Hari lebaran kedua, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk menikmati mie kocok. Mie kocok ini termasuk dalam kuliner khas Kabupaten Bireuen dan sangat dikenal oleh seantero masyarakat kota Bireuen. Selain itu banyak orang yang melintasi jalan Medan-Banda Aceh yang singgah untuk menikmati sepiring mie kocok yang dijual di Kecamatan Geurugok. Konon katanya, pada hari-hari tertentu pemilik warung bisa menghabiskan 100 kg mie kuning untuk memenuhi permintaan konsumen. Dan saat itu adalah kali kedua kami berkunjung ke tempat itu
Ketika kami sampai di sana, orang-orang sangat ramai sedang mengantri. Ada yang makan di tempat dan ada juga yang dibungkus untuk dibawa pulang. Untungnya masih tersedia tempat untuk kami sehingga kami tidak perlu berdiri lama menunggu tempat kosong seperti kunjungan tahun lalu.
Kunjungan kali ini untuk memenuhi keinginan si papa (suami) yang ingin kembali menyantap mie favoritnya itu. Kami harus menunggu lama hampir satu jam hingga mie kocok siap dihidangkan. Si papa pun tidak berhenti bertanya agar segera diantarkan ke meja kami tiga porsie mie kocok tersebut.
Setelah pesanan sampai, rasanya tidak sabar untuk segera menyantap mie dengan ciri khas kuah kental itu. Dengan tambahan sedikit kecap asin, mie dengan asesoris ayam, tauge dan dan kentang tersebut rasanya semakin memanjakan lidah. Tak lama kemudian piring mie si papa pun langsung ludes seketika.
Anak-anak juga sangat menyukai rasa dari mie kocok ini, dikarenkan bumbunya tidak terlalu pedas. Dengan merogoh kantong sebesar Rp. 15.000, maka kita sudah bisa menikmati sepiring mie kocok. Tempatnya memang biasa saja,seperti warung kopi biasa. Namun dengan rasa mie yang lezat membuat pengunjung ketagihan untuk berkunjung kembali.