Foto : lukisan berjudul "Me and Myself", cat minyak, karya saya sendiri.
Menulis adalah kegiatan sehari-hari dilakukan oleh kita semua sejak kecil. Menulis bukan hanya menulis artikel, jurnal, makalah, buku, reportase, tetapi juga termasuk menulis percakapan di HP, SMS, dan lain sebagainya. Menulis satu huruf bahkan satu angka, satu titik, satu coretan pun sudah berarti menulis. Dapat dikatakan bahwa hampir semua manusia menulis, kecuali mungkin bila buta huruf dan berada dalam kondisi situasi tertentu yang tidak memungkinkan untuk menulis.
Ada hal yang disadari tak disadari, sering tidak kita pertanyakan, yaitu "Mengapa Kita Menulis"? Jawabannya nampak mudah, tetapi sesungguhnya tidak juga bila kita pikirkan lebih dalam lagi. Tentunya ada banyak jawaban yang muncul, seperti karena hobi, uang, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain. Jawaban-jawaban ini, hanyalah akibat dari alasan dalam diri kita, alasan yang berupa jawaban sesungguhnya atas pertanyaan di atas.
Banyak buku, jurnal, artikel yang sudah menguraikan apa yang dimaksud dengan menulis. Uraian yang paling sering digunakan adalah ekspresi atas diri kita sendiri lewat kata-kata. Kata sendiri sebenarnya banyak ragam dan jenisnya, angka termasuk kata dalam bentuk simbol. Jika diperhatikan, rumus saja sebenarnya uraian atas kata-kata yang disingkat menggunakan simbol-simbol. Musik, lagu, gambar, patung pun sebenarnya adalah kata-kata, sebab mereka juga berkata. Apapun yang ada di alam semesta ini sesungguhnya berkata, hanya saja tergantung pada pembacanya saja, mampukah membacanya?
Sebagai contoh adalah sepotong roti yang ada di atas piring. Jika kita mau membaca roti tersebut, mungkin kita akan lebih mengenal roti tersebut. Roti itu menceritakan siapa yang membuatnya, bagaimana dibuatnya, kapan dibuatnya, mengapa dia dibuat, dan seterusnya. Semua tergantung pada pembacanya dengan persepsinya masing-masing. Oleh karena itu, menulis bukanlah hanya sekedar ekpresi atas diri kita lewat kata-kata. Tidak sesimpel itu bila dipikirkan lebih jauh.
Menulis bukan hanya sekedar diri kita sendiri, tetapi dia, kamu, mereka, semua yang ada dan terjadi di semesta ini juga termasuk di dalamnya. Kita tidak akan bisa menulis bila tidak memiliki semua yang ada itu, sebab kita amat sangat tergantung dan dipengaruhi oleh semua yang ada, baik yang nampak maupun tak nampak, jauh atau dekat, kita ketahui ataupun tidak ketahui. Apa yang akan dan dapat dituliskan tanpa semua itu?
Menulis memang benar menunjukkan diri kita yang sebenarnya. Cara, alur, pola, struktur berpikir dan berperilaku nampak jelas dari tulisan yang kita tulis. Begitu juga dengan keadaan, situasi, kondisi yang ada. Kata yang diuraikan bisa saja dusta, tetapi sesungguhnya kata itu tidak pernah berdusta. Yang berdusta adalah diri kita sendiri, kemampuan seseorang membaca dusta yang ada lewat tulisan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Tulisan memiliki "cap jempol" penulisnya, bisa dikatakan justru tulisan adalah "cap jempol" penulisnya. Setiap penulis memiliki karakter dan ciri khas masing-masing walaupun gaya tulisan, bentuk tulisan, cara penulisannya bisa berbeda-beda. Tidak dilihat dari coretan tulisan tangan (grafologi), namun dari banyak hal terutama "kata" yang digunakan. Di sinilah juga bisa nampak jelas pemahaman penulis atas setiap kata yang dituliskannya.
Bisa saja seseorang mengkopi, "copas", dan menjadi seorang plagiat, namun sebaiknya hati-hati dan jangan pernah dilakukan dengan alasan apapun juga. Selalu ada yang mempelajari "kata" dan dengan mudah bisa membuktikannya. Penulis yang baik selalu paham dan mengerti setiap kata yang dituliskannya, pembaca kebanyakan hanya bisa mempersepsikannya saja. Pembaca yang serius membaca serta paham dan mengerti dapat melihat ciri khas dan semua kecurangan yang ada. Oleh karena itu, jangan heran bila hampir semua penulis hebat di dunia ini memiliki kamus kata-katanya sendiri sebagai pegangan dan ciri khas.
Kembali kepada pertanyaan mengapa kita menulis. Allah menulis, bukan hanya lewat kitab-kitab suci tetapi pada setiap ciptaanNya, termasuk kita. Jika membaca Al-quran, semuanya dapat dibuktikan. Tulisan Allah yang sedemikian indahnya tidak hanya sebatas keindahan, tetapi setiap kata bahkan huruf yang ada mengandung makna yang sulit untuk dibuat oleh manusia paling pandai, hebat, jenius sekalipun. Mengapa? Lantas mengapa, Allah menulis? Hanya Allah, penulisnya yang paling tahu. Kita hanya mampu sebatas menafsirkan, mempelajari, dan menjalankan perintahNya.
Mengikuti jejak kebaikan Allah yang menulis, mempertimbangkan semua kegunaan dan manfaatnya, mendorong saya untuk terus menulis. Bagi saya pribadi, menulis adalah sarana untuk terhubung dengan sesama manusia dan semua makhluk ciptaan Allah. Saya hanyalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan bersosialisasi, dan kata adalah cara yang paling mudah untuk dapat bersosialisasi. Saya menulis berarti meletakkan hati, jiwa, roh, dan segala tentang diri kita ini di alam semesta untuk memastikan keberadaan diri kita dengan segala tujuan dan manfaatnya. Negatif atau positif adalah pilihan masing-masing, yang pasti semua aksi akan ada reaksi, juga sebaliknya. Tinggal kesiapan diri kita sendiri untuk berani bertanggungjawab dan menerima semua resiko yang ada.
Semua ini sangatlah pribadi, tidak perlu diperdebatkan. Silahkan masing-masing menemukan jawabannya sendiri.
"Teruslah menulis sahabat baik di Steemit maupun di mana kalian berada. Ukirlah bintangmu, kalian adalah bintang!"
Bandung, 7 September 2017
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis
English version : https://steemit.com/writing/@mariskalubis/writing-1-why-we-write