Hai guys, sudah posting di Steemit hari ini? Jika belum, ngopi saja dulu mana tau muncul inspirasi baru. Karena inspirasi bisa dari mana saja guys; saat melihat gadis cantik, kopi pagi, ibu-ibu penjual nasi guri, bahkan inspirasi yang berasal dari rasa iri terhadap orang lain. “Jangan rindu, itu berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja” kata Dilan dengan begitu romantisnya.
Tapi bukan itu yang ingin saya bahas hari ini. Melirik judul diatas tentu kita akan bertanya-tanya, apakah menjadi Steemian itu berat? Tentu berat, jika tidak memahami secara detil seluk beluk Steemit melalui sumber yang terpercaya. Tidak sedikit pula yang memilih cara-cara “rendahan” untuk memuluskan tindak tanduknya di platform ini. Maaf, kenapa saudara kita yang tuna netra berani menyusuri jalanan yang begitu ramai, itu karena dia yakin bahwa tongkat penunjuk jalan miliknya tidak akan membawanya kearah yang salah. Lantas kenapa kita malah pesimis dan memilih dan menganggap jalan kita lalui akan buntu?
Tidak ada standar khusus untuk menjadi Steemian. Cukup memiliki akun, maka ruang kosong yang selama ini luput dari kepedulian dapat kita isi dengan ide dan kreatifitas yang dapat kita manfaatkan secara optimal di platform ini. Selain menyalurkan hobby, mengembangkan bakat, Steemit juga menghasilan uang. Seperti hanya proses mencari uang di dunia nyata yang cukup sulit, bahkan ada yang sampai memilih jalan salah untuk mendapatkannya. Steemit juga demikian, tidak mudah mendapat uang jika kita hanya berpangku tangan kemudian menadah keatas dan meminta orang-orang untuk berbagi uang melalui Steemit. Tulisan, video atau foto yang jadikan konten harus dikemas sesempurna mungkin agar orang melirik dan memberi apresiasi kepada karya kita.
Steemit adalah media blogging yang memberikan penghargaan kepada penggunanya dalam bentuk reward. Banyak yang bergabung di Steemit dengan segala gegap gempita karena media ini memang berbeda, jika pun ada yang menganggap Steemit adalah media pencari uang semata, mungkin mereka terlahir secara prematur dari rahim ibunya dan kemudian cara berfikirnya juga ikut-ikutan prematur. Perbedaan Steemit dengan media sosial lain hanya dirasakan oleh mereka yang memiliki karya spesial; seperti fotografi, video maker, dan penulis (meski pemula). Mereka memiliki media untuk menyalurkan karya mereka, meski sebelumnya beberapa media sosial juga dapat dimanfaatkan, tetapi Steemit adalah dimensi lain yang bergengsi. Karena bagaimanapun, kualitas konten tetap yang diutamakan.
Jika pun Steemit dimanfaatkan sebagai media pencari uang, apakah itu sebuah masalah? Dan jika pun Steemit sebagai media penuh nilai sosial dengan kekuatan komunitasnya, saya pikir itu juga bukan masalah karena kami Steemian tidak menyerobot lahan milik pemerintah atau tanah warisan orang tua milik mereka yang berkoar-koar memberi komentar negatif terhadap Steemit. Sudahlah kawan, jika Steemit belum mampu memberi uang kopi atau uang membeli kuota internet untuk kalian, lebih baik berusaha kembali dengan giat dan sungguh-sungguh daripada mencela disana sini. Kami tidak memaksa kalian untuk terus berada dimedia ini, silahkan bertahan dengan media sosial lain yang anda sukai dengan segala kelebihan yang anda yakini.
Dan jika pun anda bertahan disini, kami tidak meminta anda menyembah kami seperti berhala. Cukup dengan silaturrahmi, mungkin kami bisa memberi sedikit "upvote" pada karya anda dan secangkir kopi hasil penjualan reward yang telah kami dapat disini.
Tidak perlu merasa hebat ketika anda memilih untuk berada dijalur lain, karena selemah-lemahnya iman adalah ketika sifat iri dan dengki yang membuat anda merasa lebih hebat dari yang lain saat memilih untuk berada pada posisi tersebut. Karena bagi kami, pendapat “sampah” yang anda tulis adalah kebodohan yang dipelihara. Cukup kami saja yang menjadi Steemian, karena untuk mendapatkan upvote itu berat. Sekian***