Source: Photo by Harrison Haines from Pexels
Ángángujuk
Ayah Ángángujuk sangatlah kuat. Ángángujuk tinggal bersama ayah dan ibunya di sebuah rumah di suatu tempat. Mereka tidak memiliki tetangga.
Suatu hari, ibunya menyamak kulit anjing laut. Dia membiarkan anaknya bermain kayak di luar lorong rumah, dekat pintu masuk. Sesekali dia memanggilnya, "Ángángujuk!", dan anak itu akan menjawab dari luar.
Namun, suatu kali, ketika dia memanggilnya berulang kali, tidak ada jawaban dari sang anak. Dia llau meninggalkan pekerjaannya dan mulai mencarinya tapi tidak dapat menemukan anak itu. Dia mulai merasa sangat takut bila suaminya menanyakan hal itu.
Ketakutannya semakin besar ketik melihat suaminya muncul dari balik karang sambil menyeret anjing laut hasil tangkannya.
Kemudian sanga suami maju dan berkata: "Di mana putra kecil kita?"
"Dia menghilang dariku pagi ini setelah kamu pergi saat dia bermain kayak di lorong."
Suaminya jadi sangat berang. "Kaulah wanita tua yang jahat yang telah membunuhnya. Dan sekarang aku akan membunuhmu," katanya.
"Jangan bunuh aku dulu tapi tunggulah sebentar. Pertama-tama, carilah orang yang bisa meminta nasihat kepada para roh," kata dia.
Sang suami mulai mencari orang seperti itu. Dia akhirnya pulang dengan membawa beberapa penyihir bersamanya dan meminta mereka mencoba apa yang dapat mereka bisa untuk menemukan anaknya. Usaha mereka gagal, maka dia pergi tanpa memberi mereka sepotong daging pun.
Dia lalu mencari penyihir yang lebih pintar untuk menemukan hal-hal yang tersembunyi. Akhirnya dia bertemu dengan orang seperti itu dan membawanya pulang. Kemudian dia mengikatkan tongkat ke wajahnya dan membaringkannay di tempat tidur.
Dia membantu penyihir itu merapal mantra sampai roh itu datang. Akhirnya penyihir itu membuka mata dan berkata: "Kelihatannya roh-roh di sini menemukan tugas yang sulit. Anak utu berada di antara dua tebing besar dan dua orang pedalaman tua menjaganya."
Mereka berdua kemudian berjalan ke timur. Setelah jauh berjalan, mereka akhirnya melihat banyak rumah. Ketika mendekat, mereka melihat asap keluar dari semua lubang asap rumah. Panas juga keluar dari dalam rumah.
Ayah Ángángujuk menengok ke dalam melalui jendela rumah dan melihat bahwa penghuninya bertengkar tentang anaknya dan anak itu tampak menangis.
"Siapa yang akan menjaganya?" kata salah satu dari mereka.
Mereka rupanya memperebutkan anak itu. Mereka masing-masing sangat ingin memilikinya. Ketika melihat ini, ayah Ángángujuk sangat marah.
Orang-orang di dalam bertanya kepada anak itu: "Apa yang ingin kamu makan?"
"Tidak ada," kata anak itu.
"Apakah kamu mau makan daging anjing laut?"
"Tidak," kata anak itu.
Anak itu tampak tidak peduli pada apa pun. Oleh karena itu mereka akhirnya bertanya: "Kamu sangat ingin pulang, ya?"
Ángángujuk menjawab dengan cepat: "Ya."
Ayahnya jadi gusar. Dia lalu meminta kepada para penyihir bersamanya: "Coba sekarang untuk menyihir mereka agar tertidur."
Para penyihir mulai merapal mantra tidur. Satu demi satu orang di dalam rumah itu jatuh tertidur dan mulai mendengkur. Hanya dua orang yang masih terjafa. Tapi kemudian salah satu dari mereka mulai menguap dan akhirnya berguling dan mendengkur.
Penyihir hebat itu merapal mantra tidur dengan sekuat tenaga untuk yang masih terjaga. Akhirnya dia juga mulai bergerak menuju tempat tidur. Dia kemudian mulai menguap sedikit dan akhirnya terguling dan tertidur.
Ayah Ángángujuk masuk dengan cepat untuk menyelamatkan putranya. Tapi, anak itu tidak memakai pakaian. Saat memeriksa keadaan sekeliling, dia melihat pakaian itu tergantung di bingkai pengeringan. Tapi rumah itu sangat tinggi sehingga mereka harus menjolok pakaian itu dengan tongkat.
Akhirnya mereka keluar dan terus berjalan. Langit mulau terang. Begitu sampai di rumah Ángángujuk, mereka melepas tambatan umiak dan buru-buru menyiapkan semuanya, lalu mendayung ke pulau-pulau terjauh. Mereka baru saja bergerak menuju pantai ketika melihat sejumlah orang di seberang rumah.
Tetapi ketika orang-orang pedalaman itu melihat mereka, Ángángujuk dan lainnya telah melaut. Mereka pergi ke rumah itu dan memukulinya. Mereka merobohkan atap dan dinding serta semua yang ada di sana.
Sejak itu, orang tua Ángángujuk tidak pernah lagi tinggal di daratan.
Cerita ini diterjemahkan dari "Ángángujuk" di Eskimo Folk-Tales yang disunting oleh Knud Rasmussen (Gyldendal : 1921) dengan sejumlah modifikasi. Versi asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca di Project Gutenberg.
This is my Eskimo Stories Project. I translate Eskimo Folk-Tales (Gyldendal : 1921) into Bahasa Indonesia to introduce Eskimo art and culture to Indonesian and Malay-spoken language readers. There will be more than 50 stories I will publish. If I have enough money, I plan to print them in a book format. You can support me by upvote and reblog this post. I receive any donation for this project. Read all stories in topic #eskimofolktales.
#blogiwankwriting #jakarta #indonesia #budaya #life #culture #writing #story #literature #literary #book #eskimo #inuit #alaska #polar
| I hope you like my work. Please vote and reblog this post and follow |