(Gebril, anak saya, sedang merujak pliek u lalapan buah salak)
Kalau ada yang bilang ini makanan raja, saya percaya. Saya dapat membayangkan sebuah istana, satu pekarangan yang luas, dan empat orang pangeran sedang 'melincah' atau ngerujak pliek u.
Sementara balai yang lebih besar, raja, wazir, dan dua menteri lainnya juga sedang menikmati rujak pliek u. Buah yang meraka jadikan lalapan macam-macam. Ada berembang, salak, mangga, dan mentimun. Sesekali sang raja harus mengelap lelehan ingusnya karena rawit dalam pliek u dirasa lebih dari cukup.
Sementara langit masih bersinar terang. Bahkan pada lanskap tertentu dari tempat di mana mereka menikmati rujak, pandangan menjadi silau karena cahaya matahari.
"Kau cari terus mereka. Kita hancurkan Portugis di Malaka," ujar sang raja.
"Daulat Tuanku," sahut menteri dan juga yang lain.
(Buah salak dan pliek u berbumbu garam dan rawit)
Ah, sudahlah. Berhenti saja berpikir Anda sedang berada di masa lalu. Sebab, saya hanya fokus pada jajanan ini: pliek u. Sementara buah sebagai lalapan rujak, boleh apa saja. Saya pribadi suka buah asam kalau 'ngerujak'. Dan salah satu buah yang saya idolai adalah buah berembang.
Buah ini tidak dijual. Tapi anehnya langka bukan main. Di kampung kami, sebagian kecil masyarakat sangat suka buah ini, terutama keluarga saya dari pihak bapak. Sementara mayoritas menganggap buah ini sebagai lelucon, saking asamnya.
(Lincah Pliek U dan buah berembang atau pedada_@hengun22)
Tentang rasa asam ini saya punya cerita. Saya berharap kalian dapat membayangkan kadar asam buah tersebut meskipun hanya kalian dengar semata.
Akhir tahun 2013, saya sempat ke Banda Aceh. Saat pulangnya, saya sambangi Ulee Lheu. Di depan Water Boom Ulee Lheu, dulu semasa kuliah, bersama , kami kerap memetik buah berembang di pematang tambak orang.
(buah berembang, pedada, atau geurembang [bahasa aceh] _commons.wikimedia.org)
Bahkan saat itu, ketika kami hendak membeli 'pliek u' dan ditanya untuk apa, lalu jawab kami untuk 'culok' -- merujak-- dengan buah ini. Penjual 'pliek u' seringai, tersenyum mengejek. Lalu ia bilang bahwa yang makan buah itu hanya monyet.
Dan kami tak peduli. Kami mendengar pernyataan itu, kalau bisa sambil nungging. Lalu kami menikmati merujak dengan buah tersebut ditemani kopi di Pantai Ujong Pancu, Pekan Bada, Aceh Besar.
Eh, cerita 2013 itu begini. Saya pulang dari Banda Aceh bawa pulang buah itu ke rumah istri saya yang tengah hamil tua di Lamlo, Pidie. Kebiasaan perempuan hamil suka yang asam-asam. Termasuk istri saya.
Tapi merujak dengan buah berembang, istri saya dan seluruh penghuni rumah istri saya, tak sanggup makan rujak dengan buah tersebut. Anda dapat membayangkan betapa asamnya buah tersebut?
Ah, saya yakin Anda tak percaya. Anda juga tak akan percaya kalau saya mengaku, ketika cerita ini saya tulis, liur saya membuncah dalam mulut saya ingin 'ngences' keluar ha ha