Saya bersama Raihan
Tuan dan Puan Steemians...
Pada saat mengisi Pelatihan Menulis Santri 6 Mei lalu di Grand Nanggro Hotel, perhatian saya tertuju pada seorang santri yang duduk di bagian pojok ruangan. Tubuhnya kecil. Dia adalah peserta termuda yang hadir dalam pelatihan tersebut.
Selama pelatihan berlangsung, dia terlihat serius memerhatikan materi dan sesekali mencatat. Sementara sebagian peserta lain tampaknya adalah penghafal-penghafal hebat.
Ketertarikan saya kepada remaja kecil ini, bukan hanya karena keseriusannya, tapi juga usianya yang masih sangat muda.
Namanya Raihan. Lahir pada 11 Juli 2005. Saat ini dia masih berstatus sebagai siswa kelas 1 SMP. Dia dikirim sebagai peserta oleh Dayah Nurul Walidin Aceh Tengah.
Menurut pengakuannya, dia datang sendiri dari Aceh Tengah ke Banda Aceh. Tidak ada yang mengantar.
Pada saat materi selesai, saya mencoba menemui remaja kecil ini di ruang makan. Sikapnya sopan dan sangat hormat kepada orang yang lebih tua darinya. Saya tahu, ini adalah sikap umum yang dimiliki para santri. Sebab saya pun pernah menjadi santri.
Saya menghabiskan beberapa menit untuk berbicara dengan santri bernama Raihan ini. Sepintas memang terlihat "diskriminatif," sebab saya tidak melakukanya dengan santri lain. Tapi saya memang memiliki pandangan berbeda kepada Raihan.
Dia mengaku bercita-cita ingin menjadi penulis. Dia terlihat serius dan ingin terus belajar.
Tadinya di ruangan, pada saat saya menayangkan kutipan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, dia terlihat mencatatnya.
Meskipun saya sendiri masih terus belajar menulis, saya kagum pada anak ini. Semangat menulisnya telah tumbuh di usianya yang sangat muda.
Saya meminta Raihan untuk tidak berhenti belajar dan berlatih menulis. Semoga saja Raihan dapat mewujudkan cita-citanya dengan usaha yang terus-menerus.
Selain Raihan, memang ada beberapa santri lagi yang punya semangat sama. Tapi, kali ini saya memilih Raihan.
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali...