Koro iamat talie, jema iamat cerak ke. (Kerbau dipegang talinya sedangkan manusia dipegang omongannya)
Ini adalah salah satu peribahasa dari suku kami yaitu suku Gayo.
Sayang di ko sudere-sudereku Gere mubetih uren urum porak ni Lao berdetak pas kuatas ni ulumu..
(Sayang sekali kau saudara-saudaraku engkau tidak tau hujan dan panasnya terik matahari yang pas langsung ke kepalamu).
Itu selalu kau kerjakan hanya untuk menanam dan merawat kopi supaya kopi yang kau tanam dapat memuaskan kepada mereka penikmat kopi gayo...
Tetapi kau tak pernah tau berapa harga segelas yang mereka beli dari sang pengelola minuman kopi itu,
Mungkin jika engkau tau kau tak akan mau menjual harga kopimu Dengan harga miris menyedihkan...
Apakah mereka buta yang duduk nyaman di ruangan ber-AC, dan atau mereka tidak tau keadaan kalian seperti apa, sehingga mereka santai menghadapi kesejahteraaan kalian....
Kopi kita mendunia pak semua orang merasa puas saat menikmati kopi kami, dan mereka yang memesan berbentuk pergelas dengan harga tidak terjangkau lagi, sehingga mereka berpikir bahwasanya petani-petani kopi itu hidupnya sejahtera,
Tapi apa yang dipikirkan mereka salah pak harga yang kami jual ke toke-toke dengan mereka yang menjual dengan berbentuk minuman sungguh-sungguh jauh beda perbandingannya....
Janji bukan sekedar janji sayangi petani kopi..
promise not just a promise love coffee farmers ...