Beureunun, salah satu wiliyah dalam Kabupaten Pidie Aceh telah dikenal luas sebagai sentra penghasil emping melinjo berkualitas. Hasil industri rumah tangga ini didistribusikan ke seluruh wilayah Aceh, kota-kota besar di Indonesia, hingga ke luar negeri seperti Malaysia.
Letak Kota Beureunun sangat strategis, yakni berada di lintasan Medan-Banda Aceh, sehingga pelintas dapat singgah sejenak di kota ini untuk membeli emping melinjo atau keurupuk meuling (bahasa Aceh) langsung di daerah penghasilnya dan masih fresh from the oven.
Tidak sulit menemukan penjual makanan dari biji Gnetum gnemon di Beureunun. Sejumlah toko di pusat kota asal Hasan Tiro ini menjajakan keurupuk meuling, dalam kemasan yang menarik.
Sepulang dari meet up KSI Banda Aceh. Saya dan singgah di Beureunun dan membeli beberapa kilogram emping melinjo, yang dalam bahasa Sunda disebut tangkil ini. Harganya pun relatif murah, hanya Rp 60.000 per kilogram.
Saya bilang murah, karena proses pembuatannya sangat panjang dan melelahkan. Mulai dari pemilihan biji melinjo terbaik dari pohon-pohon terbaik. Lalu dikupas kulitnya, tinggallah biji dengan kulit keras. Kemudian biji-biji ini digonseng dalam wajan berisi pasir. Lalu diangkat, dipecahkan kulit kerasnya dengan palu. Setelah cukup pipih, lalu dijemur sampai kering. Baru setelahnya, siap diantar ke toko-toko penjual, dan dikemas dengan baik.
Keureupuk meuling Beureunun ini mengandung protein tinggi, dan punya sifat antioksidan. Namun, mesti waspada jangan makan terlalu banyak, sebab melinjo mengandung purin tinggi, yang dapat menyebabkan kenaikan asam urat. Oya, satu lagi hal menarik dari melinjo, yaitu merupakan jenis tumbuhan purba yang berkerabat dengan ginko biloba.
Baiklah sahabat steemian, semoga tulisan singkat ini dapat menggoda sahabat sekalian untuk singgah di Beureunun saat melintasi jalan Medan-Banda Aceh. [rp]