Sejak memiliki anak, rutinitas istri lebih banyak dihabiskannya di rumah. Pekerjaannya sebagai dokter ia lakukan dengan tetap memprioritaskan waktu bagi keluarga. Ia cukup selektif dalam memilih pekerjaan. Meskipun saya tau dalam hatinya ia ingin terus berkreasi selayak teman sejawatnya. Tapi ia telah memilih keluarga ada di nomor pertama. Baginya, kami adalah segalanya.
Namun suatu hari saya menemukannya kelelahan. Mungkin energinya habis sebab mengurus dua buah hati kami yang ceria bahagia. Ya kalian tau kan anak-anak suka bermain. Ngecat dinding, numpahin air, serakin barang. Peristiwa yang harus ia hadapi setiap hari.
Lalu saya memintanya untuk beristirahat. "Me time lah". Saya memintanya untuk keluar rumah. Sekedar bertemu teman, ke mall, creambath atau apalah. Tapi ia menolak. Ternyata me time nya adalah ke dapur. Memasak sesuatu yang unik dan baru. Menu masakan yang ia temukan di instagram atau dikirim teman.
Saya bingung bukannya memasak itu melelahkan. Mengaduk tepung, mengocok telur, melumuri loyang. Tapi ternyata baginya itu suatu hal yang menyenangkan. Energi yang tadinya hilang bisa kembali datang. Tapi selama memasak ia harus sendirian dan tidak boleh diganggu.
Sekarang tidak perlu kaget jika sampai di rumah saya disuguhinya makanan lezat. Wajar jika setelah menikah saya menjadi sulit untuk menurunkan berat badan haha.