Nobody believed in Kâgssagssuk, a homeless boy. Even his grandmother always beat him. Everything had changed when he became a strong man.
Source: Pixabay
Bocah Tunawisma yang Menjadi Orang Kuat
Mengapa Kâgssagssuk dikejar-kejar Api Akbar?
Dahulu kala, menurut sahibulhikayat, ketika pria dan wanita di tempat itu mendatangi upacara pemanggilan roh, anak-anak ditinggalkan semua dalam satu rumah besar, tempat mereka bermain dengan berisik.
Seorang anak lelaki tunawisma bernama Kâgssagssuk sedang berjalan sendirian di luar. Dia memanggil orang-orang yang bermain di dalam rumah itu dan berkata:
"Kamu tidak boleh berisik atau Api Akbar akan datang."
Anak-anak, yang tidak mungkin mempercayainya, terus bermain dengan berisik. Akhirnya Api Akbar muncul. Kâgssagssuk kecil buru-buru masuk ke dalam rumah dan berteriak:
"Angkat aku. Aku harus punya sarung tangan dan sarung tangan itu ada di atas sana!"
Maka mereka mengangkatnya ke bingkai pengeringan di bawah atap.
Kemudian mereka mendengar Api Akbar datang dengan cepat ke rumah itu. Dia memiliki anjing laut pita besar hidup sebagai cambuk dan cambuk itu memiliki cakar yang panjang. Lalu dia mulai menyeret anak-anak keluar rumah dengan cambuknya yang hebat. Setiap kali dia mengeluarkan satu anak, anak itu digoreng. Akhirnya tidak ada lagi anak-anak. Tetapi, sebelum pergi, Api Akbar menjangkau dan menyentuhkan jarinya pada kulit yang tergantung pada bingkai pengeringan.
Setelah Api Akbar pergi, Kâgssagssuk kecil merangkak turun dari bingkai pengeringan dan pergi ke orang-orang yang berkumpul di rumah penyihir. Ia memberi tahu mereka tentang apa yang telah terjadi. Tapi, tidak ada yang percaya pada apa yang dia katakan.
"Kamu sendiri yang membunuh mereka," kata mereka.
"Baiklah, kalau begitu," katanya, "jika kalian berpikir begitu, cobalah membuat keributan sendiri seperti yang anak-anak itu lakukan."
Mereka lalu mulai memasak lemak di atas pintu masuk rumah. Ketika minyak mendidih dan menggelegak sekuat ia bisa, mereka mulai bikin keributan. Benar saja, Api Akabr pun muncul di luar.
Mereka pun berlarian masuk rumah. Tetapi, Kâgssagssuk kecil tidak diizinkan masuk rumah. Maka, ia bersembunyi di gudang. Api Akbar masuk ke rumah itu sambil membawa cambuk anjing laut pita. Mereka mendengar dia masuk melalui lorong. Mereka pun meyiramnya dengan minyak mendidih. Cambuknya hancur dan Api Akbar pun pergi.
Tetapi, sejak saat itu dan seterusnya, semua penduduk desa bersikap tidak ramah kepada Kâgssagssuk kecil, meskipun dia telah mengatakan yang sebenarnya. Saat itu dia tinggal di rumah Umerdlugtoq, seorang lelaki bertubuh besar, tetapi dia kemudian dipaksa untuk tetap berada di luar rumah dan mereka tidak membiarkannya masuk. Jika dia memberanikan diri untuk masuk, meskipun itu tidak ada gunanya selain mengeringkan sepatunya, Umerdlugtoq akan mengangkat dan melemparkannya keluar melewati pintu depan lagi.
Kâgssagssuk kecil juga memiliki dua nenek. Salah satu dari mereka suka memukulnya sesering mungkin, bahkan jika dia hanya berbaring di lorong. Tetapi, neneknya yang lain jatuh kasihan kepadanya karena dia adalah anak dari putrinya, yang telah menjadi seorang wanita seperti dia, dan karena itu dia mengeringkan pakaiannya untuknya.
Kadang-kadang, bila bocah malang itu masuk, anak buah Umerdlugtoq akan memberinya kulit walrus yang keras untuk dimakan, berharap hanya untuk memberinya sesuatu yang mereka tahu terlalu sulit baginya. Dan, ketika mereka melakukannya, dia akan mengambil sepotong batu dan meletakkannya di sela-sela giginya untuk membantu mengunyahnya. Ketika dia selesai makan, batu itu ia masukkan kembali ke celananya, tempat dia selalu menyimpannya.
Dia tidur di antara anjing-anjing dan menghangatkan dirinya di atap, di udara hangat dekat lubang asap. Tetapi, setiap kali Umerdlugtoq melihatnya hangat di sana, ia akan menariknya turun.
Hari-hari berlalu. Gelap di musim dingin mulai berganti terang menjelang kedatangan musim semi. Sekarang Kâgssagssuk kecil mulai berkeliaran di negeri itu. Suatu ketika dia bertemu seorang lelaki besar, seorang raksasa, yang sedang memotong tangkapannya. Ketika dia melihatnya, Kâgssagssuk berteriak dengan suara keras: "Ho, kamu laki-laki di sana, berikan aku sepotong daging!"
Tetapi, meskipun dia berteriak sekeras yang dia bisa, raksasa itu tidak bisa mendengarnya. Akhirnya sebuah suara kecil mencapai telinga pria besar itu dan kemudian dia berkata: "Bawakan aku keberuntungan, bawakan aku keberuntungan!" Dia melemparkan sepotong kecil daging ke tanah karena percaya suara itu berasal dari salah satu roh kematian.
Tetapi, Kâgssagssuk kecil, yang semuda usianya sudah memiliki beberapa roh penolong, membuat sepotong kecil daging itu menjadi potongan besar, seperti yang bisa dilakukan oleh roh kematian, dan makan sebanyak yang dia bisa. Ketika dia tidak bisa lagi memakannya, dia menyeret yang tersisa dan menyembunyikannya.
Beberapa waktu setelah ini, Kâgssagssuk kecil berkata kepada ibunya: "Secara kebetulan aku memiliki banyak daging, dan pikiranku enggan lepas darinya. Karena itu aku akan keluar dan memeriksanya."
Dia pun pergi ke tempat dia menyembunyikan daging itu dan astaga! benda itu tidak ada di sana. Dia menangis.
Ketika dia berdiri di sana sambil menangis, raksasa itu muncul.
"Mengapa kamu menangis?"
"Aku tidak bisa menemukan daging yang aku sembunyikan di sini."
"Ho," kata raksasa itu, "aku mengambil daging itu. Kupikir daging itu milik yang lain."
Raksasa itu kemudian berkata lagi: "Sekarang mari kita bermain bersama." Dia merasa kasihan terhadap anak itu dan bersikap ramah kepadanya.
Source: Pixabay
Mereka berdua pun pergi bersama. Ketika mereka sampai di sebuah batu besar, raksasa itu berkata: "Sekarang mari kita dorong batu ini." Mereka mulai mendorong batu besar itu agar berputar. Pada awalnya, ketika Kâgssagssuk kecil mencoba, dia jatuh ke belakang.
"Sekarang, sekali lagi. Cepat, cepat, sekali lagi. Dan di sana, ada yang lebih besar."
Kâgssagssuk mencoba lagi tapi dia kembali jatuh. Sebagai gantinya dia memindahkan batu-batu dan memutarnya. Setiap kali dia mencoba dengan batu yang lebih besar dari sebelumnya dan ketika dia berhasil, dia mencoba yang lebih besar lagi. Dia terus melakukannya hingga akhirnya dia bisa membuat batu-batu terbesar berputar di udara dan batu itu berkata "leu-leu-leu-leu" di udara.
Setelah melihat bahwa mereka sudah sama kuatnya, raksasa itu berkata: "Sekarang kamu telah menjadi lelaki yang kuat. Tetapi karena kesalahanku kamu kehilangan sepotong daging itu, maka aku akan membuat beruang turun ke desamu. Tiga beruang akan datang dan mereka akan segera turun ke desa."
Kemudian Kâgssagssuk kecil pulang dan menghangatkan dirinya seperti biasa di lubang asap. Kemudian tuan rumah itu datang dan seperti biasa menyeretnya ke bawah. Dia laly berbaring di antara anjing-anjing dan neneknya yang jahat memukulinya seperti biasa.
Di malam hari, ketika semua orang tertidur, Kâgssagssuk pergi ke salah satu umiak (perahu kayu tradisional Eskimo) yang terjebak air laut yang beku dan membebaskannya.
Esok paginya, ketika para lelaki terbangun dan hendak melakukan banyak hal, mereka melihat umiak itu.
"Hau! Umiak itu telah diangkat keluar dari es!"
"Hau! Pasti ada lelaki kuat di antara kita!"
"Siapa yang begitu kuat?"
"Ini yang perkasa, tak diragukan," kata Umerdlugtoq sambil menunjuk Kâgssagssuk kecil. Tapi ini cuma ejekan.
Beberapa saat kemudian, orang-orang di sekitar desa mulai berteriak bahwa ada tiga beruang terlihat-persis seperti yang dikatakan raksasa kemarin. Saat itu, Kâgssagssuk berada di dalam rumah untuk mengeringkan sepatunya. Sementara yang lain berteriak dengan penuh semangat tentang kedatangan beruang, dia berkata dengan rendah hati: Kalau saja aku bisa meminjam sepasang sepatu bot dari seseorang." Akhirnya, karena dia tidak bisa mendapat sepatu, dia harus mengambil sepatu neneknya dan memakainya.
Kemudian dia keluar dan berlari di atas salju yang sudah terinjak-injak di luar., menginjak dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga seolah-olah jejak kakinya dibuat di salju yang lembut. Dia berlari menuju ke beruang itu.
"Hau! Lihatlah Kâgssagssuk. Apakah kamu pernah melihat…"
"Apa yang terjadi pada Kâgssagssuk? Apa itu?"
Umerdlugtoq begitu terkesan dan sangat heran hingga matanya tidak mau lepas dari bocah itu.

Source: Pixabay
Kâgssagssuk kecil menyerang beruang terbesar--ibu dengan dua anak yang sedang tumbuh. Dia mencekik leher beruang itu tangan telanjang dan meremasnya hingga jatuh dan mati. Kemudian dia meraih leher anak-anak beruang itu dan menghantam tengkorak mereka sampai mereka juga mati.
Kemudian Kâgssagssuk kecil kembali ke rumah dengan memanggul beruang terbesar di pundaknya dan mengepit anak-anak di ketiaknya, seolah-olah mereka tidak lebih dari kelinci. Ia membawa mereka ke rumah dan mengulitinya. Lalu dia mulai membuat perapian yang cukup besar untuk memasukkan seorang lelaki karena dia sekarang hendak memasak daging beruang untuk neneknya di atas batu pipih besar.
Umerdlugtoq, lelaki hebat itu, buru-buru pergi bersama istrinya.
Kâgssagssuk lalu menyeret nenek yang suka memukulnya dan melemparkannya ke api dan dia membakar semuanya sampai hanya perutnya yang tersisa. Neneknya yang lain hendak melarikan diri, tetapi dia menahannya dan berkata: "Aku sekarang akan baik kepadamu karena kamu selalu mengeringkan sepatu botku."
Setelah selesai memasak daging beruang, Kâgssagssuk mengejar orang-orang yang melarikan diri. Umerdlugtoq berhenti di puncak bukit yang tinggi, tepat di tepi jurang, dan memasang tenda di dekat tepinya.
Kâgssagssuk berdiri di belakangnya dan menyeretnya ke tepi jurang. Dia mengguncangnya begitu keras hingga cuping hidungnya lepas. Di sana berdiri Umerdlugtoq yang memegang cuping hidungnya. Tapi, Kâgssagssuk berkata: "Jangan takut. Aku tak akan membunuhmu kareka kamu tak pernah membunuhku."
Kâgssagssuk lalu kembali ke desa dan membalas dendam ke orang-orang yang dulu memperlakukannya dengan buruk. Dia kemudian pergi ke selatan dan tinggal bersama orang-orang di sana.
Kabar burung mengatakan bahwa dia punya kayak sendiri dan turut melaut bersama para nelayan lain. Namun, dia begitu kuat dan menakutkan dan mulai menangkap anak-anak dan menindas mereka. Akhirnya, pada suatu hari penduduk menombakinya ketika sedang berkayak.
Begitulah kisah yang kami dengar tentang Kâgssagssuk.
Cerita ini diterjemahkan dari "Kâgssagssuk, the homeless boy who became a strong man" di Eskimo Folk-Tales yang disunting oleh Knud Rasmussen (Gyldendal : 1921) dengan sejumlah modifikasi. Versi asli dalam bahasa Inggris dapat dibaca di Project Gutenberg.
This is my Eskimo Stories Project. I translate Eskimo Folk-Tales (Gyldendal : 1921) into Bahasa Indonesia to introduce Eskimo art and culture to Indonesian and Malay-spoken language readers. There will be more than 50 stories I will publish. If I have enough money, I plan to print them in a book format. You can support me by upvote and reblog this post. I receive any donation for this project. Read all stories in topic #eskimofolktales.
#blogiwankwriting #ksijakarta #jakarta #indonesia #budaya #life #culture #writing #story #literature #literary #book #eskimo #inuit #alaska #polar #eskimofolktales
Other Stories
- Eskimo Folktales #35 - The Wife Who Lied | Istri yang Berbohong dan Nerrivik
- Eskimo Folktales #34 - Artuk Did All Forbidden Things | Artuk Melanggar Semua Larangan
- Eskimo Folktales #33 - The Man Who Stabbed His Wife | Lelaki Penikam Istri
- Eskimo Folktales #32 - The Inland-Dwellers of Etah | Suku Pedalaman dari Etah
- Eskimo Folktales #31 - The Men Who Changed Wives | Para Lelaki yang Bertukar Istri
- Eskimo Folktales #30 - Patussorssuaq Killed His Uncle | Patussorssuaq Membunuh Pamannya
| I hope you like my work. Please vote and reblog this post and follow |