Anak bungsu merupakan anak terakhir dalam satu keluarga.
Banyak yang mengatakan anak bungsu itu identik dengan anak yang manja. Dia bisa mendapatkan apa yang dia mau, tidak pernah di marahi, selalu di kasih hati, dan lain sebagainya.
Bagi saya, anak bungsu itu dikatakan sebagai anak yang manja bisa jadi iya bisa jadi tidak. Kenapa? Karena semua itu tergantung sudut pandang bagi yang melihatnya.
Berhubungan saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara, pada kesempatan ini saya mencoba untuk menulis apa yang sebenarnya saya rasakan menjadi seorang anak bungsu.
Di sini, di dalam keluarga saya merasakan selalu mendapat perhatian lebih dari mereka, mereka yang benar-benar menyayangi saya.
Terutama perhatian dari sosok terpenting dalam hidup ini, yaitu kedua orangtua saya, terkhusus perhatian dari seorang ibu.
Mulai dari pagi, pertama saya di bangunkan oleh mereka (keluarga) untuk shalat subuh.
Setelah itu saya bebas mau melakukan apa saja, apa saya mau tidur lagi? Atau mau mengerjakan apa yang mau saya kerjakan? (Hari libur).
Tapi biasanya setelah shalat subuh saya menjalankan aktivitas harian, seperti naik ngaji diwaktu subuh atau bersiap-siap pergi kuliah (hari biasa).
Saat saya mau berangkat, selalu sarapan pagi sudah tersediakan di meja makan. Siapa lagi yang menyediakan kalau bukan sosok pahlawan yang nyata dalam hidup ini (ibu).
Begitu juga pada waktu siang dan seterusnya, saya menjalani hidup selalu dengan dikelilingi kasih sayang dari mereka.
Di rumah, saya memang tidak pernah dimarahi dengan keras, tidak pernah di suruh untuk mengerjakan pekerjaan yang berat, tidak pernah dipaksakan untuk menuruti kehendak keluarga.
Saya bebas untuk memilih jalan hidup, dengan kunci saya tidak nakal dan tidak melewati batas.
Di dalam keluarga bisa dikatakan saya diutamakan, iya diutamakan. Mungkin bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, seperti banyak hal atau benda yang telah mereka berikan, terutama dari anak sulung yang Alhamdulillah kehidupan beliau sekarang sudah lumayan.
Namun, dengan semua itu tidak membuat saya harus malas. Saya tetap harus bekerja dan berjuang untuk orang-orang yang perlu saya bahagiakan kelak, karena saya juga punya kehidupan sendiri ke depannya. Sebagai anak bungsu saya bertekad harus lebih sukses dari abang dan kakak.
Jadi sekarang yang intinya. Saya sebagai anak bungsu, sebenarnya bungsu itu bukan berarti manja. Tapi apa juga? Mungkin sudah fitrah anak bungsu mempunyai kehidupan seperti demikian, karena dia adalah anak terakhir dalam keluarga yang semua perhatian dan kasing sayang keluarga hanya tercurahkan kepadanya.