Posisi lead dalam berita dengan lead pada feature sangat berbeda. Pada berita lead biasanya hanya satu di bawah judul. Tapi, dalam feature, semua paragraf harus dijadikan sebagai lead bagi paragraf selanjutnya. Sering disebut sebagai lead yang ditunda atau delayed lead.
Lead dalam penulisan berita sering dipahami sebagai teras berita yang mengandung gambaran umum tentang isi berita tersebut. Hal-hal yang penting biasanya ditumpuk pada paragraf awal berita. Sehingga, semakin ke bawah nilai berita menjadi semakin tidak penting. Pada berita aktual ini sering disebut sebagai direct lead yang berisi fakta terpenting dan terbaru untuk segera ditulis di bagian awal.
Berbeda dengan feature, semua paragraf harus dibuat menjadi penting. Seperti saya jelaskan tadi, setiap paragraf adalah lead bagi paragraf selanjutnya. Intinya, ada hal yang ditunda (delayed) untuk dijelaskan dalam setiap paragraf. Dan, hal yang ditunda tersebut akan dijelaskan dalam paragraf selanjutnya.
Jadi setiap paragraf merupakan rangkaian yang terkait. Diusahakan, hal yang ditunda tersebut merupakan informasi yang bisa merangsang keingintahuan pembaca, sehingga, pembaca belum merasa mendapat informasi yang utuh sebelum menemukan penjelasan dari informasi yang ditunda tadi pada paragraf selanjutnya.
Delayed lead ini biasanya berisi keterangan menarik untuk menangkap perhatian pembaca. Hal baru tidak harus segera dipaparkan, bisa dicicil di paragraf selanjutnya. Penulisan delayed lead ini memerlukan kemampuan bertutur yang memikat, sehingga lead menjadi kuat.
Sebuah lead yang kuat itu biasanya, bisa menjawab masalah penting bagi pembaca, berorientasi pada pembaca, menimbulkan riak pada permukaan emosional atau intelektual pembaca. Kemudian ada daya rangsang yang “memaksa” pembaca untuk membaca keseluruhan tulisan.
Teknik ini saya dapatkan dari Maskun Iskandar, pengajar senior di Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS) di Kebon Sirih, Jakarta. Pendalamannya kemudian saya peroleh pada kursus jurnalisme sastrawi di Banda Aceh yang diasuh Janet E Steele, profesor jurnalistik dari George Washington University.
Menulis feature bisa dicontohkan seperti orang mengikat batu bata saat membangun sebuah bangunan. Antara bata yang satu dengan bata yang lain, ada semen sebagai pengikat. Begitu juga dengan feature, antara satu paragraf dengan paragraf yang lain, adanya bridge atau jembatan penghubung. Fungsinya untuk membuat feature mengalir, tidak patah-patah.
Bridge dalam berita biasanya merupakan kalimat transisi dari lead ke paragraf selanjutnya. Sementara dalam feature ia merupakan pengikat satu paragraf dengan paragraf lainnya. Pembaca tidak akan merasa puas membaca satu paragraf tanpa melanjutnya ke paragraf selanjutnya, karena ada yang ditunda dan diikat kembali seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Selain delayed lead dan bridge tadi, yang tak kalah pentingnya pada penulisan feature adalah development, yakni pengembangan tubuh karangan menjadi rangkaian utuh. Dalam pengembangan penulisan feature bisa juga menggunakan prosa, baik eksposisi, narasi, maupun deskripsi.
Setelah itu, yang terakhir yang tak kalah penting adalah ending. Pada penulisan feature biasanya ada dua macam ending yang bisa digunakan, summary dan the snapper. Isi ending summary ini merupakan butir-butir pokok atau kesimpulan dari isi feature itu sendiri.
Sementara the snapper ending merupakan sebuah pernyataan menyentak (striking statement) yang membuat pembaca menemukan rasa yang beda, sehingga ada kesan yang didapatkan. Contoh sederhananya ibarat menonton sebuah film aktor utamanya mati di akhir cerita. Ada rasa tak terduga, kaget, sedih, simpati dan lain sebagainya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.