I just found out that the eating together event is a common activity for some of the local communities in Indonesia. The Sundanese call Botram and it has been regarded as the Sundanese culture, eating together on banana leaf. Later, I know, this gathering is adopted as a moment for community to get to know each other. The botram itself is an event that specialized on community activity to strengthen solidarity, togetherness and as the moment to open up who we are. On this event, we are all in the same level, we have the same dignity that reflects simplicity.
Saya baru tahu bahwa gaya makan ini telah menjadi trendsetter bagi beberapa komunitas lokal di Indonesia. Dalam bahasa Sunda disebut Botram. Ini telah menjadi budaya Sunda makan bersama di daun pisang. Belakangan saya tahu, pertemuan ini telah diadopsi sebagai momen bagi komunitas untuk mengenal satu sama lain. Botram itu sendiri adalah acara yang mengkhususkan sebuah komunitas untuk menegaskan sikap solidaritas, kebersamaan dan momen untuk membuka diri dengan lingkungan. Pada acara ini, kita semua berada pada tingkat yang sama, kita memiliki martabat yang sama dan tidak mencerminkan kemewahan selama acara ini.
This botram is the prolonging preserved culture in some part of Indonesia. It mainly aims is to uphold the brotherhood tie, sharing food, tell a tale or getting to know each other closely. This activity has much to do with social activity that reflects the attitude, as of the mankind is a social creature that is equipped with skill to interact among individuals. The botram is expected to be a social activity and as the event to get to know each other.
Botram ini dianggap sebagai budaya yang terus berlanjut di beberapa bagian di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menjunjung persaudaraan, berbagi makanan, menceritakan sebuah kisah atau saling mengenal secara mendalam. Kegiatan ini berhubungan dengan aktivitas sosial yang mencerminkan sikap bahwa umat manusia adalah makhluk sosial yang dilengkapi dengan keterampilan untuk berinteraksi antar individu. Melalui botram ini diharapkan bisa menjadi media untuk mengetahui dan menghargai satu sama lain.
Having this such eating activity can adjust any social value which has been prevailing within society or community and it brings up a positive effect to any individual. It is very blessed opportunity to share our social value to the new friends. Botram itself has been literally meant as 'eating together', and it has become a traditional feast party for Sundanese people of West Java, Indonesia.
Kegiatan seperti ini dapat menyesuaikan nilai sosial yang telah berlaku di komunitas yang membawa dampak positif bagi siapapun. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk berbagi nilai sosial kita kepada kawan baru. Botram sendiri secara harfiah berarti 'makan bersama', dan ini telah menjadi pesta tradisional bagi orang Sunda, Jawa Barat, Indonesia.
It has been recognized that in Indonesia culture, food hold an prominent role, it is not only pleasing the stomach but food has a strong relationship with the customs to represent certain identity of the society in Indonesia which serves the unique diversity within community members. It needs no fancy dining tableware, no complicated etiquette, or prestigious dish. The botram's eaters just grab the favorites by hand and get it straight to the mouth. As our old men said, food always has good taste when involving hand.
Telah dikenal bahwa di budaya Indonesia, makanan memiliki peranan penting, tidak hanya menyenangkan perut tapi makanan memiliki hubungan yang kuat dengan adat istiadat untuk mewakili identitas tertentu masyarakat di Indonesia dan menyajikan keragaman unik antar anggota komunitas. Tidak perlu peralatan makan mewah, etiket tidak rumit, atau hidangan bergengsi. Penikmat botram tinggal mengambil makanan favorit dengan tangan kosong dan langsung masuk ke mulut Anda. Seperti kata orang tua kami, makanan selalu enak rasanya bila menggunakan tangan.
The botram’s menu is not so complicated, it just consists of traditional Sundanese cuisines. The cooked rice that is laid on the banana leaf is called as Nasi Liwet while the side dish may include such ayam goreng kuning (tumeric fried chicken), deep fried fish, steamed tofu, tempeh, and lalap (fresh assorted vegetables) with the gracious spicy,sambal.
Menu botram tidak begitu rumit, hanya terdiri dari masakan tradisional Sunda. Nasi yang sudah dimasak diletakkan di atas daun pisang disebut Nasi Liwet sementara lauknya bisa termasuk ayam goreng kuning (ayam goreng tumerik), ikan goreng dalam, kukus tahu, tempe, dan lalap (sayuran segar berbagai macam) dengan sambal pedas.
Since the Botram is regarded as the sharing happy moments together, it never ends too quick. It is expected that we eat slower than usual while involving a juicy conversation around and it is pleased us to share our own stories and others in return we will consider the one whom we newly met become solid acquaintance. It was my first experience eating with bothram's way and I did feel a bountiful moment. Apparently, this activity has attracted the tourist to visit local sundanenese restaurant which scattered around Java. How lucky I was, the Bandung trip gave me a better sensation since I could involve in their culture.
Karena botram dianggap sebagai ajang berbagi saat bahagia bersama, ia tidak pernah selesai terlalu cepat. Kami makan lebih lambat dari biasanya sambil bercakap-cakap ringan dan kami senang berbagi cerita dan terus berganti. Kami menganggap orang yang baru kami kenal menjadi kenalan yang solid. Itu adalah pengalaman pertama saya menikmati makan ala bothram dan saya merasakan momen yang sangat menyenangkan. Ternyata, kegiatan ini telah menarik wisatawan untuk mengunjungi restoran lokal yang tersebar di sekitar pulau Jawa. Betapa beruntungnya saya, perjalanan Bandung memberi saya sensasi yang lebih baik karena saya bisa langsung terlibat dalam budaya mereka.