Source: Photo by Danya Gutan from Pexels
Dua Bocah Yatim Piatu
Ada dua anak laki-laki yang yatim piatu. Mereka biasanya pergi berburu ptarmigan (Lagopus muta) atau burung arktik setiap hari tapi mereka tidak punya senjata apa pun selain busur. Bila mereka sedang berburu ptarmigan, penduduk desa selalu sangat ingin mendapatkan hasil tangkapan mereka.
Pada suatu hari, mereka pergi berburu ptarmigan seperti biasa tetapi tidak menemukan apa-apa. Di tengah perjalanan, mereka sampai di beberapa tebing yang curam dan sulit. Dari puncak bukit, mereka menengok ke bawah, ke dalam jurang, dan melihat di bawah sana ada sesuatu yang tampaknya seperti batu. Mereka turun ke sana. Ketika mereka mendekat, ternyata "batu" itu adalah sebuah rumah kecil.
Mereka mendekati rumah itu dan naik ke atapnya. Dari lubang udara di atap, mereka melihat seorang anak laki-laki di lantai dengan talenan untuk kayak dan tongkat untuk dayung. Mereka memanggilnya dan dia mendongak tapi kemudian mereka bersembunyi. Ketika mereka melihat ke bawah lagi, anak itu masih ada di sana sedang bermain sebagai nelayan di dalam kayak. Untuk kedua kalinya mereka memanggilnya, lalu buru-buru bersembunyi lagi.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan menemukan anak itu sedang terisak-isak dan bersembunyi di balik dinding.
Mereka bertanya padanya: "Apakah kamu tinggal di sini sendirian?"
Dia menjawab: "Tidak, ibuku keluar pagi ini, dan dia masih di luar sekarang, seperti biasa."
Mereka berkata: "Kami datang ke sini karena kamu sendirian."
Anak itu lalu memberanikan diri untuk keluar sedikit dari balik dinding tempat bersembunyi.
Pada sore hari, bocah itu bolak-balik keluar. Saat dia keluar, anak laki-laki itu melihat sekeliling bagian dalam rumah, yang dipenuhi kulit rubah berwarna biru dan putih.
Akhirnya anak laki-laki itu masuk, dan berkata: "Sekarang aku bisa melihatnya, jauh di selatan."
Mereka keluar dan melihatnya dan ibunya tampak sangat besar dan membawa sesuatu di punggungnya. Dan, dia mendekat dengan cepat.
Kemudian mereka mendengar suara berdebam yang keras. Perempuan itu rupanya sedang melemparkan bebannya. Dia tampak kepanasan dan kelelahan, lalu duduk dan berkata: "Terima kasih, anak-anak yang baik. Aku harus meninggalkannya sendirian di rumah, seperti biasa, dan sekarang kalian tinggal bersamanya untuk sementara karena aku mengkhawatirkan dia dalam perjalanan."
Kemudian dia menoleh ke putranya, dan berkata: "Apakah mereka belum makan?"
"Belum," kata bocah itu.
Bocah itu lalu keluar dan kembali sambil membawa daging rubah dan rusa kering serta sepotong besar daging mentah (suet). Ia memberikan makanan itu kepada kedua anak yatim itu. Ia sangat senang melihat mereka memakan makanan itu.
Pada mulanya, dua anak yatim itu tidak memakan daging rubah kering. Tetapi, ketika mencicipinya, mereka merasa sangat enak untuk dimakan.
Mereka pun makan sampai kenyang, lalu duduk di sana dengan perasaan senang. Kemudian bocah itu membisikkan sesuatu ke telinga ibunya.
"Dia sangat tertarik pada salah satu anak panahmu, jika kamu bersedia memberikannya," kata ibunya. Dua anak yatim itu pun lalu memberikannya.
Pada malam hari, ketika waktunya sudah tiba untuk beristirahat, sang ibu menyiapkan sebuah tempat tidur di bawah jendela untuk mereka. Setelah selesai, di berkata: "Sekarang tidurlah dan jangan takut pada hal-hal jahat."
Mereka pun tidur dan ketika mereka bangun esoknya, sang ibu sudah lama terjaga.
Source: Photo by Kat Jayne from Pexels
Ketika kedua anak yatim itu hendak pulang, dia membayar anak panah mereka dengan daging sebanyak yang bisa mereka bawa. Ketika mereka pergi, dia berkata: "Pastikan kamu tidak membiarkan orang lain datang menjual panah."
Sementara itu, warga desa mulai khawatir karena kedua bocah itu tidak pulang-pulang. Akhirnya, keduanya muncul di malam hari dan banyak orang pergi menengok mereka dan beban berat yang harus mereka pikul.
"Ke mana saja kamu?" tanya mereka.
"Kami telah pergi ke suatu rumah dengan seseorang yang bukan orang sejati."
Mereka mencicipi makanan yang mereka bawa yang ternyata sangat enak.
"Itu pembayaran untuk anak panah," kata mereka.
"Kita harus pergi dan menjual anak panah juga," kata yang lain.
Tetapi, kedua anak yatim itu mengatakan kepada mereka: "Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu. Ketika kami pulang, dia berkata: 'Jangan biarkan orang lain datang menjual panah.'"
Meskipun sudah diperingatkan, mereka semua tetap membuat panah. Esok harinya, mereka berangkat dengan banyak anak panah di punggung mereka. Kedua bocah itu sebenarnya tidak ingin pergi tetapi yang lain memaksa mereka untuk tetap ikut serta.
Mereka akhirnya tiba di tepi jurang dan mencari rumah yang diceritakan kedua anak yatim. Tapi, mereka tak menemukan apa-apa. Tak ada satu rumah pun di lembah itu. Hingga kini, tak ada yang tahu ke mana perempuan itu pergi.
Dan itulah terakhir kali dua anak yatim itu pergi berburu ptarmigan.
Cerita ini diterjemahkan dari "The Two Little Outcasts" di Eskimo Folk-Tales yang disunting oleh Knud Rasmussen (Gyldendal : 1921) dengan sejumlah modifikasi. Versi asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca di Project Gutenberg.
This is my Eskimo Stories Project. I translate Eskimo Folk-Tales (Gyldendal : 1921) into Bahasa Indonesia to introduce Eskimo art and culture to Indonesian and Malay-spoken language readers. There will be more than 50 stories I will publish. If I have enough money, I plan to print them in a book format. You can support me by upvote and reblog this post. I receive any donation for this project. Read all stories in topic #eskimofolktales.
#blogiwankwriting #jakarta #indonesia #budaya #life #culture #writing #story #literature #literary #book #eskimo #inuit #alaska #polar
| I hope you like my work. Please vote and reblog this post and follow |