Istri saya adalah orang yang maniak makanan luar Negeri, seperti pizza, makan Jepang, gimsum dan beberapa makan tergolong aneh bagi saya. Jika kebanda Aceh Ia idak pernah lupa mengajak saya untuk berburu makanan-makanan tersebut. Terutama menu makanan jepang berada diseputaran lapangan Tugu Daruassalam.
Untuk selera makan, setiap orang memiliki kebiasaan makan berbeda. Istri saya suka makan jengkol lantas saya kurang senang namanya jengkol, saya suka dengan kuah pliek, sedangkan istri saya tidak suka makan kuah pliek, perbedaan selera tersebut sedikit menghambat kami untuk mengatur makan bersama diluar. Namun perbedaan itu tidak mengurangi kebersamaan, bahkan sampai kepelaminan.
Perpaduan positif negatih menghasilkan menghasilkan sesuatu yang positif, lampu senter dapat menyala karena perpaduan posif negatif, dalam selera makan juga bisa demikian, tidak mungkin menyamakan persepsi untuk itu. Jika saling mengerti, Perbedaan kontras sekalipun bisa saling melengkapi.
Agak sulit memaksa selera orang lain sama kita, perbedaan latar belakang kehidupan juga mempengaruhi pola hidup dan kebiasaan termasuk selera makan, ada anak dari kecil sampai dewasa tidak mau makan nasi, penyebabanya dari kecil disodori makan kentang, kebiasaannya tersebut berpengaruh hingga dewasa, dan merobahnya agak sulit.
Intinya kita harus memahami karakter masing-masing, persamaan, perbedaan, termasuk kebiasaan dan pola makan, dengan demikian akan mudah menyesuaikan dengan karakter masing-masing, hal tersebut juga dapat meminalisir konflik dalam keluarga. Perbedaan itu tidak saling memimisahkan tapi bagaimana untuk saling mengeratkan hubungan. Semoga!