Semilir angin malam berdesir membawa hawa dingin dari celah-celah pintu maupun jendela. Hawa sejuknya begitu kuat terasa menembus pori-pori kulit. Suasana tampak lengang dari hiruk-pikuk dunia. Sekali-kali terdengar bunyi seng tersibak dari atap rumah tetangga atau bunyi dedaunan berayun disentuh sang bayu.
Aku masih duduk di sini untuk sebuah perenungan.
Akhir-akhir ini aku begitu kesulitan melawan rasa kantuk dan sering tertidur lebih awal. Dan malam ini mencoba bereksperimen dengan meneguk secangkir kopi yang kupesan dari warkop di seputaran kampungku.
Namun yang terjadi bukannya membuat kondisi raga terjaga sesuai harapan malah makin memperburuk keadaanku yang memang tidak dalam kondisi baik. Kepalaku malah terasa berat dan pusing. Hampir beberapa lama aku harus bergumul melawan beban yang menghimpitnya. Sakitnya tak terkira. Kucoba melawan nyeri hebat itu dengan menulis.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku di steemit sebagai terapi melawan rasa sakit. Distraksi istilahnya. Dan Alhamdulillah aku sudah merasa lebih baik sekarang. Kepalaku jadi terasa ringan. Hmmm... Sebenarnya memang inilah tujuan awalku menyesap cairan hitam itu agar aku dapat menikmati kebersamaanku dengan steemit.
Untuk sementara waktu aku mencoba membersamai diri dengan steemit di malam hari. Karena akhir-akhir ini banyak hal yang harus kupikirkan. Mulai dari tuntutan pekerjaan, menjadi ibu rumah tangga, keluarga dan hal-hal remeh lainnya yang terkadang membuat emosi jiwa. Aku takut konsentrasi pecah dan susah fokus nantinya. Aku mengambil langkah ini untuk kebaikan semuanya terutama untuk diriku sendiri. Aku juga tidak ingin steemit selalu menjadi kambing hitam oleh mereka yang tidak mengerti.
Setelah beberapa saat dalam perenungan ini hujan mulai turun, dimulai dari rintik-rintik ringan kemudian menjadi lebat. Tetesan-tetesannya begitu cepat menghantam bumi. Allah tidak henti-hentinya memberi rahmat untuk mahkluk di muka bumi. Namun terkadang kurangnya rasa syukur dari mereka yang bernama manusia yang memandang sebuah anugerah yang diperoleh tanpa meresapi maknanya. Dan bagiku steemit adalah anugrah terindah. Aku sangat bersyukur dapat mengenalnya, dan untuk itulah aku di sini meluangkan waktuku[]