Kami saling kenal ketika sama-sama bekerja sebagai koresponden Jurnal Nasional. Dia untuk wilayah Kalimantan Timur, saya untuk Aceh.
Namanya Rusli. Ketika Jurnas (sebutan untuk Jurnal Nasional) mengadakan rapat dengan koresponden dari seluruh Indonesia, saya lupa persisnya tahun berapa, kami berjumpa di kantor Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta.
Setelah itu tidak berjumpa lagi sampai Jurnas almarhum. Tiba-tiba pada 13 Maret saya dapat pesan dari Rusli yang mengabarkan dia akan ke Aceh. Saya menduga ke Banda Aceh, ternyata ke Takengon dan Bireuen.
Alhamdulillah. Saya bisa me jumpain ya kalau di Bireuen. Kebetulan akhir pekan itu kami sekeluarga punya rencana mengunjungi abang ipar yang masuk rumah sakit sekaligus mengunjungi Ummi. Akhirnya, kami bertemu di Hotel Meuligo yang tidak jauh dari rumah kami.
Rusli sekarang bekerja di Kemendes, di bagian Humas. Akhir pekan itu ia ikut Menteri Muhaimin Iskandar yang berkunjung ke Takengon, Bireuen, dan Matang.
Kami berbagi kisah, tentang Jurnal Nasional yang telat mengantisipasi perubahan teknologi informatika sehingga gagal pindah dari cetak ke online.
Kini Rusli sudah jadi warga Jakarta. Saya tanya, tanahnya yang luas di Kaltim jangan dijual dulu. “Nanti kalau Ibukota Indonesia pindah, harganya pasti melangit.”
Rusli hanya tertawa.