Bagaimana sekelompok saudara berusaha menyelamatkan saudara perempuannya yang diculik oleh elang dan paus.
Source: Photo by Frans Van Heerden from Pexels
Di sebuah desa tinggallah banyak saudara lelaki. Mereka memiliki dua saudara perempuan, yang keduanya cukup umur untuk menikah, dan sering kali mendesak keduanya untuk memilih suami. Tetapi, kedua gadis itu tidak mau.
Akhirnya, salah satu saudara lelaki itu berkata: "Suami macam apa yang kamu inginkan? Seekor elang, mungkin? Baiklah, kamu akan punya elang." Itu dia katakan kepada saudara perempuan pertama.
Kepada saudara perempuan kedua, dia berkata: "Dan kamu mungkin ingin ikan paus? Nah, ikan paus yang akan kamu miliki."
Tiba-tiba seekor elang besar muncul dan menyambar saudara perempuan pertama. Ia terbang bersamanya ke sebuah tebing batu yang tinggi. Seekor ikan paus juga muncul dan membawa saudara perempuan kedua ke sebuah tebing batu.
Sejak itu, elang dan saudara perempuan pertama tinggal bersama di sebuah tebing batu yang tinggi dan terjal. Diam-diam, saudara perempuan itu berusaha melarikan diri. Bila elang itu terbang ke laut untuk berburu, ia akan sibuk menganyam urat-uratnya untuk dijadikan sebuah tali yang dapat menurunkannya ke bawah. Namun, kadangkala elang itu cepat muncul bersama seekor anjing laut di satu cakar dan narwhal di cakar lainnya.
Suatu hari perempuan itu mencoba tali anyamannya yang akan dia gunakan untuk menurunkan dirinya. Ternyata tali itu terlalu pendek, maka dia berusaha menganyam urat yang lebih banyak lagi.
Seiring berjalannya waktu, saudara-saudara lelakinya mulai merindukan saudara perempuan mereka. Mereka kemudian mulai bekerja untuk membuat busur silang (crossbow).
Di desa itu juga ada seorang anak laki-laki tunawisma yang tubuhnya sangat kecil sehingga tidak memiliki kekuatan untuk menarik busur. Dia harus meminta salah satu saudaranya yang besar untuk menarik busur itu setiap kali dia ingin menembak.
Ketika mereka telah menyiapkan segalanya, mereka lantas pergi ke tempat saudara perempuan mereka berada. Mereka memanggil keduanya dari kaki tebing dan menyuruh mereka untuk turun.
Saudara perempuan pertama mendengarnya dan bersiap-siap untuk turun. Begitu sang elang pergi berburu, dia turun dengan tali anyamannya dan akhirnya bertemu saudara laki-lakinya.
Menjelang malam, elang muncul dari laut dengan seekor anjing laut di setiap cakarnya. Ketika melewati desa itu, dia menjatuhkan salah satu anjing laut ke rumah mereka.
Namun, ketika tiba di sarangnya, dia menemukan gadis itu telah pergi. Kemudian dia membuang tangkapannya begitu saja dan terbang, meluncur dengan sayap yang lebar, ke tempat saudara-saudara gadis itu berada. Tetapi, setiap kali elang itu mencoba mendekati rumah itu, panah-panah dari busur silang berhamburan ke arahnya. Sayang, tak satu pun dari panah itu yang dapat mengenainya.
Karena tidak ada panah yang bisa menghajar elang itu, sang bocah tunawisma berteriak: "Biar aku coba juga!"
Salah satu saudaranya menarikkan busur untuknya. Bocah itu pun menembak dan kena. Ketika kemudian elang itu jatuh ke bumi, yang lain menghujaninya dengan begitu banyak panah sehingga dia nyaris tidak bisa menyentuh tanah. Elang itu pun mati.
Source: Photo by Silvana Palacios from Pexels
Adapun saudara perempuan kedua dan paus juga hidup bersama. Paus itu sangat menyayanginya dan hampir tidak akan membiarkannya lepas dari pandangannya untuk sesaat.
Tetapi, perempuan itu juga mulai merasa rindu akan kampung halaman dan saudara-saudaranya. Dia pun mulai menganyam seutas benang.
Saudara laki-lakinya, yang juga merindukan saudara perempuan mereka, mulai membuat umiak berlayar besar. Ketika mereka telah menyelesaikannya, mereka membawanya ke laut dan berkata: "Sekarang mari kita lihat seberapa cepat dia bisa meluncur."
Seekor burung laut guillemot, yang bersarang di dekat desa mereka, terbang di samping perahu saat para nelayan mendayung ke tengah laut. Melihat burung itu terbang melintasi perahu, mereka pun berteriak: "Ini tidak akan berhasil. Paus akan segera menyusul kita. Kita harus menghancurkan perahu ini dan membuat yang baru."
Mereka lantas menghancurkan perahu itu dan membuat yang baru. Perahu itu mereka masukkan kembali ke air dan mereka kayuh. Sekali lagi mereka membiarkan burung itu terbang berpacu bersama perahu mereka. Kali ini keduanya tetap berdampingan sepanjang jalan, tetapi ketika mereka mendekati daratan, burung itu tertinggal.
Suatu hari, seperti biasa saudara perempuan kedua itu berkata kepada paus: "Aku harus keluar sebentar."
"Tetap di sini," kata paus.
"Tapi aku harus keluar," kata perempuan itu.
Paus itu mengikatkan tali ke tubuh perempuan itu sehingga dia bisa menariknya masuk lagi bila dia inginkan.
Perempuan itu melangkah keluar. "Saya cuma di dekat pintu keluar," serunya sambil mengikat talinya ke sebuah batu. Dia lalu melarikan diri secepat mungkin menuruni bukit. Paus itu menarik batu, yang dia kira perempuan tersebut, masuk.
Rumah saudara-saudara perempuan itu berada tepat di kaki lereng bukit tempat dia berada. Begitu dia sampai, saudara-saudaranya pun segera membawanya pergi dengan umiak yang telah mereka siapkan.
Pada saat yang sama, paus keluar dari lorong sarangnya. Dia tahu telah ditipu dan segera berenang ke laut. Umiak mereka melesat tetapi tampak seolah-olah diam karena paus dapat berenang cepat mengejarnya.
Ketika paus hampir mencapai mereka, saudara-saudaranya berkata kepada perempuan itu: "Buang karet rambutmu." Dia pun membuang karet rambutnya. Laut pun berbusa-busa dan paus berhenti mengejar.
Ketika paus mengejar lagi dan sampai tepat di belakang perahu, saudara-saudara mereka berkata, "Buang salah satu sarung tanganmu." Dia pun membuangnya. Laut pun berbusa dan paus menerkamnya.
Ketika paus kembali mendekat, dia dia membuang lapisan dalam salah satu sarung tangannya, dan kemudian rok luarnya, dan kemudian mantel dalamnya.
Sekarang mereka sudah dekat dengan daratan tapi paus hampir mendekati mereka. Kemudian saudara-saudara berteriak: "Buang celanamu!" Ia pun membuangnya dan laut menjadi berbuih.
Umiak mereka akhirnya mencapai daratan. Paus itu mencoba mengejar tetapi ia terlempar ke pantai sebagai tulang ikan paus yang putih dan disinari matahari.
Cerita ini diterjemahkan dari "The Eagle and the Whale" di Eskimo Folk-Tales yang disunting oleh Knud Rasmussen (Gyldendal : 1921) dengan sejumlah modifikasi. Versi asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca di Project Gutenberg.
This is my Eskimo Stories Project. I translate Eskimo Folk-Tales (Gyldendal : 1921) into Bahasa Indonesia to introduce Eskimo art and culture to Indonesian and Malay-spoken language readers. There will be more than 50 stories I will publish. If I have enough money, I plan to print them in a book format. You can support me by upvote and reblog this post. I receive any donation for this project. Read all stories in topic #eskimofolktales.
#blogiwankwriting #jakarta #indonesia #budaya #life #culture #writing #story #literature #literary #book #eskimo #inuit #alaska #polar
| I hope you like my work. Please vote and reblog this post and follow |