MENJALANI puasa di perantauan tidaklah mudah. Meski setegar apa pun, tidak dapat dipungkiri akan rindu kampung halaman. Homesick datang melanda, tanpa permisi. Di mana rindu orang tua dan keluarga adalah cobaan terberat bagi insan di perantaun. Namun, mau tidak mau si anak rantau harus tetap menjalankan puasa sekokoh batu karang.
Secara pribadi ada tiga hal yang yang paling saya rindukan saat puasa di kampung halaman.
1.Kangen Makan Bersama dan Masakan Buatan Ibu Tercinta
Seperti pengalaman saya hari ini. Alih-alih ingin merasakan empek-empek seperti buatan Ibu saat buka puasa, bermodal nonton resep di Youtobe, saya pun beraksi membuat empek-empek sendiri. Dengan penuh semangat, Tepung Taipoka dan tepung beras saya cari di 7-11 di bawah apartment. Percaya diri, mulailah meracik dan membuat adonan empek-empek. Namun apa yang terjadi? Setelah buka puasa, ternyata percobaan membuat empek-empek sendiri benar-benar gagal. Tak selezat masakan ibu.
Rindu Makan bersama dengan menu yang disajikan dengan penuh kasih sayang, adalah beban pertama yang dirasakan di perantauan.
2. Kangen Tarawih dan Tadarus Bersama
Masih teringat jelas, sehabis berbuka dan melakukan salat Maghrib, saya dan keluarga segera mempersiapkan diri untuk pergi tarawih ke masjid terdekat. Tak hanya Tarawih, kami selalu kalangan remaja, setelah salat selesai saya dan kawan-kawan yang lain tetap tinggal di masjid untuk melakukan tadarusan. Jika pulangnya tidak berani, kami pun pulang bersama-sama yang diantar kakak pembimbing tadarus. Suasana itu begitu hangat dan penuh rasa kekeluargaan.
Source
Berbeda situasi di kampung halaman. Bagi saya pribadi, yang tinggal jauh dari akses masjib Agung Taipei, tentunya tidak bole keluar jika malam. Melakukan salat Tarawih sendirian, dilanjut tadarusan melalui via online dengan rekan-rekan di di PCIM Taiwan.
3.Jalan Sehat Bersama Setelah Salat Subuh
Dahulu jika selesai sahur, saya segera membereskan bekas sisa sahur dan bersih-bersih rumah. Setelah itu pergi ke masjid untuk menunaikan Salat Subuh berjamaah. Tidak lupa juga janjian dengan teman-teman untuk pergi jalan pagi ke arah Lapangan. Tak hanya kami, banyak muda mudi, anak-anak, serta orang tua yang tidak tidur setelah salat Subuh. Mereka melakukan jalan sehat, menyusuri jalanan Binter Raya. Bahkan beberapa orang ada yang jahil dengan menyalakan petasan. Suasana tersebut sudah lama tidak saya rasakan. Berbeda di perantaun, sesegera mungkin sahur, melaksanakan salat Subuh, kemudian tidur kembali. Karena esok hari harus beraktivitas seperti biasa.
Tiga aspek di atas yang saya rindukan dari kampung halaman, bagaimana dengan rekan Steemians yang lain? Jika ada yang berbeda, bisa ditambahkan di kolom komentar.
Angin yang menyapa mengungkapkan rasa rindu. Membisikan hasrat untuk bersua. Pergilah duhai angin, sampaikan salam rinduku untuk keluarga yang berada jauh di seberang sana.
Taipei, 23 Mei 2018