Mi kocok Idi Rayek yang maknyus
APA yang bikin aku kangen pulang ke Idi Rayek? Salah satunya ya karena mi kocok di depan Tepekong ini. Setiap pulang ke Idi Rayek, aku selalu sempatkan untuk makan mi kocok ini. Di Banda Aceh ada sih mi kocok, tapi cita rasanya tidak sesuai dengan lidahku.
Dari Kamis-Minggu, 26-29 April 2018, aku pulang ke Idi Rayek karena ada urusan penting. Sejak awal keberangkatan ke Bireuen-Lhokseumawe beberapa hari sebelumnya, aku sudah kepikiran untuk lanjut perjalanan sampai ke Idi, tapi entah mengapa niat itu tiba-tiba urung. Namun di malam terakhir di Lhokseumawe, Ibu menghubungiku dan memintaku pulang ke Idi. Ya, Allah selalu tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Dia tahu aku rindu kampung, tapi aku juga perlu alasan untuk pulang. Maka 'urusan' itu menjadi alasannya.
Jumat pagi, Ibu menyusul ke Idi karena urusan itu ternyata nggak bisa kalau tanpa Ibu. Jumat siang, setelah semua urusan selesai, aku dan Ibu mampir ke toko Uroe Malam di Jalan Iskandar Muda Idi Rayek. Toko ini berhadapan persis dengan tepekong atau Vihara Murni Sakti. Vihara atau kelenteng yang diklaim sebagai kelenteng tertua di Asia Tenggara, dibangun pada tahun 1880 ketika wilayah Idi berada di bawah kekuasan Tuanku Chik bin Guci.
Di toko inilah mi kocok langganan kami selama bertahun-tahun dijual. Rasanya belum sah pulang ke Idi kalau belum memanjakan lidah dengan jajanan yang satu ini.
Vihara Murni Sakti. Tahun 1998 vihara ini menjadi korban kerusuhan massal, tapi kini sudah direnovasi kembali
Saat aku dan Ibu tiba, Kak Ida langsung memamerkan senyum semringahnya. Sebagai langganan setia, walaupun mampirnya cuma sekali setahun, dia tetap mengenali kami rupanya. Akupun langsung mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar sebelum mati total karena dayanya sudah sangat kritis.
"Hana iyue senyum tanyoe..." kelakar Kak Ida.
"Hana payah senyum, bah natural," balasku.
Obrolan kami mengundang senyum dan rasa penasaran dari pelanggan lainnya. Sejumlah pelanggan terlihat mengantre. Karena menjelang waktu salat Jumat, para pelanggan umumnya perempuan, hanya ada tiga pria yang tak lama kemudian langsung pergi setelah pesanan mereka siap dibawa pulang. Aku memesan dua porsi mi dan dua gelas teh dingin untuk disantap di tempat. Turut memesan dua bungkus pecal dan delapan bungkus martabak untuk dibawa pulang.
Di warung ini, selain dijual mi kocok juga tersedia makanan lainnya seperti mi Aceh, pecal dan martabak.
Apa yang Istimewa dari Mi Kocok Idi?
Antre...antre...antre....rela antre demi mi kocok Kak Ida
Enak atau tidaknya suatu makanan itu memang sangat relatif. Sebelum mencoba mi kocok Si Doel dan mi kocok Awak Away di Banda Aceh, lidahku sudah terlebih dahulu mencecap mi kocok Idi Rayek yang menurutku rasanya bukan cuma enak, tapi enak banget. Makanya, meski sudah belasan tahun menetap di Banda Aceh, mi kocok Si Doel belum jadi favorit. Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali aku menyantap mi kocok tersebut. Begitu juga dengan mi kocok Awak Away, yang belakangan menjadi alternatif, tetap belum bisa menggantikan posisi mi kocok Idi hehehe. Bukan fanatik, tapi begitulah rasa, sukar tergantikan.
Bagaimana dengan mi kocok Blang Pidie? Ya, rasanya memang enak, apalagi dengan sajian utama berupa mie kwetiau yang gemuk pipih dan kenyal, dengan kuah kental dan taburan bawang goreng yang harum. Tapi yang nomor satu di hatiku ya tetap mi kocok Idi.
Warung Uroe Malam tempat 'praktik' mi kocok Kak Ida
Mi kocok ini disajikan dengan hidangan utama berupa mi kuning dengan ukuran khusus, mirip mi untuk mi so, teksturnya lembut. Campurannya ada tauge, kentang rebus, telur, bawang goreng, dan kerupuk merah. Kemudian disiram dengan kuah ikan yang kental dan gurih, warnanya kekuningan. Kuah kental inilah yang bikin nggak tahan untuk segera melahapnya. Slruupp.... nyam nyam...
Yang suka berburu wisata kuliner, aku rekomendasikan untuk mencicipi mi kocok Idi ini. Kalau kalian main-main ke timur Aceh, singgahlah di Idi dan rasakan lezatnya mi kocok ini. Abaikan tata letak toko yang secara penampakan memang agak awut-awutan hehehe. Soal ini aku setuju dengan tagline sebuah iklan kecap, rasa memang nggak pernah bohong. Selamat ber-wiskul ya guys...[]