Siang tadi, 28 Jumadil Awal 1439 H, di kedai kopi pinggir Krueng Aceh, dua Taufik duduk semeja, berhadap-hadapan, menikmati kopi bersama. Aku bergabung dengan mereka ketika keduanya terlibat dalam pembicaraan yang cukup rahasia. Diselingi gelak tawa, duo Taufik ini tampak akrab kendati keduanya datang dari generasi berbeda.
Taufik yang pertama adalah Taufik Al Mubarak si empunya akun , penulis buku Aceh Pungo, aktivis (pada masanya) yang jurnalis, blogger, dan entah apa lagi ranah yang pernah digelutinya. Pokoknya, jika dikupas tuntas tentang pribadi satu ini di steemit, yakinlah, para pencipta platform ini harus menyediakanku cadangan bandwidth.
Taufik yang kedua (tokoh utama dalam tulisan ini) punya nama lengkap Muhammad Taufik bin Muhammad Sufi. Di steemit ia punya akun bernama . Ia seorang pemuda Busu, satu wilayah mukim di belakang selatan pasar Beureunun, Pidie. Busu adalah satu daerah penting dalam percaturan dunia rujak, tempat di mana orang-orang ngerti rujak Aceh kerap menghabiskan sisa-sisa akhir pekan mereka untuk sekadar menyantapnya di sana.
Muhammad Taufik bin Muhammad Sufi punya nama panggilan RasTaufik. Dulunya ia dipanggil Taufik, Fik, dan orang-orang jarang memanggilnya dengan penggalan kata Tau. Kata Ras adalah kata yang disematkannya sendiri. Itu berawal pada suatu siang, semasa ia masih remaja tanggung di kampungnya yang di kelilingi hamparan sawah di hampir segala arah mata angin. Pada siang yang tanggal, bulan dan tahunnya lupa ia lingkari dengan tinta spidol merah, Taufik yang masih remaja tanggung pergi main-main ke satu kilang padi kampung sebelah. Operatornya adalah seorang pemuda yang umurnya sedikit di atasnya, tapi sudah menganggap karib terhadap si Taufik ini.
"Kau dengar lagu ini, Tau!" Kata si karibnya Taufik sambil menyodorkan satu kaset lagu Ras Muhammad.
Itulah awal mula ia menemukan kata Ras untuk ditandemkan dengan Taufik, hingga hari ini orang-orang mengenalnya dengan nama RasTaufik. Belakangan ia (baru) tahu kata Ras yang telah disandangnya adalah kata dari Jamaica yang berarti Bung atau Gam dalam bahasa Aceh, atau Pap (singkatan dari kata Lempap) istilah panggilan teman-teman seperjuangan versi presiden Lempap di Yogyakarta.
RasTaufik atau GamTaufik atau BungTaufik atau PapTaufik adalah komedian muda Aceh. Namanya melejit di panggung-panggung stand up comedy, baik panggung tingkat lokal maupun interlokal. Di panggung Instagram, RasTaufik punya 40.9k pengikut, baik yang fanatik atau tidak. Di antara jumlah pengikutnya yang setara dengan 13 kali lipat dari jumlah anak buah Kohler malang ketika menyerbu Kerajaan Aceh pada April 1873 itu, sudah termasuk pula di dalamnya para dedemit-dedemit dunia maya yang fisik aslinya tak diketahui berwujud apa.
Laiknya seorang komedian, RasTaufik punya banyak lelucon. Tapi siang tadi ia tak sempat mengeluarkan lelucon-lelucon andalannya, sebab aku yang mewawancarainya terlalu dini bertanya tentang itu. Agak menyesal juga ketika mengingat betapa gegabahnya aku yang terlalu cepat bertanya tentang itu. Tentang itu. Ya. Tentang yang satu itu. Atau, ya sudahlah, kukata saja di sini.
"Kau punya pacar tidak, Ras?"
Mendengar pertanyaan gegabahku itu, RasTaufik terdiam. Lebih tepatnya terhenyak. Ia tak langsung menjawab, tapi terlebih dahulu menghisap asap rokoknya dalam-dalam, lalu jempol dan telunjuk kanannya sibuk memutar-mutar rokoknya dengan lincah. Sepersekian detik ia bisu, tapi selebihnya; cerita-cerita asmaranya membuncah keluar, runtut, runut, banyak nama ia sebut-sebut.
Celakanya, aku tak bisa membagikannya kepada kalian semua. Selamat malam, dan sampai jumpa di kisah yang sebenarnya.