Rujak...rujak...!
Zaman dahulu seperti itu teriakkan mbok-mbok penjual rujak keliling mengelilingi kampung. Tak peduli lanjut usia, kakinya terus mengayuh langkah yang jika ia menengadah, ia harus memicingkan mata pertanda kalah, karena terik matahari menyapanya. Setapak demi setapak menelusuri jalan desa yang tentunya tidak beraspal. Sebatang kayu berada di salah satu bahu yang kedua ujung kayu tersebut sudah diikat untuk menumpu lesung batu untuk menumbuk buah rujak serta bumbu dan terdapat juga beberapa gulungan daun pisang sebagai pengganti piring atau bungkusan.
Cerita di atas adalah cerita era 45-an. Masa kecil orang tua saya bercerita demikian dan tidak pernah ditemukan lagi saat ini. Tak perlu bersusah payah berkeliling kampung, warung-warung rujak sudah berjamuran bahkan membelinya saja tidak harus keluar rumah, tapi dapat memakai jasa antar - jemput online.
Beranjak dari tempat duduk setelah mendengarkan cerita masa kecil orang tua saya, membuat saya ingin mencoba membuat rujak era jadul. Salah satunya seperti rujak jambu ini ya sahabat Steemit.
Cuci dan kupas jambu, pastikan bebas dari para penghuni (ulat).
Saatnya mengerahkan tenaga untuk mengulek jambu di cobek, disebabkan tidak mempunyai lesung batu, hehe..
Masukkan dalam wadah
Tambahkan air hangat, kecap, gula, garam, cabai rawit sesuai selera.
Masukkan ke dalam kulkas tunggu beberapa menit siap dinikmati.
Sluuurb..
Salam