Hai Steemians...
Pagi tadi aku dan anak perempuanku mencoba menggunakan sarana transportasi umum di Banda Aceh yang saat ini melayani masyarakat Banda Aceh, tanpa dipungut biaya. Kami menunggu di Halte Teknik setelah terlebih dahulu sarapan sebungkus nasi guri dan segelas bubur kacang ijo di sebuah warung sederhana di seberangnya.
Bus Trans Koetaradja datang, kamipun menyeberang. Menunggu para penumpang turun, namun bus masih penuh, tidak ada kursi yang kosong. Pria yang berjaga di pintu memberi komando "tolong dek, beri tempat duduk untuk orang tua". Seorang gadis manis mirip Nissa Sabyan tersenyum, bangun dan mempersilahkan saya untuk duduk. Saya pun berterima kasih. Bus melaju, melewati beberapa halte di seputaran kampus Universitas Syiah Kuala. Penumpang naik turun silih berganti. Penumpang yang lebih muda bangun setiap kali ada yang lebih tua naik, walaupun tanpa komando dari arah pintu.
Selanjutnya mereka kembali menunduk, sibuk dengan gawai masing-masing. Banyak hal berubah, satu sisi generasi milenial ini semakin acuh pada sekitar, sosialisasi mereka tidak lagi pada orang-orang yang ada di samping kiri kanannya, tapi di sisi lain mereka juga terlihat lebih santun, lebih berbudaya, lebih mau antri, lebih tau tempat buang sampah, tidak suka merokok dan menghormati orang tua.
Halte demi halte terlewati lagi, para penumpang naik turun silih berganti, ku perhatikan kursi sudah penuh dengan orang-orang tua. Bus berhenti di halte selanjutnya, seorang lansia naik dan akupun berdiri, memberikan tempatku. Ku lihat sudah sampai Jambo Tape, ternyata setelah begitu banyak halte kami singgahi, aku kembali muda. []
Bus Pusaka, 4 September 2018