Bertani dalam daerah konflik bukanlah perkara mudah dan gampang, jangankan untuk bertani bertahan hidup pun sungguh sangat sulit tapi itulah yang di alami para petani Palestina, belum lagi soal blokade pemerintah Israel yang membuat sumber air ke jaringan pertanian palestina tersendat. Hal ini sudah seperti fenomena biasa walau sebetulnya bukan hal biasa, tapi sebuah kejahatan yang sangat luar biasa.
Namun yang membuat kepala saya tergeleng – geleng dan rasa takjub yang luar biasa, dengan keterbatasan yang mereka miliki, dengan suara senjata yang hampir tak berhenti, dengan darah – darah yang mengalir di tanah suci itu, mereka masih mampu menanam dengan baik, memproduksi kebutuhan pangan lokal mereka dengan peralatan yang sederhana. Hasbunallah wa ni’mal wakil
Dalam sebuah video yang di rilis oleh Islamic Relief Canada yang menampilkan video seorang petani asal Palestina yang bernama Ashraf Ataya merupakan salah satu contoh nyata bagaimana para petani palestina bertahan dan bertani dalam daerah konflik.
Ashraf Ataya adalah seorang petani asal palestina yang menanam berbagai macam buah – buahan serta sayuran yang ia jual di pasar lokal palestina. Penanaman pun ia lakukan sesuai musim misalnya tanaman strawbery yang di mulai pada bulan september hingga april setiap tahunya. Ashraf Ataya merupakan salah satu petani yang di support oleh Islamic Relief Canada terutama dalam hal pengairan areal pertanianya.
Ashraf Ataya dengan traktor tuanya masih mampu memproduksi buah dan sayur – sayuran untuk kebutuhan dirinya dan orang lain di daerah konflik yang tiada hentinya. Sementara kita yang di daerah aman yang juga sebagai daerah pertanian masih kacau balau dengan system dan hasil pertanian yang kita miliki. Entahlah, mudah – mudahan kuntilanak tidak mentertawakanku atas postingan ini.