Saya siap salah, kak! Saya hanya bercerita saja tentang teman-teman yang memilih bekerja di warung kopi, dan mereka rupanya menghasilkan uang (tak hanya menghabiskan uang). Soal dunia Maya dianggap menjauhkan silaturahmi yang meminjam kata kak dibatasi oleh layar dan monitor memang benar, tapi tidak seluruhnya benar. Di Steemit ini, kita awalnya hanya kenal di alam Maya, namun segera tergerak untuk ketemu di alam nyata (kopi dan ngeteh darat), sesuatu yang saya pikir nilai ukhuwahnya sangat luar biasa. Saya banyak bertemu dan kemudian belajar hal baru pada kawan-kawan baru yang saya jumpai di alam Maya, termasuk Steemit.
Saya setuju, bahwa kita tidak boleh melulu memikirkan duit duit duit dan duit, dan jangan sampai dibutakan olehnya. Saya sepakat untuk sama2 menebarkan pengetahuan dan pengalaman agar bisa bersama2 belajar. Soal nanti dapat duit, anggap saja sebagai bonus.
Terima kasih kak atas komentar yang sangat panjang ini, dan saya pikir bakal jadi diskusi yang menarik jika komentar ini di-posting sebagai tulisan. Jadi, ada tulisan sandingannya. Tabik, kak!
RE: Steemit, Sebuah Tamparan untuk Rektor Jaman Now