Sudah lama saya ingin menulis cerita tentang beragamnya suku yang ada di tanah Aceh yang kita cintai ini, karena semakin banyaknya fenomena yang terjadi dalam lingkungan propinsi yang kita cinta ini, mengatasnamakan diri suku merekalah yang punya propinsi Aceh.
Penulis akan membahas dengan ilmu dan logika walaupun dengan batasan ilmu penulis sendiri, tulisan ini mungkin bisa kiranya menyadarkan dan mampu mempersatukan kita yang berbeda suku dan budaya, walau tak sadar kitalah yang punya Aceh atau dengan kata lain kita adalah keluarga yang sepatutnya bersatu bukan terpecah.
Banyaknya persoalan perbedaan suku yang ada di Aceh membuat lingkungan sosial kita semakin kacau. Dengan kata lain, banyaknya perpecahan dalam membagakan sukunyalah yang paling cocok dan punya propinsi Aceh ini. Perlu kita resapi dan pikirkan sebagai manusia berpikir, apakah kita sebagai manusia ingin melawan Tuhan yang menciptakan kita dengan berbeda suku dan bangsa agar bersatu dan disatukan lewat agama dan negera, apakah kita ingin melawan ciptaan tuhan ini?. Tentu tidak, kita sebagai manusia haruslah patuh dan taat pada perintah Tuhan.
Sebenarnya apa yang kita patut bangakan dengan megatakan suku kitalah yang punya Aceh, suku kitalah yang pertama menginjak tanah Aceh, dan suku kitalah yang paling banyak menduduki tanah Aceh, buat apa?. Masalah ini sudah patutnya kita Deskotruksi(dibongkar dan dirubah), kita tidak sadar kitalah manusia yang Tuhan ciptakan agar bersatu, dulu kita di satukan lewat bambu runcing yang memerdekan negeri ini dengan darah dan tangisan. Apakah dikepala kita tak tak sadar, apa yang sebenarnya kita perlu sombongkan dengan suku yang ada dalam diri kita yang ditetapkan Tuhan, umur yang singkat dan badan yang sehat tak selamanya abadi karena umur di dunia hanya persigahan sementara. Apakah kita bisa memilih dilahirkan dari suku yang kita mau?, jelas tidak bisa.
Suku-suku yang ada di Aceh adalah milik kita sebagai penghuni propinsi asli yang paling istimema dan memang punya hak istimewa mau itu suku Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Pakpak, Devayan, Haloban, Kluet, Lekon, Singkil, Sigulai, Tamiang dan suku lainnya, kitalah yang punya tanah Aceh ini.
Perbedaan adalah sebuah anugrah paling indah, seperti memandang bunga di taman, maka mata akan merasakan keindahan dengan melihat berbagai warna bunga yang berbeda warna. Begitulah kita, dengan berbagai warna suku yang berbeda, kitalah sebenarnya sumber keindahan dengan perbedaan (plural societies).