Kritik seperti ini jelas bukan ditujukan kepada anda2 anggota KPPS maupun operator input..anda2 jelas bukan penanggung jawab perhelatan akbar ini..kl dibaca dengan dengan tanpa emosi jelas kritik ini ditujukan kpda pihak-pihak yg bisa melakukan penyalahgunaan wewenang..kita jangan memungkiri bahwa semenjak masa kampanye telah terjadi mobilisasi aparat daerah dan lain2 untuk mendukung petahana..siapa yg bisa melakukannya? telah terjadi pencoblosan surat suara di malaysia bahkan sebelum pencoblosan..siapa yg bisa melakukannya? di media sosial beragam tindakan kecurangan seperti petugas kpps yg langsung mencoblosi surat suara juga terjadi..siapa yg memerintahkan mrka? kotak suara juga tdk aman krn ada yg terbakar bahakn ada yg dibakar..ada yg dicuri C1nya..bgaimana bisa? Terakhir yg paling hangat skrg adalah bnyaknya kesalahan input..faktanya memang yg ditemukan bnyak sekali penambahan suara bagi petahana dan pengurangan bagi lawannya..tidak cukup hanya menjawabnya sebagai human error saja..bagaimana perhelatan dengan biaya 25T membuat "kelelahan" operator sebagai alibi ketika terjadi kesalahan?..kelelahan itu manusiawi..krna itu mestinya mrka antisipasi..seharusnya mereka bisa atur dnk jam kerjanya 2-3 shift?..kemudian mengenai lambatnya perhitungan suara tdk semata itu yg diprotes mas..tapi fakta ketimpangan input data telah teramati lebih mengutamakan daerah2 lumbung 01 lebih dahulu..contoh itu bisa diwakili oleh jabar dan jateng dmna jumlah input untuk jateng nyaris 2x lipat jabar..hal ini juga saya amati di wilayah saya SUMUT..dmna daerah2 jauh yg umumnya kantong 01 lebih bnyak masuk berbanding terbalik dengan kota2 besar yg menjadi lumbung 02..sehingga SUMUT seolah terlihat 01 unggul..prasangka publik pun tak terelakkan bahwa ini seolah ingin menyelaraskan hasil dengan QC..itu berbahaya krna jika benar disengaja maka itu adalah sebuah upaya framing jahat..kami hormat kpda anda2 yg bertugas dengan sepenuh jiwa..kami hanya tidak senang ketika melihat serangkaian kasus di lapangan yg berusaha merampas rasa keadilan..
salam
RE: 2019 Indonesia's Presidential Election: A Series of Cheating