Pernahkah kalian membaca sebuah karya tulis yang panjang namun terasa sangat pendek, rasanya belum cukup? Atau pernahkah kalian merasa keasyikan ketika membaca karya seseorang, sehingga membuat kalian betah sekian lama bergelut dengan karya tersebut, ketika membacanya tak satu pun huruf kalian biarkan luput? Atau pernah sebuah karya membuatmu tersenyum, geli, ingin, merinding, sedih, getir? Jika pernah, percayalah itu sebab pemilik karya yang kau baca itu memiliki bank kata di kepalanya, ia lihai mempergunakan setiap kata ke kata, pandai merangkainya.
Dalam menciptakan karya, salah satu yang wajib kau miliki selain gagasan dan kecakapan adalah kekayaan kosakata. Kita tidak sedang semata berbicara karya tulis dalam makna sempit, melainkan karya apa saja yang membutuhkan tulisan dan kata-kata. Sebab setiap karya memang memiliki suara sendiri. Dan terkadang ia meminta kita menyampaikan tentangnya dengan kata, atau kita menyebutnya deskripsi. Sebuah karya bagus yang dijelaskan amburadul akan kehilangan beberapa bagian keindahannya, demikian sebaliknya. Daya jual sebuah karya adalah kata-kata, karya apa saja. Semakin bagus kau mengabarkan perihal karyamu, semakin membuat ia tertarik. Kukira kita cukup paham perkara ini. Jika belum paham juga, kita akan berbicara lain kali, di warung kopi.
Menjadi penting memiliki banyak kosakata. Itu akan sangat membantu kau menyampaikan apa saja. Kosakata yang banyak akan membuatmu lebih mungkin terhindar dari kebuntuan, selalu punya cara menyampaikan gagasan, tidak kaku, tidak berulang-ulang kata. Selain membuat karya menarik, tidak membosankan, kekayaan kosakata juga bisa membangkitkan daya bayang yang lebih hebat bahkan untuk ilustrasi yang mestinya biasa saja. Percayalah, bahkan mantra sekali pun berpangkal pada rangkaian kata. Mantra bahkan bisa membuat seseorang sakti mandraguna. Maka jangan heran jika seorang playboy juga politisi pun menggunakan kata sebagai modal meraih jabatan, selain uang dan kekuatan-kekuatan lainnya.
Kuasailah kata-kata sebanyak mungkin. Salah satu cara, membaca banyak karya lain, tandai kata atau frasa yang belum pernah atau jarang atau unik kau rasa. Untuk menghindari kemiskinan kosakata saya punya satu cara lazim, yaitu memanfaatkan sinonim dan membalik ucapan-ucapan lazim tanpa membedakan makna dasarnya. Misal seseorang menulis, "aku menangis lirih", saya menulis "tangis lirihku". Dan cara lain, mendengar lagu-lagu berlirik bagus, memelajari rangkaian kata penulis lirik itu. Dan puisi? Tak bisa dipungkiri bahwa puisi yang baik jika sering dibaca dan dipelajari dengan baik akan membuatmu pandai menulis dengan baik.