Selasa (12/9) pagi, setelah mengantar anak ke sekolah, saya bergegas ke warung SMEA, sebuah warung kopi di bilangan Lampineung, Banda Aceh. Tujuan saya cuma satu: ingin mencoba bubur kanji! Saya dengar dari teman-teman, warung kopi yang lokasinya persis di samping Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu menyediakan bubur kanji, salah satu jenis makanan Aceh yang kaya akan rempah-rempah.
Di Aceh, kuliner satu ini punya beberapa nama. Di Aceh Rayeuk, makanan yang menyerupai bubur ini disebut ie bu peudah; di Pidie dikenal dengan ie bu; dan di beberapa daerah diberi-nama ie bu kanji alias bubur kanji. Saya pikir perkara sebutan yang berbeda-beda itu cuma terletak pada penambahan isinya saja: disebut bubur kanji karena ditambah daging ayam atau udang di dalamnya.
Makanan ini jadi menu favorit selama bulan Ramadhan, dan sangat diburu para pecinta kuliner yang ingin menikmati sensasi berlebih terutama bagi yang bosan dengan menu berbuka yang terlalu mainstream. Di Pidie, makanan ini dimasak khusus di meunasah (surau) dan dibagikan gratis untuk orang berbuka. Hanya di bulan puasa pula kita begitu mudah mendapatkan kuliner khas warisan indatu ini.
Untuk menikmati bubur kanji di SMEA, saya merencanakannya secara khusus. Selain untuk mencicipi rasa juga ingin tahu berapa harga jual untuk satu mangkuknya. Sebagai orang yang berjualan kanji selama bulan puasa, saya ingin membandingkan harga dan rasa, jika sekiranya saya memilih berjualan kuliner ini di luar bulan puasa. Bagaimana hasilnya? Karena diolah dari jenis rempah-rempah yang sama, rasanya tidak jauh berbeda. Khusus untuk bubur kanji di warkop SMEA, saya pikir sedikit kurang santan.
Di SMEA saya memilih duduk di kursi yang berada di sudut dengan harapan bisa melihat siapa pun yang datang. Benar saja, berselang beberapa menit, saya melihat bang dengan menjinjing notebook Apple mungilnya masuk ke warung. Matanya jelalatan ke sana-sini seperti mencari tempat duduk yang pas. Lalu, saya berdiri untuk memberi isyarat agar bergabung dengan saya. Terus terang, saya sudah merencanakan bertemu bang Risman, seorang sudah sangat berpengalaman sebagai aktivis maupun penulis tenar di Aceh ini sejak semalam. Jadi, bertemu dengan bang Risman di SMea sama sekali tidak mengejutkan saya. Belakangan saya tahu, bos situs Acehtrend ini juga seorang pecinta bubur kanji.
Saya dan bang Risman termasuk pendatang baru di Steemit. Kami bergabung sekitar bulan Agustus. Tapi, bang Risman cukup aktif di Steemit dan sangat konsisten menulis sehingga level dan reputasinya lebih tinggi dari saya. Untuk hal ini saya pantas cemburu padanya.
Di sela-sela kami diskusi, datang bang Irfan M Nur salah satu dedengkot Steemian dari Aceh. Saya dan bang Risman banyak mencuri ilmu darinya. Banyak hal yang sebelumnya tidak kami tahu jadi sedikit lebih tahu. Ada beberapa trik yang dibagikan. Mudah-mudahan ilmu yang kami dapatkan pagi ini bisa kami praktekkan segera. Akhirnya, posting ini saya beri judul Bubur Kanji dan Steemit.