Hai Steemians
Saat ini merupakan tahun pertarungan politik di Indonesia, banyak dari kita mungkin merasa jemu melihat kondisi serta situasi yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Karena tahun politik ini telah dengan benar-benar mempengaruhi perilaku sosial di kehidupan masyarakat kita. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam kepala dan hati mereka, kenapa harus memojokkan pihak lawan yang berseberangan dengan cara-cara yang mengenyampingkan etika, cara-cara yang kotor.
Banyak contoh yang dapat kita lihat dilingkungan sekitar kita, hampir setiap hari kita mendengar obrolan semi politik yang tentunya mengerucut pada pemilu serentak 2019. Sebagian besar isi obrolan itu tidak jauh dari menduga-duga, mencurigai serta tuduhan terhadap salah satu pihak yang kebenarannya belum tentu. Seandainya yang mereka katakan itu keliru tentinya akan menjadi fitnah, dan vwalaupun obrolan itu benar juga akan termasuk dalam gunjingan.
This is a year of political battles in Indonesia, many of us may feel tired of seeing the conditions and situations that occur in society today. Because this political year has really influenced social behavior in the lives of our people. We never know what is in their heads and hearts, why must cornering the opposing side in ways that set aside ethics, dirty ways. There are many examples that we can see in the environment around us, almost every day we hear semi-political chatter that certainly converges in the simultaneous elections in 2019. Most of the content of the chat is not far from guessing, suspecting and accusations against one party whose truth is not necessarily. If what they say is wrong, it will certainly be a slander, and even if the conversation is correct it will also be included in gossip.
.
Apa yang terjadi disekitar kita akan menjadi tidak seberapa bila kita bandingkan dengan yang terjadi di dunia maya, khususnya media sosial. Saat ini media sosial justru tidak jarang menjadi tempat beredarnya berita-berita yang harus dicek kembali kebenarannya, dan yang terparah adalah berita bohong atau hoax. Media sosial saat ini menjadi suatu tempat yang sangat pavorit bagi sebagian orang-orang yang memperjuangkan pilihan politiknya. Sampai-sampai para ahli politik, akademisi bahkan para ahli agama dapat dengan mudahnya menggiring masyarakat kepada opini tertentu. Kita tentunya bukan mengkritik tujuan mereka, tetapi cara-cara yang mereka pakai, kalau dengan cara yang baik dan santun tentunya tidak bermasalah. Saat ini di media sosial begitu banyak warganet yang dengan gampangnya melontarkan cacian, umpatan, celaan dan yang sejenisnya kepada orang-orang yang tidak disukai. Bahkan dengan gelar-gelar yang sebenarnya sangat tidak pantas disematkan pada manusia. Dan ironisnya, hal itu digarap oleh mereka-mereka yang dijadikan tokoh oleh warganet. Mereka dengan begitu mudahnya menggiring masyarakat pengguna media sosial dengan statusnya.
What happens around us will be nothing if we compare it to what happens in cyberspace, especially social media. At present social media is not infrequently a place for news to be circulated, the truth is correct, and the worst is hoaxes or hoaxes. Social media is currently a very favorite place for some people who fight for political choices. To the extent that political experts, academics and even religious experts can easily lead people to certain opinions. We certainly do not criticize their goals, but the methods they use, if in a good and polite manner, are certainly not a problem. Nowadays on social media there are so many citizens who easily throw insults, curses, reproaches and the like to people who are not liked. Even with titles that are actually very inappropriate to be pinned on humans. And ironically, it was worked on by those who were made figures by citizens. They so easily lead the social media user community to their status.
Salah satu efek dari media sosial yang sudah terlihat saat ini adalah, terpecahnya masyarakat menjadi kelompok-kelompok yang bersaing dalam memperjuangkan jagoannya. Sekali lagi kita tidak mempermasalahkan tujuan perjuangan mereka, karena untuk mencapai suatu tujuan tentu harus dengan perjuangan. Namun, bukan berarti perjuangan itu harus dihiasi dengan cara yang justru menciderai tujuan mulai dari perjuangan itu sendiri.
Yang disayangkan adalah, preferensi seseorang yang berpolitik saat ini telah dibawa ke segala kehidupan. Orang-orang mulai terkesan tidak mau lagi duduk bersama untuk sekedar ngopi karena pandangan politiknya yang berbeda. Mengapa pada saat kita menginginkan jagoan kita yang menang, kita harus menjatuhkan orang lain yang kita anggap sebagai lawan. Bukankah kita dapat menjual menjual produk yang kita unggulkan tanpa harus menjelekkan produk orang lain ?. Bukankah kita dapat mengekspos kelebihan kita tanpa membuka aib orang lain ?. Mungkin dengan hal itu tahun politik saat ini dapat berjalan dengan lebih santun.
One of the effects of social media that has been seen at this time is that the community is divided into groups that are competing in fighting for their champion. Once again we do not question the purpose of their struggle, because to achieve a goal must be a struggle. However, that does not mean that the struggle must be decorated in a way that actually hurts the goals starting from the struggle itself. What is unfortunate is that the preference of a person who has politics at this time has been brought to all lives. People start to feel they don't want to sit together for coffee because of their different political views. Why when we want our champion to win, we have to bring down the other person we consider as an opponent. Can't we sell the products we sell without having to vilify other people's products? Can we not expose our strengths without opening the shame of others? Maybe with that political year now it can run more politely.
Demikian tulisan singkat hari ini, terima kasih telah membaca dan salam bahagia dari dataran tinggi.
Thus the short writing today, thank you for reading and happy greetings from the highlands.