An old man is eating from a bowl. Photo by AG Z from Pexels
Atdlarneq, Si Maharakus
Beginilah kisah tentang Atdlarneq. Dia adalah seorang pria yang kuat dan pandai berburu. Jika dia mendayung sedikit saja ke laut, dia akan dapat menangkap anjing laut. Dia tidak pernah gagal menangkapnya dan tidak pernah puas hanya dengan satu tangkapan.
Pada suatu hari, dia berburu anjing laut seperti biasa. Dia hanya mendayung di sepanjang perairan dekat pantai menuju ke selatan. Di tengah perjalanan dia melihat sebuah jubah dan mendayung ke sana. Ternyata di sana ada sebuah rumah kecil. Dia mendayung cukup dekat.
Dia berpikir: "Saya harus menunggu sampai seseorang keluar."
Dia berbaring di dalam sampan dengan dayung menyentuh pantai. Seorang perempuan tampak keluar. Perempuan itu memakai pita kuning di rambutnya dan jahitan kuning di semua pakaiannya.
Sekarang sampannya telah mencapai pasir, tetapi dia berpikir: "Lebih baik aku menunggu sampai yang lain keluar."
Saat dia sedang menimbang-nimbang, seorang perempuan lain keluar dari rumah. Seperti yang pertama, dia juga memaki pita rambut kuning dan jahitan kuning di seluruh bajunya.
Dia belum menginjak pantai dan masih berpikir lagi: "Aku bisa menunggu satu orang lagi."
Dan benarlah, muncul satu orang lagi yang sama seperti yang lainnya. Seperti yang lain, dia juga membawa piring di tangannya.
Akhirnya, dia naik darat mengangkat kayaknya.
Dia pergi ke rumah itu dan disambut dengan sangat ramah. Mereka membawakan banyak sekali makanan dan menyajikannya di hadapannya.
Malam pun tiba.
Ketiga perempuan itu bolak-balik keluar. Akhirnya Atdlarneq bertanya: "Mengapa kalian terus keluar seperti itu?"
Mereka semua menjawab serentak: "Itu karena kami sekarang menantikan tuan rumah kami tersayang."
Mendengar hal ini, dia jadi ketakutan dan bersembunyi ke balik gantungan kulit. Dia susah payah merangkak ke balik kulit ketika tuan rumah pulang. Atdlarneq melihatnya melalui sebuah lubang kecil.
Pipi tuan rumah itu ditindak gelang dari tembaga.
Dalam cerita rakyat Eskimo, ada makhluk luar biasa yang pipinya ditindik dengan tembaga. Makhluk ini dapat memberikan pukulan mengerikan dengan gerakan samping kepala. Anak-anak nakal seringkali diancam dengan "pipi tembaga" seperti hantu di masyarakat Indonesia.
Si tuan rumah baru saja duduk ketika dia mulai mengendus sesuatu dan berkata: "Hum! Ada bau manusia di sini."
Atdlarneq merangkak keluar saat melihat yang lain telah membauinya. Dia hampir tidak menunjukkan dirinya ketika yang lain bertanya dengan sangat bersemangat: "Apakah dia belum makan apa-apa?"
"Belum, dia belum makan."
"Kalau begitu segera bawakan makanan."
Fish foods. Photo by alleksana from Pexels
Mereka pun membawa sekarung penuh ikan dan sepotong besar lemak dari setengah anjing laut hitam. Kemudian tuan rumah itu berkata dengan kasar: "Kamu harus makan ini semua dan jika kamu tidak memakan semuanya, aku akan menghancurkanmu dengan pipi tembagaku!"
Atdlarneq mulai mengunyah lemak dan ikannya dengan penuh semangat. Dia mengunyah dan mengunyah dan akhirnya menghabiskan semuanya. Kemudian dia pergi ke ember air dan mengangkatnya ke mulutnya dan meminumnya. Dia meminum semuanya sampai tetesan air terakhir.
Dia hampir selesai ketika lelaki itu berkata: "Dan sekarang daging beku."
Mereka membawakan setengah daging anjing laut hitam. Atdlarneq makan sampai hampir tidak ada lagi yang tersisa.
Ketika lelaki itu melihat ada beberapa yang belum dimakan, dia berteriak dengan keras lagi: "Beri dia makanan lagi."
Atdlarneq pun makan lagi tapi dia mulai kekenyangan dan tidak ingin makan lagi. Tapi, mereka membawakan seekor anjing laut hitam utuh dan lelaki itu meletakkannya juga di hadapannya dan berseru: "Makan itu juga."
Atdlarneq terpaksa menjejalkan makanan itu ke mulutnya. Dia terus menyantapnya sampai habis dan sekali lagi mengosongkan air di ember.
Dia merasa sangat sehat dan sepertinya hampir tidak mungkin makan lagi. Itu karena dia telah menelan sedikit batang rumput sebelum dia mulai makan.
Atdlarneq pun jatuh tertidur. Keesokan paginya dia pulang. Sejak makan kekenyangan dan nyaris mati, dia kini tidak pernah lagi pergi ke selatan.
Note: Pictures shown above are for illustration purpose only
Cerita ini diterjemahkan dari "Atdlarneq, The Great Glutton" di Eskimo Folk-Tales yang disunting oleh Knud Rasmussen (Gyldendal : 1921) dengan sejumlah modifikasi. Versi asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca di Project Gutenberg.
This is my Eskimo Stories Project. I translate Eskimo Folk-Tales (Gyldendal : 1921) into Bahasa Indonesia to introduce Eskimo art and culture to Indonesian and Malay-spoken language readers. There will be more than 50 stories I will publish. If I have enough money, I plan to print them in a book format. You can support me by upvote and reblog this post. I receive any donation for this project. Read all stories in topic #eskimofolktales.
#blogiwankwriting #jakarta #indonesia #budaya #life #culture #writing #story #literature #literary #book #eskimo #inuit #alaska #polar
| I hope you like my work. Please vote and reblog this post and follow |