Ada yang lebih suka menggunakan kata “saya”, ada juga yang lebih senang memakai kata “aku”. Alasan lebih senang tidak masalah, tetapi sebaiknya dipahami juga mengapa kata “saya” atau “aku” yang dipilih dan digunakan. Jika hanya karena kebiasaan atau lingkungan, maka dari itu belum tentu sebenarnya mengerti dan paham, meskipun kedua kata ini paling sering digunakan dalam keseharian.
Jika mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia (https://kbbi.web.id), kata “saya” dideskripsikan sebagai 1 orang yang berbicara atau menulis (dalam ragam resmi atau biasa); aku; 2 ya: -- , Tuan!. Sedangkan kata “aku” dideskripsikan : yang berbicara atau yang menulis (dalam ragam akrab); diri sendiri; saya. Bagaimana menurut Anda masing-masing?!
Teringat ketika ingin sekali belajar membuat script film, lalu mendapat kesempatan pergi ke Universal Studio di Florida, Amerika Serikat saat masih di bangku sekolah SMA, senangnya minta ampun! Sempat melihat dan bertanya banyak sana sini, dan memang intinya kembali lagi pada kekuatan dari diri sendiri di dalam berkarya dan berimajinasi, dan hanya dengan memiliki jati diri serta kepribadian yang kuatlah kita pun bisa berkarya original.
Sebelum melanjutkan, mungkin ada yang bertanya, memangnya boleh kita memiliki deskripsi kata kita sendiri?! Pertanyaannya lagi, siapa yang melarang?! Kita boleh saja memiliki deskripsi masing-masing atas setiap kata, sesuai dengan diri kita sendiri dan menjadi ciri khas atau cerminan jati diri kita. Namun, tentunya deskripsi tersebut bukan deskripsi yang disepakati bersama seperti yang terurai di dalam kamus, sehingga belum tentu semua orang paham dan mengerti. Kita sendiri pun barangkali hanya mengerti dan paham sebatas menggunakannya saja, kan?!
Sekarang siapkan buku kosong coret-coretan seperti yang sudah saya minta siapkan sejak posting “Belajar Arti dan Makna Kata – Pendahuluan”. Langkah pertama adalah dengan mencoba menguraikan kata “saya” dan kata “aku” sebanyak masing-masing 40 uraian. Jangan mengeluh dulu, ya, dicoba dulu! Jumlah 40 uraian itu bagi pemula, kalau yang sudah lebih mahir harus bisa minimum 100 uraian, dan yang memang sudah mahir harus bisa sebanyak 300 uraian.
Teknik ini adalah teknik lama yang diberikan oleh para penulis lama yang sudah tiada kepada saya, seperti kakek Rosihan Anwar, yang kebetulan pada awal saya menulis, beliaulah yang membantu saya. Begitu juga yang diajarkan oleh seorang dosen kelas perubahan politik internasional saya, DR. M. Ramesh, untuk membantu saya bisa berpikir lebih jernih untuk memahami setiap kata, sebab di dalam politik, kata itu sangat berperan. Biarpun keras, tetapi saya menyukainya, karena ini sangat membantu sekali agar kita bisa benar paham dan mengerti semua kata yang kita ucapkan dan tuliskan, karena kita juga yang harus bisa mempertanggungjawabkannya. Untuk membaca pun juga sangat membantu, karena kita bisa lebih bisa paham dan mengerti maksud serta tujuan penulis. Tidak ada ruginya sama sekali belajar menggunakan teknik ini, yang sayangnya sudah ditinggalkan di “jaman now” ini.
Mencoba menguraikan kata “saya” dan “aku” ini memang merupakan praktek dari “Belajar Arti dan Makna Kata – Melihat Dari Segala Sudut Pandang”, di mana kita memang harus bisa mengarahkan imajinasi kita sendiri terhadap diri kita sendiri, lebih kepada pribadi, pemikiran, hati, semua yang lebih di dalam diri, bukan hanya sekedar tampilan, keinginan, ambisi, cita-cita, pekerjaan, atau lahiriah semata. Percaya tidak percaya, kata “saya” akan jauh lebih sulit untuk diuraikan daripada kata “aku”. Coba saja sendiri!!!
Kata “Saya” dalam bahasa Inggris adalah “I”, sedangkan kata “Aku” lebih dekat dengan kata “Me”, yang lebih bersifat kepemilikan. Memang banyak perdebatan soal ini, apalagi terjadi pergeseran penggunaan kedua kata tersebut sejak kata “saya” pertama kali digunakan dalam sebuah buku berjudul “Student Hidjo”, karya Marco Kartodikromo, 1918.
“Cara Marko Kartodikromo menulis bukunya benar-benar berbeda dari cara menulis para penulis terkenal dan senior pada masa itu, seperti Armjin Pane. Dia benar-benar keluar dari standard Bahasa pada saa itu. Kata-kata yang digunakannya tidak mendayu-dayu tetapi sangat kuat dan cerita. Tampak aneh menggunakan kata “Saya” pada saat itu, terutama pada sastra, tetapi beliau memiliki argumen soal ini. Beliau memiliki persepsi berbeda atas kata “Hamba” yang biasa digunakan oleh penulis dari Sumatra, dan tidak juga mau memakai kata “Aku: seperti yang digunakan penulis asal Jawa. Kata “Hamba” terlalu pasif baginya, sementara kata “Aku” terlalu kasar dan tidak sopan. Beliau memilih menggunakan kata “Saya” untuk menjelaskan posisinya yang sama dengan yang lain tetapi juga tetap menjaga standard kesopanan.” – (https://steemit.com/explore1918/@mariska.lubis/student-hidjo-1918-novel-that-become-an-imporant-history-of-changes-in-indonesia-bilingual)
Kita tidak perlu membahasnya, ini hanya sekedar pengetahuan sejarah yang sepatutnya kita ketahui agar kita juga bisa lebih arif di dalam menentukan pilihan kata yang hendak kita gunakan. Yang terpenting adalah kita sendiri benar tahu arti dan makna kedua kata tersebut dan tahu kapan digunakan serta di mana ditempatkannya. Jangan sampai kita salah dan kemudian bingung sendiri, atau bahkan hanya ikut-ikutan tanpa tahu dengan pasti yang sebenarnya. Salah ikut, bisa ikut salah.
Dari 40 uraian yang sudah dibuat atau toal 80 uraian dari kedua kata tersebut, kita juga sebenarnya bisa menggunakan setiap uraian tersebut menjadi tema dari tulisan kita sendiri. Ini menjadi trik juga sebenarnya agar tidak kehabisan ide di dalam menulis, atau tidak juga berkutat pada yang sama terus, tetapi bisa lebih kreatif dan imajinatif. Satu kata saja bisa menghasilkan banyak tulisan, dan alangkah menyedihkannya bila kita bisa kehabisan ide dalam menulis, sementara ada banyak sekali bahan yang sesungguhnya bisa kita tuliskan.
Ambillah kesimpulan dari semua uraian tadi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata “saya” dan “aku” menurut Anda sendiri. Ambil buku tebal satu lagi, dan jadikanlah buku tersebut sebagai kamus kata pribadi Anda sendiri, yang penting dimiliki oleh penulis. Seperti yang sudah sering saya katakan, penulis besar biasanya selalu memiliki kamus kata-kata pribadi mereka, dan ini adalah kunci dari setiap tulisan yang mereka buat. Tulislah deskripsi kata “saya” dan kata “aku” versi Anda masing-masing di dalam kamus tersebut. Isilah kamus tersebut dengan sebanyak mungkin kata, dengan menggunakan metode yang sama dengan cara di atas. Semakin banyak kata dalam kamus pribadi kita sendiri, maka akan semakin kuat juga jati diri dan kepribadian kita, di dalam menulis dan juga di dalam keseharian. Di dalam membaca pun kita bisa lebih arif dan mengerti, karena kita sendiri sadar penuh tiap orang memang berbeda.
Sekedar saran, lanjutkan dulu dengan mencari deskripsi kata “Anda”, “Kamu”, “Dia”, “Mereka, “Kami”, dan “Kita” sebelum mencari kata yang lain. Satu persatu saja, tidak perlu buru-buru. Saya pun mengerjakan kamus pribadi saya sudah lebih dari 25 tahun dan masih terus saya lanjutkan hingga kini. Sabar, tekun, sabar, tekun, sabar, tekun. Itu saja yang harus dilakukan, kok! Hehehe…
Selamat mencoba dan semoga berguna bermanfaat!
Bandung, 5 Maret 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis