Apa hubungannya antara cinta dan Titanic? Ada. Karena Titanic tenggelam bukan sebab ulah penumpang. Tapi awak kapal yang lalai.
Berumah tangga juga begitu. Tanggung jawab bersama. Menguatkan dalam duka, mengingatkan dalam suka. Supaya tidak lalai. Tidak mengulang kesalahan yang sama, tidak meniru kesalahan orang lain.
Source pixabay.com
Cinta tanpa pemahaman mengenai rumah tangga itu sendiri, justru jadi ancaman. Cinta itu butuh dijaga, dirawat.
Seperti segala hal di dunia, sebaik apapun hal itu, bila dibiarkan begitu saja. Pasti rusak.
Jangan mencela pasanganmu, itu benar. Tapi bukan berarti mengingatkan dan menegur menjadi tidak dibolehkan.
Membiarkan kesalahan yang berulang, itu bukang sayang namanya. Justru cara paling lembut untuk menghancurkan segalanya.
Pasanganmu tak sempurna, sama seperti dirimu. Jadi terbuka saja dengan kritik dan teguran. Diatas semuanya, mereka yang menegur hanya akam bersikap begitu selama mereka peduli.
Jangan bahagia bila dalam rumah tangga, tak lagi ada kritik, tak lagi ada teguran, hanya pembenaran dan pembenaran lalu pembenaran hingga akhirnya pemakluman total. Karena artinya hanya satu, sudah tidak peduli lagi.
Source pixabay.com
Lihat. Tak beda dengan Titanic yang tenggelam. Kabarnya (saya pernah baca di salah satu tulisan), ada beberapa sebab kapal kolosal itu tenggelam karena menabrak gunung es. Satu diantaranya, petugas pengawas yang terlambat melihat gunung es itu. Satu teori menyebutkan, ia tak sengaja meninggalkan teropongnya di pelabuhan.
Benarkah itu? Entahlah. Tapi masuk akal juga.
Rumah tangga pun sama. Meremehkan kewajiban saling mengingatkan, meremehkan hak untuk menegur dan ditegur, akan membuat keduanya perlahan-lahan menjadi manja dan egois bila nanti ditegur. Lalu memicu amarah yang akhirnya membuat pasangan jadi enggan menegur bila ada salah (walaupun dengan lembut dan penuh cinta tegurannya). Dan kesalahan berulang. Lalu jadi lingkaran 'setan' yang pelan-pelan akan semakin menjauhkan satu sama lain. Akhirnya...
Hidup memang tidak mudah. Tapi membuatnya jadi susah dijalani, sama tidak baiknya dengan menggampang-gampangkan.