ketika ia hilang
Kenikmatan dan hidayah sering datang dan muncul dalam diri, namun tanpa kita sadari, terkadang seseorang bisa menjaga baik atau terkadang sebaliknya. ketika ia mulai terkikis dan dirasakan ada sesuatu yang hilang, barulah datang penyesalan besar. terutama pada kenikmatan ruhani.
kenikmatan ruhani sendiri adalah kenikmatan pada ruh, menyangkut keimanan dan ketenangan hati. dulunya sangat dekat dengan sang khaliq (pencipta), mampu menghafal dengan Quran dengan baik, mampu muraja'ah (mengulang) hingga beberapa juz (lembaran), rutin melaksanakan shalat dhuha dan tahajjud, namun sekarang terasa hampa dan hilang.
penyebab utamanya adalah maksiat. maksiat yang dimaksud bukan hanya maksiat yang kelihatannya buruk dalam pandangan manusia, namun yang lebih berbahaya ketika kita melakukan suatu kebaikan bukan karena khaliq (pencipta).
solusinya adalah iltijja' yaitu berlari kencang menuju sang khaliq (pencipta), taubat dan menyesal, menangislah dihadapan khaliq, bersujudlah, karena kita hanyalah hamba yang berdosa, yang tidak pernah sempurna. namun ingat kita tidak dilarang untuk menuju titik kesempurnaan.
bulir tangisan dan sujud panjang tidak akan sia-sia. tangan yang mengadah beserta suara lirih yang menyertai tidak menjadikan kita hina, karena sang khaliq adalah sebaik penolong dan Dialah yang maha tahu..