Malam sahabat stemian..
Kali ini saya akan menyampaikan tentang lanjutan ketidakseimbangan elektrolit pada postingan beberapa waktu yang lalu. Saya akan sedikit berbagi ilmu tentang ketidakseimbangan elektrolit berupa kekurangan Kalium atau Hipokalemia. Disebut hipokalemia apabila nilai Kalium darah kurang dari 3,5 mmol/L yang dapat diperiksa dengan pemeriksaan darah elektrolit.
Kalium adalah ion yang sangat penting bagi tubuh kita terutama bagi aktivitas sel jantung atau potensial aksi jantung. Kekurangan kalium dapat menyebabkan jantung berdebar-debar, pusing yang tidak tertahankan, mual muntah, dan kram serta kesemutan.
Untuk meningkatkan kadar kalium, kita dapat mengonsumsi pisang, alpukat, kacang-kacangan dan kentang. Akan tetapi bagi pasien dengan Hipokalemia sedang hingga berat, seperti pasien yang dirawat di ruang intensive, harus mendapatkan terapi intravena berupa cairan elektrolit pekat KCl (Kalium Clorida). Cara menghitung jumlah KCl yang akan diberikan dapat menggunakan rumus berikut ini :
Ket :
BB = berat badan pasien
Cairan elektrolit KCl
syringe pump
Yang harus diingat adalah KCl adalah elektrolit pekat yang termasuk obat high alert. Pemberiannya melalui jalur intravena akan menimbulkan komplikasi berupa phlebitis berat karen bersifat korosif. Oleh karena itu sebaiknya diberikan melalui akses CVC (Central Venous Catheter) dengan pengenceran dalam 50 cc NaCl 0,9% dengan waktu pemberian minimal selama 30 menit menggunakan syringe pump. Dan bila melalui akses intravena perifer, harus diencerkan dalam 500 cc cairan Ringer Lactat dengan waktu pemberian minimal 8 jam melalui infus makro.
Semoga bermanfaat..