya untuk menyelesaikan tulisan.[]
Bagaimana menulis judul tulisan yang menarik?
Gampang saja. Asal memiliki tangan, pasti bisa menulis judul tulisan yang menarik.
Oh, karena mengetik dengan tangan, ya?
Bukan, karena biasanya kita menarik dengan tangan. Kalau menendang baru dengan kaki.
Hahahaaha… Bisa aja, Bro. Serius dong.
Bagaimana memulai sebuah judul? Mana yang benar, judul dulu atau tulisannya dulu?
Tidak ada yang benar atau salah. Itu kebiasaan saja. Ada yang lebih nyaman menulis dulu dengan pertimbangan agar ada panduan. Ada yang memilih tulisannya dulu agar judulnya sesuai dengan isi. Tapi ada juga gabungan keduanya. Asal jangan tulisan tidak ada judul, itu judul lagu Iwan Fals dulu; Belum Ada Judul. Tapi itu pun judul, kok.
Intinya, bagaimana biasanya saja, bagaimana mudahnya saja. Kalau memang sudah menemukan judul yang indah, judul yang penuh magnit, tetapkan saja judulnya. Kalau memang belum ada dapat judul, selesaikan tulisan dulu.
Kalau judulnya malah dapat dua atau tiga dan semuanya menarik, bagaimana tuh? Bingung memilihnya…
Tidak masalah, malah lebih bagus karena kita memiliki banyak pilihan. Selesaikan dulu sampai titik terakhir, lalu lihat judul mana yang cocok.
Kalau semuanya cocok?
Tidak mungkin satu tulisan punya dua atau tiga judul. Biasanya, dijadikan anak judul saja.
Anak judul? Apa itu? Kalau ada anak, berarti ada ibu dan bapak judul, yaaa?
Heheheehehe… Berarti judul sudah pernah menikah, ya?
Begini, sebuah tulisan ada judul utama. Kemudian ada sub judul atau ada juga yang menyebutnya anak judul. Kalau ummi judul atau yang lainnya saya belum pernah mendengar, hehehehe.
Menurut Frans M Royan dalam bukunya Cara Menulis Buku Best Seller (Masmedia Buana Pustaka, 2009), sub judul gunanya untuk memperkuat judul utama. Kalau dalam penulisan opini biasanya minimal ada dua sub judul. Ini menjadi panduan bagi pembaca melihat topik bahasan kita selanjutnya. Bagi orang yang sibuk, sub judul bisa digunakan membaca tulisan sesuai kebutuhan mereka. Ingat, tidak semua paragraf tulisan kita dibutuhkan pembaca. Bisa saja pembaca lainnya hanya membutuhkan beberapa paragraf saja karena itu sesuai kebutuhan mereka atau mereka sudah memahami isinya secara substansial.
Kalau tidak ada sub judul, nggak masalah, kan?
Nggak masalah juga. Kalau tulisan di blog yang pendek, satu atau dua lembar foto dengan dua paragraf teks (caption), ya tak perlu sub judul. Jadi, sub judul itu tergantung kebutuhan tulisan. Terlalu banyak sub judul juga tidak bagus. Jadi, proporsional saja.
Kembali ke judul dulu atau menulis dulu, bagaimana pengalaman penulis lain yang mungkin bisa jadi referensi saya?
Tidak ada yang baku. Sastrawan Kurnia Effendi, biasanya merangkum sebuah ide besar dalam satu judul atau bahkan beberapa judul tergantung ide yang muncul saat itu. Kata Mas Keff, panggilan akrab Kurnia Effendi, satu judul menyimpan ide, konflik, dan bisa saja endingnya. Jadi, judul itu bukan kalimat kosong. Ada juga penulis menemukan ide untuk judul, materi tulisan kemudian. Ada juga gabungan keduanya. Saya sendiri, terkadang menulis judul dulu kalau memang ada yang bagus, lalu menulisnya sampai selesai. Nanti di proses editing dilihat lagi apakah judul itu sudah cocok.
Ringkasnya, apa pedoman dalam menulis judul?
Ini pertanyaan pendek tetapi jawabannya panjang dan sulit. Poin penting yang pertama, seperti yang saya sebutkan di atas; judul harus mencerminkan isi. Kedua, ada referensi yang mengatakan judul jangan terlalu panjang. Tapi ini untuk jenis tulisan tertentu seperti opini. Untuk postingan di Steemit, saya juga menyarankan judulnya jangan terlalu panjang, apalagi lagi ada judul edisi Inggris-nya juga.
Untuk judul novel, penulis Jonas Jonasson suka menulis judul panjang. Dua bukunya yang saya baca dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (diterbitkan Bentang) adalah The Hundred Year Old Man Who Climbed Out the Window and Dissapeared. Panjang, kan? Novel keduanya yang say abaca edisi Indonesia berjudul The Girl Who Saved The King of Sweden. Sepertinya judul panjang menjadi ciri khas Jonasson.
Ada juga teknik memilih judul provokatif, misalnya 1001 Cara Menaklukkan New York. Ada juga yang menulis judul menggoda seperti tabloid Monitor yang dulu pernah terkenal. Di satu edisi, ada judul Malida Suka yang Besar dan Panjang dengan foto penyanyi Malida berpakaian gaun merah di kavernya. Orang ngeres, pikirannya melayang ke mana-mana. Padahal, konotasinya bukan negatif. Judul seperti ini membuat pembaca bertanya-tanya. Teknik memancing pembaca seperti ini sering digunakan media daring (online).
Ada juga teknik plesetan. Apa yang diplesetkan? Bisa pepatah, bisa kutipan tokoh terkenal, bisa lagu terkenal, bisa judul buku atau tulisan terkenal, bisa apa saja. Misalnya, penulis Aceh Teuku Kemal Fasya menyindir perilaku pejabat yang suka menggusur dengan judul; Kami Menggusur Maka Kami Ada. Itu pernyataan terkenal filsuf Perancis terkenal, Rene Descartes; cogito ergo sum yang artinya aku berpikir maka aku ada. Kalau mengikuti tulisan-tulisan Teuku Kemal Fasya baik di media nasional atau lokal, judul-judulnya menggelitik. Hanya membaca judul saja kita sudah tertarik.
Plesetan ini juga banyak saya temukan dalam judul berita di kaver majalah Tempo. Misalnya, edisi 2005 ada judul Dana Pemilu Mengalir Sampai Jauh yang merupakan plesetan dari lagu Begawan Solo. Pengamat komunikasi politik, pernah menulis Ghazali Effendi, pernah menulis di Kompas; Menunggu (Ang)Godot. Begitu saja, dengan kata “ang” di dalam kurung.
Bisa begitu, ya?
Bisa, dong. Tidak ada yang larang. Cuma, tidak semua orang tahu itu apa kalau tidak memiliki sedikit (saja) wawasan tentang siapa itu Godot dan kenapa harus ditunggu. Itu plesetan dari buku karya penulis Perancis Samuel Beckett berjudul Waiting for Godot. Tidak ada penjelasan dari Ghazali tentang judul itu karena menganggap semua orang sudah tahu.
Sudah, sudah… Jangan berat-berat dulu. Singkatnya, judul yang bagus berapa kata?
Jangan sebutkan judul yang bagus, sebab judul panjang seperti Jonasson di atas juga memiliki keunikan tersendiri. Tapi biasanya, untuk opini dua kata sampai tujuh kata. Dua kata sudah lampu merah karena terlalu pendek. Tujuh kata juga lampu merah karena terlalu panjang. Tapi itu kan untuk opini. Untuk blog yang biasanya dibaca dalam tempo cepat, tiga sampai lima kata sudah mudah mengingatnya.
Oke deh, ini pertanyaan kritis. Kenapa tulisan ini diberi judul Magnit pada Judul Tulisan?
Sudah terjawab di atas sebenarnya. Judul harus menjadi magnit yang menarik minat pembaca, seperti pakaian di etalase, pasti dipajang yang bagus untuk menarik minat pembeli.
Tunggu, tunggu, Bro… Ada juga magnit yang menolak?
Benar, itu karena kutubnya sama, kan? Itu pelajaran SD dulu, saya nggak ingat lagi. Barangkali judul yang buruk itu ibarat kutub magnit yang saling tolak-menolak. Terima kasih sudah mengingatkan.
Judul postingan buruk, tapi isinya bagus. Gimana, tuh?
Sama seperti durian, hehehehe. Berduri tapi isinya manis dan harum.
Atau seperti kedondong, luarnya licin isinya berduri?
Begitulah.
Biar lebih konkrit, ada nggak contoh judul postingan yang bagus menurut Brade?
Wah, saya tidak ingat persisnya. Ada judul postingan yang sederhana, misalnya Eksotisme Pantai Pasie Saka, atau postingan berjudul Jangan Tinggalkan Pantai Ujong Blang. Maaf, masih banyak yang lain, saya hanya punya sedikit waktu untuk melihat secara acak.
Postingan siapa itu, Bro?
Cari sendirilah. Nggak etis saya sebutkan di sini. Juga masih banyak contoh judul postingan yang menarik. Nanti Steemians marah pula karena judul postingannya tidak saya sebutkan. Dituduh saya koncoisme dan pilih kasih. Padahal, kekasih saya cuma satu yaitu istri saya dan enggak mau saya pilih yang lain.
Jangan-jangan, itu postingan kawan Brade, ya? Saya curiga neh…
Nah, kan? Jangan curigation, deh! Semua Steemians saya anggap sebagai kawan. Itulah pentingnya komunitas.
Hehehehe, just kidding, Bro. don’t be angry. Biar bird aja yang angry. Saya percaya, kok. Terima kasih atas bincang-bincangnya. Berguna sekali buat saya. Akan saya upvote 100 persen ya, Bro. saya resteem juga.
Aaah, jadi enggak enak saya. Kamu baca saja sudah syukur, apalagi sampai kamu komentari dan upvote. Intinya, diskusi kita melalui komentar lebih penting agar kita bisa sama-sama belajar.[]