Di ranah kepenulisan dan sastra Indonesia, bahkan di Aceh, nama Nazar Shah Alam tidaklah besar. Meski sudah menulis sastra di koran sejak tahun 2009, saya belum merasa layak disebut sastrawan. Meski sudah menulis ratusan karya, saya masih ragu menyebut diri pujangga.
Bagi saya, seorang penulis yang layak disebut sastrawan adalah mereka yang karya sastranya meledak, dibicarakan di banyak ruang sebab kualitas, diakui oleh ramai orang sebagai karya yang layak baca, bukan karena pengaruh diri di kawanan, bukan karena ia telah menulis banyak di koran. Itu menurut saya, maka saya tidak pernah berani mengatakan bahwa saya seorang sastrawan, kecuali ketika sedang dalam keadaan melawan kesombongan dengan kesombongan.
Hingga sekarang saya tetap percaya bahwa seorang penulis baru dianggap punya karya bagus bila ia sudah menembus ruang sastra di koran. Sebab untuk masuk ke sana, kau harus berjuang keras mengalahkan banyak penulis lain yang secara pengalaman dan karya mungkin lebih hebat darimu. Itu semacam pengakuan kau sudah lulus ujian besar. Ini sama dengan seorang penyanyi atau band. Kau akan dianggap sebagai bintang jika masuk pasar dan meledak di sana. Jika masih berkutat di media sosial seperti YouTube dan sebagainya, itu belum dianggap. Masih belum terbukti bisa bersaing dan diterima oleh penikmatnya.
Siapa yang membuat standardisasi ini? Pasar atau khalayak pelaku kreativitas tersebut. Kembali ke menulis. Mungkin pada masa terakhir ada beberapa penulis blog dan buku yang dianggap penulis meski tidak masuk koran. Sebab kualitas karyanya layak diperhitungkan.
Namun jika ingin melihat penulis sastra yang bagus, tetap saja (saya ngotot) ruang sastra koran sebagai pembuktian. Kurasi dan penilaian di ruang sastra koran lebih baik, ketat, dan penuh pertimbangan. Tidak sembarang orang bisa menembusnya. Kita yang punya karya-karya berkualitas eskontelan ini, jangan terlalu berharap bisa masuk ke ruang timbang total seorang redaktur yang jelas-jelas mumpuni.
Lalu di Steemit? Sadarlah, Steemit tidak diciptakan untuk penulis saja. Ruang kepenulisan hanya salah satu di antara ruang kreasi lainnya yang tersedia.
Sebagai ruang yang memberikan hak penilaian kepada semua pengguna, maka naif rasanya membandingkan kualitas karya di platform ini dengan lainnya. Konon lagi koran yang redakturnya sudah sangat paham pada bidang yang dinilai. Sebab karya di Steemit pun bukan hanya tulisan, meski tidak luput juga ia sebab segala postingan butuh penjelasan dalam rupa kata-kata, maka tak patut rasanya membuat standard karya di sini mengikuti standard karya di luar sana.
Meskipun saya seorang penulis yang tentu saja mengharap konten-konten di Steemit dijelaskan atau dibuat dalam bentuk yang bagus sesuai kaidah kepenulisan, namun saya tidak pernah ingin menghakimi mereka yang bukan penulis: walaupun mereka menulis buruk sekali. Saya ingin realistis saja dan memang sampai saat ini saya melihat Steemit sebagai ruang berkarya yang bebas menampung segala. Jika memang saya tidak suka, saya tidak akan memberikan hak suara kepada postingannya, begitu sebaliknya.
Untuk apa kemudian menghakimi mereka atas hal yang tidak semestinya? Untuk apa memaksa setiap orang sama dengan kita? Toh ini media sosial. Umpamakan ini sebuah rumah, apa pedulimu terhadap isi rumah orang lain? Jika tak berkenan, jangan bertamu, tak perlu menghina. Selesai perkara.
Saya penulis koran, sekarang saya juga Steemian. Di koran, kita akan bertarung kualitas menulis. Jika dimuat di koran adalah patron kualitas, saya sudah punya karya ratusan sebagai ejawantah bahwa saya petarung di sana. Dan saya berkualitas. Di Steemit, kita bersukacita, membuat postingan apa saja sesuka hati tanpa harus begana begini. Usahakan saja kontenmu baik, yang informatis, kreatif, dan jika bisa itu berguna. Mari melihat Steemit sebagai ruang bahagia.