Mana yang lebih berharga
Kerumunan beribu orang atau kesendirian sejatimu?
Kebebasan atau kuasa atas seluruh negeri?
Sejenak, sendiri dalam bilikmu akan terbukti lebih berharga daripada segala hal lain yang mungkin kau terima
(Sepenggal Puisi Jalaluddin Rumi)
Jalaluddin Rumi sangat sedih dan terpukul atas kehilangan gurunya tersebut. Lalu, ia pun mengungkapkan rasa kasih sayangnya terhadap Syamsuddin Tabriz dan penyesalan atas kematiannya dalam bentuk musik, tarian dan syair.
Dalam sesi pertama penulis sudah menjelaskan sedikit tentang latar belakang kehidupan Maulana Jalaluddin Rumi, maka sekarang kita lanjutkan sedikit tentang pendidikan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian beliau yang mengalami perubahan sangat drastis.
Telah dijelaskan bahwa guru beliau yang pertama adalah ayahnya sendiri yang juga seorang ulama terbesar pada saat itu, yakni Syeich Bahauddin Walad Muhammad bin Husein yang diberi gelar Sulthanul Ulama karena ketinggian dan keutamaan ilmu agamanya.
Setelah Syeich Bahauddin meninggal dunia, Jalaluddin Rumi berguru kepada sahabat sekaligus murid kesayangan ayahnya yaitu Syeich Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, pengganti ayahnya memimpin perguruan/madrasah. Syeich Burhanuddin sendiri merupakan salah seorang yang tingkatan ilmunya mendapat pengakuan dari seluruh ulama.
Jadi, dalam usia muda, Jalaluddin Rumi telah berguru kepada dua orang ulama yang paling utama dinegerinya. Hal tersebut memantaskan ketinggian ilmu Jalaluddin Rumi. Beliau, atas saran gurunya juga pernah belajar hingga ke Syam (suriah) selama beberapa tahun lalu kembali ke Konya untuk belajar lagi serta ikut mengajar di Madrasah.
Berkat kedisiplinan dan ketekunannya dalam menimba ilmu dari kedua gurunya tersebut, dalam usia yang baru 37 tahun, Jalaluddin Rumi telah menjadi ulama tertinggi di Konya dan belia di beri gelar Maulana Rumi (Guru Bangsa Rum). Beliaupun meneruskan perjuangan ayahnya sebagai pemimpin dan guru dalam pengembangan ilmu agama di Madrasah yang dibentuk oleh ayahnya serta memiliki murid yang sangat banyak dari semua kalangan.
Pertemuan dengan Shams Tabriz dan Ihwal Perubahan
Satu riwayatmengatakan bahwa suatu ketika, saat beliau pulang dari madrasah menuju kerumahnya, dalam perjalanan beliau mendengar seseorang berkata;
Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya,
Atau orang sufi persia, Bayazid Bisthami berkata; subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya kekuasaanku
Mendengar perkataan tersebut, Maulana Jalaluddin Rumi seketika pingsan. Setelah beliau siuman, seseorang memberitahukan beliau bahwa yang berkata tadi adalah Syamsuddin Tabriz (juga dikenal Shams of Tabriz atay Syams Tabriz).
Sedangkan dalam riwayat yang lain diterangkan bahwa pertemuan dengan Syams Tabriz adalah saat beliau sedang memberi pelajaran di Madrasah. Ketika sedang asik mengajar, seseorang yang tidak belaiu kenal bertanya kepada beliau; “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?”
Beliau tidak mampu menjawab. Berikutnya, Jalaluddin Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah berkenalan dan berbincang-bincang beberapa saat, beliau mulai kagum kepada Syams Tabriz yang ternyata seorang sufi.
Pertemuannya dengan Syamsuddin Tabriz atau yang akrab disapa Syams Tabriz inilah yang kemudian menjadi sebuah momentum atau titik perubahan dari hidup Maulana Jalaluddin Rumi. Mereka pun menjadi sahabat yang sangat dekat satu sama lain.
Mereka sering berduaan dalam kamar untuk jangka waktu yang sangat lama, bahkan sampai berhari-hari, untuk berdiskusi, berdebat dan menimba ilmu dari guru barunya.
Hal tersebut memicu kecemburuan sebagian muridnya yang merasa bahwa Maulana Jalaluddin Rumi telah lalai dalam mengajari mereka dan hanya mementingkan dirinya bersama Syams Tabriz, sang sufi yang diangkat menjadi gurunya.
Sultan Salad, putera Maulana Jalaluddin Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu;
Tidak lama setelah itu, Syamsuddin Tabriz meninggal dunia. Beliau dibunuh oleh salah seorang murid dari Maulana Jalaluddin Rumi karena kecemburuannya. Sebuah riwayat lain menjelas bahwa Syamsuddin Tabriz mengetahui kecemburuan para murid tersebut dan memutuskan pergi secara diam-diam meninggalkan Maulana Jalaluddin Rumi.
Maulana Jalaluddin Rumi sangat sedih dan terpukul atas peristiwa tersebut. Lalu, ia pun mengungkapkan rasa kasih sayangnya terhadap Syams Tabriz dan penyesalan atas kematiannya dalam bentuk musik, tarian, dan syair.
Selama hampir 10 tahun setelah pertemuannya dengan Syams Tabriz, Rumi pun terus mengabdikan dirinya untuk menulis ghazal atau sastra puisi yang merujuk pada sebuah tangisan kematian.
Jalaluddin Rumi telah menjadi seorang sufi, berkat pergaulannya dengan Syamsuddin Tabriz.
Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Untuk mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia menulis syair-syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula nasihat-nasihat gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Jalaluddin Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas motivasi dari sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair.
Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Jalaluddin Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai kekhusyukan.
Cintaku pada-Nya adalah hakikat jiwaku. Hidupku adalah gelora yang selalu merindukan-Nya.
Aku hidup seperti seorang gipsi pengembara, aku tak pernah menetap di tempat yang sama, namun setiap malam aku selalu bernyanyi dan menari ditemani bintang-bintang di bawah langit yang sama.
(Jalaluddin Rumi)
Sumber Bacaan:
Dunia Rumi; Hidup dan Karya Penyair Besar Sufi
Revolusi Sang Matahari: Kelana Cinta Jalaluddin Rumi
Jalaluddin Rumi; Sang Maestro Cinta Ilahi
https://id.wikipedia.org/wiki/Jalaluddin_Rumi
http://kajikisah.blogspot.co.id/2015/08/biografi-singkat-maulana-jalaluddin.html
http://www.anekamakalah.com/2012/05/biografi-jalaluddin-rumi.html
Special Thanks to yang telah menyarankan saya untuk membuat tulisan ini dan kanda
yang memberikan masukan untuk penulisan.
Teristimewa kepada Syeich DR.H. Faisal Nur, LC, M.Ag, Guru Sekaligus Teman Tercinta
Dengan Segala Kerendahan, @Lamkote