Warung kopi adalah kuil tempat kita memuja berhala yang bernama Dewi Sosialita. Di kuil ini aplikasi system berpikir kolektif diupdate tiap menit sehingga sang ummat selalu merasa diri bagian tak terpisahkan dari ritual penyatuan persepsi. Warung kopi adalah kamp konsentrasi tempat kita dijajah oleh ketakutan untuk tampil beda, mandiri, dan individualistis
Begitulah fakta yang terjadi di warung kopi. Setiap beda harus dikonflikkan. Setiap yang tinggi harus direndahkan. Setiap aib harus dibedahkan. Setiap salah harus dikalahkan. Setiap yang pintar harus dibodohkan. Setiap yang maju harus dimundurkan. Setiap yang strategis, harus dibuat ditangiskan. Setiap yang bijak harus dibajak. Bahkan sampai setiap kemajuan harus dipertanyakan.
Terperangkap Di Warung Jadul
Pulang dari aktifitas, siang ini saya kembali terperangkap di salah satu warung kopi jadul. Kenapa saya bilang jadul? Karena kedai kopi ini, sama sekali tidak mengikuti era modernisasi yang menjalankan berbagai konsep penjualan kekinian, modern dan tertata rapi
Terlepas dari kesan jaman dulu atau modern, namun saya tetaplah bukan seorang pemburu kopi yang bercita rasa modern yang tau berbagai jenis dan rasa kopi. Saya hanyalah seorang biasa yang terkadang ke warung kopi hanya sekedar singgahan untuk membuat postingan, atau sekedar mendapatkan layanan WiFi saat data internet di kartu saya kepepet
---oooo00oooo---
Warung kopi yang menurut saya jadul ini karena didalamnya hanya menyediakan jajanan biasa buat anak-anak, seperti kerupuk, kacang goreng maupun beberapa jenis kue kering yang dititipkan pembuatnya. Kesan jadul dari warung kopi ini kian terasa saat melihat proses pembuatan kopi yang hanya menggunakan air dari termos, jadi buat pecinta kopi sejati, jangan harap akan mendapatkan kepuasan
Harga limun cenderung lebih murah dibanding minuman bersoda. Limun bisa langsung diminum dengan es batu, sehingga membuat minuman ini nampak serupa dengan Orson. Bedanya, Orson tidak mengandung soda, sedangkan limun sebagian besar mengandung soda.